Senin, 19/03/2018 17:57 WIB

Intimate Interview

Kisah Sukses CEO Wardah, dari Bisnis Rumahan Jadi Perusahaan Multinasional

Eny Kartikawati - wolipop
Kisah Sukses CEO Wardah, dari Bisnis Rumahan Jadi Perusahaan Multinasional Nurhayati Subakat dan Salman Subakat. Foto: Dok. Wardah
Jakarta - Siapa yang kini tak tahu merek Wardah. Padahal dulu 33 tahun saat baru berdiri, produk kosmetik ini dijajakan dari rumah ke rumah. Chief Executive Officer (CEO) PT Paragon Technology and Innovation, Dra. Nurhayati Subakat, Apt. dan Chief Marketing Officer PT Paragon Technology and Innovation Salman Subakat berbagi cerita kepada Wolipop bagaimana Wardah bisa berkembang hingga kini menjadi perusahaan multinasional.

Bahkan pada 2018 ini Wardah mencatat sebagai perusahaan kosmetik nomer satu di bidang penjualan moisturizer atau pelembab. Wardah berhasil mengalahkan merek kosmetik lainnya yang banyak hadir di Indonesia.

"Tahun ini bisa menang untuk penjualan mosturizer dengan perusahaan multinasional lainnya. Alhamdulillah berkat kepercayaan masyarakat seri moisturizer Wardah menjadi nomer satu (penjualannya)," ujar Nurhayati saat berbincang dengan Wolipop belum lama ini di kantornya, PT Paragon Technology and Innovation, di Jl. Swadharma Raya No.60, Kampung Baru III, Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Kesuksesan Wardah tentu saja bukan hanya dari penjualan mereka yang produk pelembabnya bisa menduduki nomer satu. Begitu banyak pencapaian Wardah yang sebelumnya dibangun dari bisnis rumahan. Berikut wawancara Wolipop dengan Nurhayati Subakat dan Salman Subakat:

Wolipop: Bagaimana ceritanya bisa membuat merek Wardah?

Nurhayati Subakat: Pertama sebenarnya saya membuat merek Putri, itu produk salon. Baru Wardah, kemudian Makeover dan terakhir Emina. Saya sebelumnya pernah bekerja di Wella Cosmetic dari tahun 1979 sampai 1985. Setelah di Wella lima tahun, CEO baru meminta saya bekerja full time. Sebelumnya waktunya lebih fleksibel. Anak-anak masih kecil, anak saya sampai tiga waktu bekerja di sana, kebayang repotnya karena saya tinggal di daerah dekat-dekat sini (Ulujami, Jakarta Selatan), sementara bekerja di Bogor. Akhirnya saya memilih mundur.

Dengan latar belakang saya lulusan terbaik farmasi ITB (Institut Teknologi Bandung) dan di Wella lima tahun, pada 1985 saya bikin Putri, skala home industry. Walaupun home industry, produknya berkualitas tapi harga bersaing. Modal uang saat itu nggak besar. Tapi saya punya rumah dan mobil sebagai aset. Mobil untuk jualan dan rumah untuk produksi.

Awalnya saya jual Putri di salon-salon pinggiran daerah Tangerang. Putri berkembang terus. Lalu ada kenalan, kenapa nggak buat produk Islami. Pada 1995 saya membuat Wardah. Nama itu karena dasarnya ingin Islami, jadi kiblatnya ke Arab. Saat itu ada tiga nama yang didaftarkan ke kantor merek, saya lupa aja saja. Yang saya ingat yang diterima Wardah. Wardah itu artinya bunga mawar.

Chief Executive Officer (CEO) PT Paragon Technology and Innovation, Dra. Nurhayati Subakat, Apt. Chief Executive Officer (CEO) PT Paragon Technology and Innovation, Dra. Nurhayati Subakat, Apt. Foto: Dok. Wardah


Wolipop: Setelah dirilis apakah Wardah langsung sukses?

Nurhayati Subakat: Wardah dulu susah jualnya nggak langsung sukses. Kita jual lewat berbagai cara direct selling, lewat MLM (Multi Level Marketing). Kemudian generasi kedua masuk Salman dan pada 2003 MLM turun. Kita perbaiki sistem Wardah. Pada 2004 sudah mulai diperbaiki brandingnya. Pada 2009 kita re-branding besar-besaran. Setelah itu penjualan naik terus. Malah 2012 pernah sampai 100%.

Sekarang Paragon juga punya lebih dari 7.500 karyawan terbaik di bidangnya di seluruh Indonesia. Setiap tahun, kapasitas produksi kami lebih dari 95 juta produk personal care dan make up.

Untuk pabrik kami punya 15 hektar dan baru saja tambah lagi empat hektar di Jatake, Tangerang.

Wolipop: Seperti apa culture atau budaya kerja di Wardah sehingga perusahaan ini kini menjadi sukses?

