Intimate Interview

Nila Tanzil Berbagi Pengalaman Nikmatnya Traveling Sendirian ke 32 Negara

Daniel Ngantung - wolipop Rabu, 11 Nov 2015 08:12 WIB
Foto: Daniel Ngantung/Wolipop Foto: Daniel Ngantung/Wolipop

Jakarta - Ada kenikmatan tersendiri yang travel blogger Nila Tanzil rasakan ketika solo traveling alias berpelesir sendirian. Dengan solo traveling, Nila menemukan makna sejati dari melancong yakni belajar memaknai hidup dengan bersyukur dan berbagi.

Ditemui Wolipop di acara Nutrifood Leadership Award 2015 di kawasan Thamrin, Selasa (10/11/2015), wanita 37 tahun itu sempat bercerita tentang kegemarannya berpelesir seorang diri.

"Sudah 32 negara aku kunjungi. Hampir 99 persennya solo traveling," kata Nila.

Bagi Nila, bukan berlibur namanya jika tidak merasakan langsung budaya setempat. Berinteraksi dengan warga lokal serta menyaksikan upacara-upacara tradisional sudah menjadi agenda wajibnya. Wisata belanja bukanlah tujuan utama Nila seperti kebanyakan wisatawan. Maka itu, ia memilih berpergian sendiri supaya lebih leluasa mengeksplor lokasi-lokasi yang kental budaya lokalnya.

"Pas traveling, aku lebih senang pergi ke pasar, ngobrol sama pedagang, atau nongkrong di kuil-kuil bareng biksu daripada menghabiskan waktu dengan belanja," kata ibu dua anak itu.

Begitulah yang dilakukan Nila saat bertandang ke Myanmar. Ia bahkan sempat hiking bersama para biksu. Di Srilanka, ia pernah diajak secara spontan oleh seorang ibu yang tengah berulang tahun untuk menikmati makan malam di rumahnya. Padahal, Nila baru saja mengenal ibu tersebut di perayaan Festival Bulan Pernama.

Dari perjalan seperti itu, banyak pelajaran hidup yang ia petik, terutama tentang pentingnya berbagi. Nila mengisahkan, di tengah perjalanan mendakinya, ia sempat melihat penghuni sebuah gubuk memberikan makanan kepada seorang biksu. Beberapa saat setelah meninggalkan gubuk yang atapnya hampir runtuh itu, sang biksu bertemu anak-anak lalu membagikan makanan tersebut kepada mereka.

Baca Juga: 50 Foto Before-After Selebriti yang Operasi Plastik

Pengalaman serupa ia alami juga sewaktu mengiyakan ajakan makan malam ibu yang baru dikenalnya di Srilanka tadi. Perjalanan yang penuh kesan sudah dimulai saat menuju rumah. Bersama empat anaknya, mereka mengendarai bajaj yang disupiri sang suami.

"Bayangkan saja kami bertujuh naik bajaj," kenang Nila sambil tertawa lebar. Di sela perjalanan, sang ayah meminta anaknya mampir ke sebuah warung untuk membeli minuman dan makanan ringan hanya untuk Nila. Sampai di rumah, keluarga itu menjamunya bak ratu.

"Aku sempat disajikan cokelat. Aku tahu itu mereka jarang menikmatinya karena bagi mereka itu mahal. Di situ saya belajar the art of giving," ujarnya.

Pengalaman berkesan itu, lanjut Nila, membuktikan bahwa manusia di saat kekurangan pun masih bisa memberikan yang terbaik bagi sesama. Lantas, terbersit di benaknya sebuah pertanyaan: sejauh apa kontribusi seorang Nila kepada masyarakat?

Sebuah perjalanan ke Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, menjadi puncak motivasi Nila untuk berbagi kepada sesama. Kala itu, ia sempat melihat anak-anak daerah pergi bersekolah hanya berbekal sebuah kantung plastik yang berisi pensil dan buku tulis. Meski hidup dalam keterbatasan, mereka tetap bersemangat.

"Pemandangan itu mengilhamiku untuk mendirikan Taman Bacaan Pelangi," kenang Nila yang meninggalkan profesinya sebagai kepala komunikasi di sebuah perusahaan swasta demi fokus mengembangkan taman bacaannya.

Dimulai dengan satu lokasi dan 200 buku, Taman Bacaan Pelangi yang resmi hadir pada Desember 2009 kini sudah tersebar 37 lokasi di 14 pulau di Indonesia Timur, antara lain di Flores, Komodo, Sumbawa, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Selain warga lokal, Taman Bacaan Pelangi juga melibatkan warga asing sebagai sukarelawan.


(dng/hst)