Liputan Khusus

Biaya yang Harus Dikeluarkan Untuk Bikin Perjanjian Pranikah

- wolipop Jumat, 08 Mar 2013 09:11 WIB
dok. Thinkstock
Jakarta - Kini sudah banyak pasangan di Indonesia yang membuat perjanjian pranikah sebelum melangsungkan pernikahan. Umumnya perjanjian tersebut dibuat untuk menjaga harta mereka. Namun ternyata tidak hanya harta saja yang bisa diatur, hak dan kewajiban pun dapat dituliskan dalam perjanjian tersebut.

Maka dari itu Anda dianjurkan sebaiknya membuat perjanjian pranikah agar jika terjadi sesuatu dengan pernikahan, sudah diatur secara jelas yang telah disahkan oleh hukum. Jika ingin membuatnya, Anda perlu menyiapkan budget khusus supaya tidak kewalahan nantinya. Kira-kira berapa biaya yang harus dikeluarkan?

Pengacara Ade Novita menuturkan, biaya yang dipakai untuk membuat perjanjian tidak begitu besar. "Nggak gede sih sebenarnya, kalau notaris paling Rp 2 juta sampai Rp 3 juta," tutur Ade Novita, S. H., selaku pengacara, kepada wolipop di Universitas Atma Jaya, Semanggi, Jakarta Selatan, Senin (4/3/2013).

Perjanjian pranikah memang hanya disahkan oleh notaris tidak perlu ke pengadilan. Format dan pengesahan notaris sudah kuat untuk membuat akta perjanjian pranikah. Namun bila memakai jasa konsultan hukum saat pembuatannya tentu biayanya akan bertambah.

Bahkan bila dirasa perlu, bisa datang ke psikolog dan perencana keuangan untuk membantu mereka menyusun perjanjian pranikah. Dengan bantuan para ahli itu, pasangan yang akan menikah lebih mudah menemukan ketidakcocokan. Hal ini tentu meudahkan serta menguatkan perjanjian pranikah kalian.

Perjanjian minimal dibuat dua bulan sebelum acara pernikahan, jauh-jauh hari akan semakin baik. Ade menyarankan, sebaiknya enam bulan sebelum menikah karena bila sampai tidak jadi menikah bisa melakukan tindakan-tindakan lain agar keluarga tidak saling tersakiti.

"Minimal dua bulan ya sebelum menikah, kalau sudah punya rencana langsung bikin saja, jadi isinya bisa di-review terus mereka bisa nulis sendiri dulu. Mereka bisa mikir lebih lama lagi," saran wanita lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia itu.


(aln/kik)