Viral Pria Lombok Nikahi 2 Wanita Sekaligus, Ini Kata Komnas Perempuan

Gresnia Arela Febriani - wolipop Senin, 02 Agu 2021 07:30 WIB
Viral pria yang menikahi dua wanita sekaligus di NTB. Foto: Dok. Facebook Doyok Potret.
Jakarta -

Beredar viral di media sosial tentang pria yang menikahi dua orang wanita sekaligus. Pernikahan tersebut terjadi di Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Foto pernikahan tersebut awalnya diunggah oleh akun Facebook Doyok Potret. Dalam video yang berdurasi 27 detik itu, terlihat momen acara akad nikah pengantin pria berpeci dan jas dengan dua orang pengantin wanita berbaju putih.

Dalam pengakuannya, Korik mengatakan tidak merencanakan untuk menikahi Khusnul dan Yun secara bersamaan. Menurutnya, pernikahan poligami sekaligus itu karena takdir.

"Tidak pernah ada rencana, tapi ini adalah jodoh," kata Korik seperti dilansir Antara, Rabu (28/7/2021). Saat diwawancara dengan didampingi dua istrinya, Korik menebar senyum.

Korik mengaku awalnya mengenal Nitanuri pada 2016. Setelah bercerai, Korik menjalin asmara dengan Nitanuri. Pada saat bersamaan, Korik berpacaran dengan Khusnul sejak 2011.

Korik lalu mengajak Nitanuri dan Khusnul menikah. Namun Korik tidak bilang kepada dua kekasihnya soal poligami.

Nitanuri dan Khusnul bertemu untuk pertama kali saat akad nikah berlangsung. Dan menurut pengakuan sang mempelai pria, kedua wanita yang dinikahinya tu bersedia dipoligami.

"Saya tidak kasih tahu. Setelah di rumah, keduanya baru tahu mereka dimadu," ujar Korik. "Kita sama-sama pernah menikah. Namun telah cerai," tambahnya.

Komnas Perempuan: Poligami Adalah Kekerasan Pada Perempuan

Pernikahan viral pria menikahi dua wanita sekaligus itu ditanggapi oleh Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan). Menurut Dr. Imam Nahe'i, Komisioner Komnas Perempuan, pernikahan tersebut termasuk praktik poligami.

"Praktik poligami adalah bentuk kekerasan terhadap perempuan. Mengapa demikian? Karena dalam prakteknya poligami seringkali menimbulkan kekerasan bukan hanya pada istri, tetapi juga pada anak anak dan bahkan juga keluarga," kata Imam Nahe'i kepada Wolipop Kamis (29/7/2021).

Imam Nahe'i mengatakan jika poligami sering dilakukan dengan tipu daya, secara sembunyi dan bahkan pemalsuan pemalsuan identitas. Seperti yang dilakukan oleh Korik di mana dia tidak memberikan informasi pada pasangan bahwa akan dipoligami. Hal ini menurut Komnas Perempuan adalah bentuk kekerasan terhadap perempuan.

Viral pria yang menikahi dua wanita sekaligus di NTB.Viral pria yang menikahi dua wanita sekaligus di NTB. Foto: Dok. Facebook Doyok Potret.

"Iya, berarti lelaki itu telah melakukan kekerasan, setidaknya kekerasan psikis pada pasangannya. Seharusnya perempuannya ditanya apakah ia dalam posisi sadar dan nyaman semacam itu," jelasnya.

Dijelaskannya, dalam general rekomendasi CEDAW (The Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women), bahwa perempuan harus diperlakukan setara dan adil di dalam perkawinan. Seorang perempuan tidak boleh berada dalam situasi yang terpaksa. Agama juga mengajarkan seperti itu. Menikah seharusnya ada persetujuan bebas, tanpa tekanan dari pihak manapun.

Ketika kedua istri tersebut bersedia dipoligami dalam situasi tersebut, Imam menjelaskan jika kata "menerima" harus didalami. Apakah wanita tersebut menerima dalam situasi bebas dari tekanan pihak lain atau tekanan sosial.

"Bisa jadi ia menerima karena menjaga nama baik keluarga, menjaga nama baik masyarakatnyaĜŒ yang sesungguhnya ia tidak menginginkannya. Jadi relasi kuasa dan relasi gender yang timpang sering kali menjadikan perempuan harus menerima apa yang ia tidak kehendaki demi menjaga kepentingan orang lain itu," ujarnya.

Menurut Imam kedua istri Korik tersebut yang cenderung pasrah dipoligami. Padahal setiap orang pasti menghendaki pernikahan yang ideal menurutnya. Dan perempuan pasti menginginkan hanya ia pasangan dari suaminya.

"Jika ia (mau) dipoligami, maka penting dilihat dalam situasi kondisi seperti apa ia. Perempuan itu sering kali rela mengorbankan dirinya demi menjaga moralitas keluarga, apalagi disertai dalil dalil agama. Jadi saya melihat hakikatnya tidak ada perempuan yang rela hatinya dipoligami," lanjut Imam.

Viral pria yang menikahi dua wanita sekaligus di NTB.Viral pria yang menikahi dua wanita sekaligus di NTB. Foto: Dok. Facebook Doyok Potret.

Apakah dalam kasus poligami ini latar belakang pendidikan berpengaruh dalam mengambil keputusan, Imam mengatakan terkadang pendidikan tidak berpengaruh.

"Karena kuatnya budaya patriarki yang meletakkan perempuan sebagai subordinat setinggi apapun pendidikannya. Jika kita melihat korban korban KDRT atau kekerasan seksual, faktor pendidikan tidak hanya pengaruhnya baik ia sebagai pelaku maupun korban," lanjut Imam lagi.

Lantas bagaimana masyarakat sebaiknya menanggapi kejadian seperti ini? Imam menegaskan jika sangat penting pendidikan publik yang berkeadilan dan berkesetaraan gender.

"Penting membangun kesadaran bahwa ada ketidakadilan relasi laki-laki perempuan yang harus terus diperjuangkan. Kehadiran Komnas Perempuan dan NGO-NGO yang bergerak diisu perempuan sesungguhnya berupaya untuk membangun keadilan dan kesetaraan itu, sehingga perempuan mendapatkan hak haknya sebagai manusia maupun hak haknya sebagai warga negara," tutur Imam panjang lebar.

(gaf/eny)