Nurhayati Subakat: Sebenarnya culturenya sudah terbentuk sejak awal. Diteruskan oleh generasi kedua ketiga diteruskan. Saat karyawan sudah tambah banyak kita membuat agent of changes agar culture ini tetap terjaga. Culture kami: ketuhanan, keteladanan, kekeluargaan, tanggungjawab, fokus pada pelanggan, dan inovasi.

Salman Subakat: Yang paling penting keteladanan. Dan juga customer focus. Dengan customer yang semakin demanding, kita harus mempertahankan apa yang sudah kita kuat dan memperbaiki apa yang perlu kita tingkatkan lagi.

Nurhayati Subakat: Dalam keteladanan, saya sebagai CEO dan BOD lain selalu bekerja dengan disiplin, kerja keras, mengutamakan kejujuran. Dan bagaimana kami bisa memberikan keteladanan itu ke bawah.

Baca Juga: Wardah Berbagi Inspirasi Kebaikan Lewat Kampanye Cantik dari Hati

Wolipop: Dalam berbagai kesempatan ibu sering bilang salah satu kunci sukses Wardah adalah pertolongan Allah SWT, kenapa demikian?

Nurhayati Subakat: Memang banyak orang bertanya bagaimana Wardah bisa melejit. Saya selalu bilang selain karena formula 4P (Product, Pricing, Positioning, Promotion) juga ada 1P yaitu pertolongan dari Allah SWT. Karena pada 2009 kita melakukan re-branding Wardah, pada tahun itu juga hijabers booming. Momennya pas, kita pun melejit.

Sekarang ini pun kita bersaing dengan perusahaan multinasional lain. Tapi kita tahun ini bisa menang satu kategori dengan multinasional lain yaitu kategori pelembab wajah. Itu karena orang-orang secara ikhlas mempromosikan Wardah di seminar - seminar, pengajian - pengajian. Secara spontan mereka menyebut nama Wardah.

Dian Pelangi, Brand Ambassador Wardah.Dian Pelangi, Brand Ambassador Wardah. Foto: Silmia Putri/Wolipop


Wolipop: Wardah sudah 33 tahun berdiri dengan banyak pencapaian sukses. Apalagi yang ingin dicapai ke depannya?

Nurhayati Subakat: Obsesi dalam hidup saya ingin Wardah menjadi global brand. Masuk sebagai 10 besar brand kosmetik di dunia. Sekarang semua langkah yang kami lakukan menuju ke sana.

Salman Subakat: Paragon itu juga selalu concern dalam hal pendidikan. Ibu misalnya dengan berbagai beasiswa yang diberikan ke kampus dan organisasi. Saya melalui program bantu guru belajar lagi. Kenapa pendidikan karena masalah pendidikan di Indonesia itu luas.

Kami juga mendorong wanita menjadi entrepreneur. Semangat entrepreneurship didorong banget di sini dengan belajar makeup kemudian menjadi makeup artist. We actualy the biggest makeup school di Indonesia.

Baca Juga: Raline Shah Jadi Brand Ambassador Wardah, Merasa Seperti Bertemu Jodoh

Wolipop: Sejak awal berdiri Wardah menggandeng desainer fashion khususnya busana muslim. Hingga sekarang sudah sukses pun Wardah terus berkolaborasi dengan para desainer fashion. Ada alasan khusus kenapa berkolaborasi dengan desainer?

Salman Subakat: Dulu industri kosmetik nggak besar, baru dua pemain lokal. Di global pun bukan industri yang sebesar makanan. Mau nggak mau kita ciptain sendiri brand image kita. Kita pilih fashion karena fashion dan makeup nggak bisa dipisah-pisahkan. Kita melihat orang-orang fashion sebagai sumber kreativitas. Dan ketika orang ganti-ganti baju, makeupnya juga ganti. Akhirnya keterusan sampai sekarang, jadi passion kita, terutama untuk busana modest. Impactnya memang tidak langsung, untuk brand image.

Pemerintah juga meminta kita untuk bantu industri fashion. Sekarang ini orang bilang proporsi kita di fashion sudah berlebihan. Tapi kita memang ingin membantu. Jadi sesuatu yang membanggakan ketika hijab booming, ikonnya orang Indonesia. Kita ingin menjaga mereka tetap di sana. Dian Pelangi misalnya dikenal di dunia internasional sebagai ikon dari Indonesia.

Wolipop: Apakah ibu dan bapak ada tips untuk orang-orang yang baru saja membangun bisnis?

Nurhayati Subakat: Tipsnya kerja keras, pantang menyerah dan sabar. Sekarang ini banyak orang nggak sabar, pengin cepet-cepet gede.

Salman Subakat: Start small, think big, move fast.

(eny/eny)

Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com,
Telepon 021-7941177

Wolipop's Social Media

@ redaksi@wolipop.com