Selasa, 23/01/2018 16:32 WIB

Tren Istri Umbar Kelakuan Pelakor Ternyata Ada Manfaatnya, Ini Kata Psikolog

Daniel Ngantung - wolipop
Tren Istri Umbar Kelakuan Pelakor Ternyata Ada Manfaatnya, Ini Kata Psikolog Foto: Thinkstock
Jakarta - Mengumbar masalah perselingkuhan pasangan di media sosial sepertinya sudah menjadi hal yang lumrah saat ini. Apakah ini cara jitu untuk memberi efek jera pada pelakunya?

Belum lama ini, sempat viral screenshot percakapan antara istri dengan selingkuhan suaminya melalui layanan pesan singkat Whatsapp. Percakapan tersebut diunggah di Facebook, tertanggal 14 Januari, oleh Whuland Sari, yang adalah si istri.

"Bukan mau buka aib atau apapun .. tapi cuma mau pesen buat siapapun wanita diluar sana ya mbok kalo mau ngapa2in dipikir dulu.. jangan jadi WANITA BODOH dan ga punya HARGA DIRI.. Udah jadi PELAKOR tapi ujung2nya begini.. ironis sih.. klo kejadiannya begini musti gimana cobaa.." tulis Whuland Sari sebagai keterangan kumpulan foto screenshot tersebut.

Unggahan Whuland Sari soal percakapannya dengan selingkuhan suaminya yang sempat viral.Unggahan Whuland Sari soal percakapannya dengan selingkuhan suaminya yang sempat viral. (Foto: istimewa)

Unggahan tersebut memperlihatkan sikap Whuland yang sebenarnya sudah mengikhlaskan suaminya menikah dengan sang pelakor (perebut laki orang). Hanya saja, persoalannya adalah Whuland belum resmi bercerai dari suaminya. Sementara pernikahan pelakor dengan pria tersebut akan berlangsung kurang dari sebulan lagi.

Whuland meminta sang pelakor untuk menunda pernikahannya hingga proses perceraiannya selesai karena ia tidak mau dipoligami. Namun, wanita tersebut menolak lantaran harus cepat menikah mengingat sudah berbadan dua alias hamil.

Kasus seperti ini bukan yang pertama. Banyak unggahan serupa yang sempat viral di jagat media sosial. Isinya kurang lebih seputar curhatan istri, suami, atau pacar, yang membongkar perselingkuhan pasangannya.

Mengumbar aib rumah tangga ke ranah publik, seperti media sosial, mungkin bisa memberikan efek jera pada sang pelaku. "Tapi ini sangat bergantung pada nilai-nilai yang dipegang oleh pelaku, dalam hal ini si perempuan yang menjadi perusak hubungan ini," kata Psikolog Keluarga Ayoe Sutomo kepada Wolipop baru-baru ini.

Namun di sisi lain, 'memviralkan' dapat menjadi wadah bagi korban untuk melampiaskan stres. Ayoe mengatakan, stres dan marah karena dikhianati oleh pasangan merupakan bentuk emosi negatif.

"Emosi, apapun itu bentuknya, negatif atau positif, harus tersalurkan. Dan menurut penelitian, emosi negatif lebih urgent untuk diekspresikan. Maka untuk kasus ini, memviralkan bisa menjadi stress-relief, itu benar," terang Ayoe. (dtg/dtg)

Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com,
Telepon 021-7941177