Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Gen Z Lebih Percaya Review 'Orang Biasa' daripada Influencer saat Beli Produk

Hestianingsih Hestianingsih - wolipop
Rabu, 25 Mar 2026 13:30 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

ilustrasi wanita berbelanja
Foto: Getty Images/onuma Inthapong
Jakarta -

Maraknya konten influencer di media sosial ternyata tidak serta-merta membuat Gen Z langsung percaya. Generasi ini semakin selektif, dan kini lebih mengandalkan ulasan jujur dari sesama konsumen, sebelum memutuskan membeli produk.

Berdasarkan riset terhadap 2.000 responden yang dilakukan oleh Walr untuk We are Talker, sebanyak 72% Gen Z menganggap review pelanggan atau konsumen sebagai sumber paling kredibel ketika bicara soal performa dan kualitas produk dari suatu brand.

Temuan ini menunjukkan bahwa audiens muda kini lebih mengutamakan validasi dari pihak ketiga, seperti riset independen, opini ahli, hingga ulasan sesama pengguna, dibandingkan konten dari influencer. Dalam studi bertajuk Gen Z Brand Credibility Study 2026, ulasan pelanggan menempati posisi teratas (72%) sebagai faktor yang paling dipercaya dalam menentukan apakah sebuah brand layak dibeli produknya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Posisi berikutnya, riset independen dan survei (68%) serta opini ahli (68%) menjadi faktor yang juga berpengaruh besar. Sementara itu, artikel berita berada di peringkat keempat, dengan 58% responden mengaku liputan jurnalistik membantu mereka menilai kredibilitas sebuah brand.

Sebaliknya, konten yang berasal langsung dari brand dinilai kurang meyakinkan. Iklan dan media sosial brand masing-masing hanya mendapat tingkat kepercayaan 57%, sedangkan konten influencer berada di angka 55%.

ADVERTISEMENT

Bahkan, kampanye PR atau aktivasi brand dianggap paling tidak kredibel, dengan hanya 46% yang mempercayainya.

"Brand saat ini membangun kepercayaan melalui validasi dari pihak luar. Survei kami menunjukkan bahwa audiens muda lebih percaya pada review, riset, dan opini ahli dibanding pesan promosi," ujar CEO We are Talker Tim Haslam, seperti dikutip dari New York Post.

Survei ini juga mengindikasikan bahwa meskipun influencer marketing berkembang pesat dalam satu dekade terakhir, Gen Z mulai semakin skeptis terhadap promosi berbayar dan lebih memilih sumber yang dianggap autentik.

Ketika ditanya faktor yang mendorong mereka untuk benar-benar mengambil tindakan, misalnya follow, daftar, atau membeli, Gen Z menyebut informasi yang jelas dan berguna sebagai faktor utama (37%). Menariknya, melihat 'orang nyata membicarakan produk' (35%) menjadi faktor kedua yang paling berpengaruh.

Survei ini pun membuka perspektif baru dalam strategi pemasaran. Gen Z lebih tertarik pada perspektif yang terasa jujur dan asli, dibandingkan konten yang terlihat terlalu 'di-setting' atau didorong kepentingan komersial.

(hst/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads