Kamis, 16/11/2017 09:46 WIB

Pesona Tenun Sumba dalam Karya Terbaru Biyan Wanaatmadja

Daniel Ngantung - wolipop
Pesona Tenun Sumba dalam Karya Terbaru Biyan Wanaatmadja Foto: Dok. Mohammad Abduh/Wolipop
Jakarta -

Keindahan Indonesia selalu mengilhami Biyan Wanaatmadja dalam berkarya. Namun Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) mendapat tempat yang spesial di hati sang desainer. Ia meluapkan cintanya itu dalam peragaan bertajuk 'Humba Hammu' di Dharmawangsa Hotel, Jakarta, Rabu (15/11/2017).


"Yang saya rasakan sekarang, saya lagi jatuh cinta sama Sumba," ucap Biyan saat jumpa pers jelang peragaan.


Humba Hammu dalam bahasa Sumba dapat bermakna sebagai Sumba yang cantik. Sebenarnya sudah lama Biyan menganggumi kecantikan Sumba, terutama warisan budaya wastranya yang hadir dalam bentuk tenun ikat.


Tapi cintanya pada tenun Sumba baru dapat ia 'utarakan' secara langsung setelah Bank Indonesia menggandengnya dalam program pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah bagi para perajin tenun di Sumba.


"Persiapannya 3,5 bulan, cukup cepat. Tapi yang namanya orang lagi jatuh cinta, pasti semua dijabani," ungkap alumnus London College of Fashion itu sambil tersenyum.


Pesona Tenun Sumba dalam Karya Terbaru Biyan WanaatmadjaFoto: Dok. Mohammad Abduh/Wolipop


Tidak tanggung-tanggung, Biyan yang tadinya hanya ingin menampilkan sekitar 40 set busana (look), malah menjadi 90 set busana wanita dan pria saking berhasratnya.


Bagi desainer yang telah berkarya sejak tiga dekade lalu, tenun khas Sumba menawarkan daya tariknya tersendiri.


"Saya melihat, tidak ada satupun kain tenun sumba yang memiliki cerita yang sama. Setiap kain pasti menceritakan sesuatu yang berbeda," ungkap Biyan.


Pesona Tenun Sumba dalam Karya Terbaru Biyan WanaatmadjaFoto: Dok. Mohammad Abduh/Wolipop


Tenun khas Sumba dikenal dengan motif-motif fauna yang mengisahkan tentang leluhur mereka. Salah satunya motif gajah sebagai simbol kekuatan dan keistimewaan.


Craftsmanship dari para perajin di sumba juga tak dapat ditampik oleh Biyan. Ia mengagumi bagaimana mereka mendedikasikan hidupnya untuk menciptakan tenun dengan tangan sendiri. Untuk satu helai kain saja, proses pembuatannya bisa memakan waktu hingga setahun.


Pesona Tenun Sumba dalam Karya Terbaru Biyan WanaatmadjaFoto: Dok. Mohammad Abduh/Wolipop


Itu mengapa, kebanyakan kain yang diolah untuk koleksi ini merupakan karya-karya lama dari para perajin sebagai bentuk apresiasi Biyan. Sisanya, Biyan menggunakan kain tenun yang sudah dimodifikasi, baik dari segi motif maupun ketebalan kain. Sekitar 15 perajin dari lima daerah di Sumba dilibatkan untuk koleksi ini.


Dengan tangan dingin Biyan, tenun sumba disulap menjadi pilihan busana bersiluet gaun panjang, blus longgar, atau outerwear seperti coat. Sesekali material tenun juga hadir sebagai aksen yang dihadirkan dengan teknik patchwork.


Tenun sumba yang memiliki karakter rustic atau lusuh nan eksotis terpadu ringan dengan material yang luks seperti silk lame, jacquard, ataupun katun.


Tidak ketinggalan detail beading, bordir, fringe, sulaman kerang, dan payet sebagaimana ciri khas Biyan yang semakin memberi sentuhan kemewahan pada koleksi ini.


"Tantangan terberatnya adalah how to make it beautiful dalam waktu yang sangat singkat, lalu bagaimana kita bisa menghargai tenun dengan penerjamahan yg tepat, membuatnya agak berbeda, sesuatu yang tidak berat, lalu relevan dengan masa kini, " terang Biyan.


Pesona Tenun Sumba dalam Karya Terbaru Biyan WanaatmadjaFoto: Dok. Mohammad Abduh/Wolipop


Karena, lanjut dia, berbicara mengenai tenun, sebagai sebuah produk yang sudah dirawariskan ratusan tahun lalu dan dibuat dengan tangan, terkesan tradisional. "Tidak ada salahnya menjadi tradisional. Tapi saya ingin masa lalu itu dibawa ke masa kini sekaligus masa mendatang," tambah Biyan.


Pemilik label Biyan dan Studio 133 Biyan itu memang bukan desainer Indonesia pertama yang mengangkat tenun khas Sumba.


Namun ia berharap, Humba Hammu dapat menjadi jembatan antara perajin di Sumba dan masyarakat luas, khususnya generasi muda, agar membuka mata mereka betapa indahnya sebuah tempat bernama Sumba.

(dng/ays)


Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com,
Telepon 021-7941177

Wolipop's Social Media

@ redaksi@wolipop.com