Jumat, 09/02/2018 12:40 WIB

Filosofi Kehidupan di Balik Songket Pucuk Rebung yang Dibeli Jokowi

Daniel Ngantung - wolipop
Filosofi Kehidupan di Balik Songket Pucuk Rebung yang Dibeli Jokowi Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Di balik keindahannya, banyak motif wastra Nusantara yang sarat akan makna kehidupan. Tanpa terkecuali, motif pucuk rebung pada songket khas Silungkang yang dibeli Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ibu Negara Iriana Jokowi.

Di sela perjalanan ke Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Jokowi beserta rombongan, sempat berbelanja songket di sebuah toko kain di Silungkang, Sawahlunto, Kamis (8/2/2018).

Pilihan pun jatuh pada tiga lembar kain songket bermotif Pucuk Rebung yang bentuknya menyerupai segitiga tinggi berjejer. Masing-masing berwarna putih, ungu, dan krem.

"Itu bahan baju. Songket Silungkang. Harganya Rp 350 ribu. Pak Jokowi ambil tiga, total jadi Rp 1.050.000. Motifnya ada Pucuk Rebung," kata Zulhaidah, pegawai toko yang melayani Iriana.

Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana Jokowi saat membeli kain songket silungkang di Solok Sumbar, Kamis (8/2/2018)Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana Jokowi saat membeli kain songket khas Silungkang di Solok Sumbar, Kamis (8/2/2018). (Foto: Ray Jordan/detikcom)

Pucuak Rabuang, begitu warga lokal menyebutnya, merupakan salah satu motif sakral bagi masyarakat Minangkabau.

Dalam tulisan dosen Universitas Negeri Padang Agusti Efi Marthala yang berjudul "Songket Minangkabau, Teknik dan Filosofi", motif pucuk rebung disebut sebagai lambang kehidupan berguna.

Evolusi bambu, dari muda hingga tua, mencerminkan proses kehidupan manusia menuju pribadi yang bermanfaat. Rebung adalah anak atau bambu muda yang biasa dijadikan bahan sayuran atau gulai.

Rebung dibungkus dengan kelopak yang berbulu halus. Bila ditarik pada garis kehidupan manusia, rebung disejajarkan dengan balita yang harus dirawat dengan baik.

Dari rebung lalu menjadi bambu besar dan berbatang lurus, yang disebut betung atau 'batuang'. Sifatnya yang lentur membuat bambu jenis ini mudah dibentuk sehingga sering dipakai sebagai bahan kraf tangan menjadi perlengkapan rumah tangga.

Pengunjung mengamati songket khas Minang di Pameran Wastra Antik di Pejaten House, Jakarta Selatan, beberapa tahun silam.Pengunjung mengamati songket khas Minang di Pameran Wastra Antik di Pejaten House, Jakarta Selatan, beberapa tahun silam. (Foto: Rachman Haryanto/detikcom)
Batang yang lurus diibaratkan manusia yang beranjak remaja dan mengejar cita-cita yang tinggi dalam menuntut ilmu. Lalu bambu yang tumbuh tinggi mulai ujungnya melengkung ke bawah dan tumbuh ranting-ranting satu persatu dan daunnya menjadi rimbun dan ujungnya semakin merunduk. Proses tersebut menggambarkan manusia sudah mulai bertanggung jawab pada diri dan lingkungannya serta keluarga.

Semakin tua, bambu semakin kuat. Ruyung, begitu sebutan untuk bambu tua, kerap menjadi tiang, lantai atau dinding rumah. Daunnya yang mulai menguning dan ujung bambu yang semakin merunduk ke bumi dimaknai sebagai sikap rendah hati. Meski sudah berilmu banyak, manusia akan kembali ke asalnya dan mengingat asal-usulnya.

Pada puncak usianya, bambu mengeluarkan bunga pertanda kematangan usia. Selan itu, bunga merupakan lambang kematian yang meninggalkan nama baik.

Seperti peribahasa "Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama."

(dtg/dtg)

Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com,
Telepon 021-7941177