ADVERTISEMENT

Intimate Interview

Lisa Soemarto, Perencana Keuangan yang Koleksi Hermes untuk Investasi

- wolipop Kamis, 03 Okt 2013 13:35 WIB
Dok. Pribadi Lisa Soemarto
Jakarta - Cantik, pintar, dan suka berbisnis, itulah yang menggambarkan sosok perencana keuangan ternama Indonesia, Lisa Soemarto. Sampai saat ini Lisa masih aktif di pasar modal serta menjadi trainer untuk para calon financial planner muda. Tidak hanya bisnis, ternyata wanita berambut sebahu itu juga mencintai dunia fashion. Bahkan ia juga menggabungkan antara kecintaannya terhadap bisnis dan fashion.

Ya, Lisa membangun bisnis fashion yang akan dirilis awal Januari 2014 di Prancis. Lisa memang sudah menyukai fashion sejak masih kuliah. Fashion baginya suatu kebutuhan dan investasi. Trainer International Association of Registered Financial Consultans (IARFC) itu juga mengaku mengoleksi tas dari label-label high-end yang bisa digunakan untuk investasi.

"Misalnya aku beli (Hermes) di sana tahun ini, tahun depan aku mau jual di Indonesia harganya bisa tiga kali lipat. Itu sudah investasi padahal baru setahun. Memang nggak semua tas, tapi bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi dari yang kita beli walaupun sudah dipakai setahun. Demikian juga dengan Chanel, Louis Vuitton," papar Lisa kepada Wolipop beberapa waktu lalu di Steakology, Tebet, Jakarta Selatan.

Menurut Lisa, membeli tas branded merupakan salah satu investasi untuk para wanita. Tas tersebut juga memiliki pangsa pasarnya sendiri. Lisa sudah mengumpulkan tas dari berbagai brand ternama seperti Hermes, Chanel, dan Louis Vuitton (LV) sejak masih kuliah. Awalnya ia hanya senang mengoleksi Chanel karena modelnya yang bisa digunakan sepanjang masa.

Seiring berjalannya waktu, Lisa tertarik dengan Hermes karena semakin disukai oleh fashionista dan mudah dijadikan investasi. Salah satu pemilik kafe Steakology ini mengatakan beberapa tas Hermes koleksinya ada yang sudah berumur lebih dari 15 tahun. Untuk mendapatkannya, ia langsung beli di Prancis karena kedua anaknya bekerja di negara tersebut. Lisa menuturkan, untuk mendapatkan satu tas Hermes itu tidak mudah, biasanya ada minimal pembelian setiap tahun.

"Ada kuotanya, misalnya ada 20 tas yang dikeluarkan hari ini tapi jatah orang Asia cuma lima. Jadi nggak boleh 20 tas dikasih ke orang Asia semua. Dan Dibatasi satu orang cuma beli satu tas Hermes Kelly atau Birkin dalam satu tahun walaupun nggak ada peraturan tertulis, ini yang cerita orang Hermes-nya sendiri," ujar Senior Partner dan Senior Advisor di Akbar's Financial Check-up itu.

Tas Hermes miliknya kini sudah cukup banyak dan dia juga mempunyai beberapa tas branded lainnya. Lisa pun menyediakan ruangan sendiri untuk menempatkan investasi fashion-nya tersebut. Sebagai pengoleksi Hermes, tentu Lisa tidak suka dengan hadirnya barang replika tas asal Prancis itu. Ia menyarankan kepada para wanita pecinta brand-brand high-end sebaiknya berhati-hati saat membeli tas branded seperti Hermes dari orang lain.

Cek dahulu tekstur kulit dan jahitan dalamnya. Tidak lupa meminta bon asli pembelian tas tersebut untuk menentukan keasliannya. Lisa menambahkan, lebih baik beli tas asli daripada palsu yang akan berguna ke depannya. Tas palsu tidak bisa dijual kembali setelah bertahun-tahun. Berbeda dengan tas asli yang laris manis di pasaran walaupun sudah dipakai lebih dari satu tahun.

"Sekarang banyak replikanya, kalau mau tahu asli harus dipegang kulitnya, lihat dalamnya, di sini jual-beli tas itu sangat ada pasarnya, pergerakannya juga cepat banget," kata Lisa di akhir perbincangan.


(aln/eny)