ADVERTISEMENT

Mengenal Istilah Kidults, Tren Orang Dewasa Beli Mainan untuk Balas Dendam

Rahmi Anjani - wolipop Senin, 26 Des 2022 15:33 WIB
Rear view of a man at toys department in  local shopping mall. Foto: Getty Images/iStockphoto/gilaxia
Jakarta -

Menyambut musim Natal dan tahun baru, toko mainan menjadi salah satu tempat belanja yang ramai diserbu. Selain anak-anak, para orang dewasa juga sering kali terlihat di sana. Bukan hanya ingin mencarikan hadiah untuk anak atau keponakan, tak sedikit yang memang membelikan untuk diri sendiri. Fenomena itu disebut sebagai kidults.

Baru-baru ini istilah kidults jadi viral di media sosial. Muncul menjelang Natal dan tahun baru, fenomena kidults disebut menjadi salah satu pasar terbesar industri mainan. Menurut laporan NPD Group, orang-orang dewasa semakin sering membeli mainan anak-anak sejak pandemi Corona meski sudah muncul sejak 10 tahun lalu. Salah satu alasannya adalah untuk balas dendam.

"Selama dua tahun terakhir, melewati pandemi, orang-orang dewasa benar-benar tertarik dengan mainan dan game, bukan hanya menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga, yang mana mereka melakukan itu di rumah, tapi juga untuk meredakan stres dan semacam kabur dari kenyataan," kata Jennifer Lynch dari The Toy Association.

"Aku pikir ada semacam nostalgia. Kita melihat waktu di mana orang dewasa mungkin berpikir itu untuk anak-anak lalu ketika menyentuh barang-barang anak-anak, mereka menginginkannya untuk diri mereka sendiri," tambahnya.

Dilansir Today Show, selama 2022 terjadi peningkatan pembelian mainan pada millennial bahkan generasi lebih tua. Beberapa mainan yang populer seperti board game, merchandise koleksi, dan puzzle. Hal lain yang membuktikan tren ini adalah munculnya film Barbie arahan Greta Gerwig, gaya Y2K hingga banyak orang dewasa beli happy meals di McDonalds.

Para kidults sendiri mengakui bahwa mereka suka membeli barang anak-anak karena nostalgia dan sebagai bentuk balas dendam. Banyak orang dewasa yang juga baru bisa atau punya uang untuk mengakses mainan-mainan itu. Adapun yang merasa mencapai sesuatu ketika bisa menyelesaikan mainan seperti Lego atau puzzle.

"Kita mendorong anak-anak untuk cepat dewasa dengan mengenalkan mereka pada seks di usia muda dari sekolah. Itu tidak membantu anak-anak jadi dewasa. Itu berdampak berlawanan jadi mereka bersikap seperti anak-anak ketika dewasa,"

"Mainan-mainan itu sangat cocok untuk orang dewasa. Aku membangun Lego untuk waktu sendiriku juga untuk melatih kesabaran," kata para penggemar mainan.

(ami/ami)