Wanita Plus Size Sering Didiskriminasi di Tempat Kerja, Benarkah?

Intan Kemala Sari - wolipop Senin, 03 Okt 2016 18:03 WIB
Foto: Dok. ASOS
Jakarta - Wanita bertubuh plus size tak jarang mendapatkan diskriminasi di tempat kerja. Benarkah demikian? Hal itu terjadi kepada seorang wanita bernama Annette McConnell yang bekerja di sebuah perusahaan sebagai tim sales. Kariernya bisa dibilang sukses dan cemerlang, bahkan hingga mendapatkan penghargaan di kantornya.

Namun ia seringkali merasa diremehkan oleh managernya ketika sang manager menyinggung tentang berat badannya. Akhirnya ketakutannya pun terjadi. Managernya memberhentikannya karena para kliennya tidak ingin dilayani oleh wanita bertubuh besar.

Contoh diskriminasi itu juga didukung oleh sebuah riset dari American Psychological Association pada 2010 silam. Penelitian tersebut menemukan bahwa sekitar 60 persen wanita bertubuh besar mendapatkan diskriminasi dari tempat kerjanya. Wanita bertubuh besar juga tidak diinginkan sebagai bawahan, rekan kerja, dan atasan.

Mereka dipandang sebagai pribadi yang kurang memiliki kestabilan emosional dan kurang bersikap terbuka dari wanita lain yang memiliki berat badan normal. Padahal menurut para peneliti, pandangan tersebut salah dan tidak berlandaskan. Lebih lanjut, peneliti tersebut mengungkap hubungan antara berat badan, jenis kelamin, dan pendapatan.

"Wanita dengan berat badan rata-rata berpenghasilan kurang lebih US$ 389,300 (setara dengan Rp 5 Miliar) daripada wanita dengan berat badan 12 kg di bawah rata-rata," tulis laporan dari hasil penelitian itu.

Pada 2007 silam, Yale University melakukan penelitian kepada dua ribu wanita dengan berat badan di atas rata-rata. Hasilnya 53 persen responden menjawab bahwa rekan kerjanya memberikan perlakuan berbeda terhadap mereka dan 43 persen menjawab bahwa atasannya melakukan hal yang sama. Perlakuan tersebut berupa tidak mendapatkan promosi, kehilangan pekerjaan, tidak direkrut, hingga dilecehkan karena berat badannya.

"Diskriminasi berat badan dilaporkan telah terjadi selama beberapa dekade lalu, tetapi riset lebih lanjut membuktikan bahwa hal itu telah menjadi suatu yang umum dalam beberapa tahun terakhir," kata Rebecca Puhl dari Yale's Rudd Center for Food Policy and Obesity. (itn/itn)