Jumat, 06/10/2017 17:14 WIB

Hasil Riset: Poligami Membuat Istri Jadi Depresi dan Mudah Marah

Hestianingsih - wolipop
Hasil Riset: Poligami Membuat Istri Jadi Depresi dan Mudah Marah Foto: dok. Thinkstock
Jakarta - Menikah untuk ketiga kalinya, Ustaz Arifin Ilham kerap memperlihatkan keakraban dirinya bersama istri pertama, kedua, dan ketiga di media sosial. Seperti yang terlihat dari posting-an Yuni Syahla, istri pertama Ustaz Arifin Ilham.

"❤️Buka Puasa Sunnah Senin Kamis Bersama Tiga Bidadari Seperjuangan dan Murabbi Zikir❤ Subhanallah ....Maafkan Jika Tidak Berkenan, InsyaAllah Niat Kami Untuk Uswah sahabat Sholeh Sholehah Tercinta🌺," tulis Yuni pada caption foto Instagram yang memperlihatkan kebersamaan dirinya bersama Ustaz Arifin Ilham dan dua istri yang lainnya.

Berada dalam pernikahan poligami, apakah memang para istri bisa akrab dan rukun satu sama lain seperti yang diperlihatkan keluarga Ustaz Arifin Ilham? Hal itu bisa saja terjadi, namun mungkin diperlukan kebesaran dan kelapangan hati dari masing-masing pihak, dan itu bukanlah sesuatu yang mudah dijalani.

Berdasarkan studi yang dilakukan seorang profesor di Abu Dhabi, wanita yang berada dalam pernikahan poligami kerap merasakan emosi yang negatif. Emosi negatif yang muncul umumnya karena wanita yang dipoligami diharapkan menerima kenyataan dengan lapang dada bahwa suaminya memutuskan menikah lagi.

Dr Rana Raddawi, associate professor di Departemen Bahasa Inggris, American University of Sharjah, telah melakukan survei terhadap 100 wanita Arab yang berada dalam pernikahan poligami. Penelitian dilakukan karena ia sendiri berada dalam lingkungan praktik poligami kerap dijalankan.

Dari hasil penelitian Dr Rana, banyak wanita yang dipoligami merasa telah terabaikan. Tak jarang mereka jadi cemburuan. Penelitiannya sendiri memang bertujuan mengetahui perasaan dan emosi para wanita yang berada dalam pernikahan poligami.

"Banyak kenalan dan anggota keluargaku yang berpoligami, dan mereka sangat menderita karenanya," kata Dr Rana, seperti dikutip dari situs The National.

Dia melanjutkan, "Aku bisa melihat konsekuensi menghancurkan dari seorang wanita yang tidak punya tempat berlindung atau dukungan finansial karena poligami."

Fokus penelitian Dr Rana adalah mengetahui emosi--khususnya emosi negatif--yang ditimbulkan dari praktik poligami terhadap sejumlah istri yang berada dalam pernikahan tersebut. Meskipun penelitian hanya dilakukan dalam skala kecil, Dr Rana berkeras hasil studinya cukup bisa mewakili perasaan kebanyakan wanita yang dipoligami secara akurat.

Dr Rana menjelaskan, dalam Islam, seorang pria diperbolehkan menikahi maksimal empat wanita. Persyaratan yang harus dipenuhi jika pria ingin poligami salah satunya memperlakukan setiap istri dengan adil. Bersikap adil terhadap lebih dari satu istri bukannya tidak mungkin, tapi jadi hal yang sangat sulit dilakukan.

"Jadi, ketika kamu mau melakukannya (poligami), kamu harus memastikan kamu bisa adil kepada semuanya, baik itu istri maupun anak-anak, dalam hal keuangan, dukungan, dukungan moral, cinta, perhatian, kasih sayang, dan pendidikan anak," urai Dr Rana.

Meski demikian, Dr Rana mengatakan beberapa istri yang dipoligami banyak yang tidak mendapatkan keadilan itu. Beberapa dari mereka mengaku jarang bertemu suaminya, dan banyak yang bilang sang suami tidak memenuhi kebutuhan mereka.

Kematangan finansial dan mental

Dr Heba Sharkas, seorang konselor dari Al Amal Centre untuk masalah keluarga di Abu Dhabi, mengatakan seorang pria baru boleh mempunyai istri kedua jika memang dia telah mampu memberikan perhatian dan kasih sayang yang setara kepada setiap istri dan anak-anak hasil pernikahan poligaminya. Untuk bisa memberikan kehidupan dan kasih sayang yang setara, seorang pria harus sudah mapan secara moril maupun materiil.

"Tanggung jawab pria tersebut menjadi faktor yang sangat penting. Pria yang memenuhi syarat itu akan sanggup memelihara dua rumah tangga atau lebih. Dia harus mampu secara finansial dan sosial," terang Dr Heba.

Kondisi psikologis wanita yang dipoligami

Dr Heba kerap menemukan kegalauan yang dialami para istri dalam pernikahan poligami, terutama saat mereka tahu suaminya akan atau telah memperistri wanita lain. Ia mendapati beberapa kasus ketika wanita mengalami depresi, marah, tantrum, bahkan sakit karena suaminya menikah lagi.

"Tergantung dari tingkat toleransi dan kesabaran istri. Lingkungan tempat ia dibesarkan juga bisa mempengaruhi sejauh mana ia mampu menerima dirinya jadi bagian dari sebuah pernikahan poligami," tuturnya.

Maka dari itu, Dr Heba mengingatkan para pria agar memikirkan matang-matang saat memutuskan menikah lagi. Dia harus menjelaskan alasan kenapa menginginkan pernikahan lagi, kenapa pernikahan kedua, ketiga, dan keempat itu harus dilakukan, dan apakah sudah benar-benar darurat sampai itu satu-satunya solusi yang tersisa.

Salah satu contohnya, istri pertama tidak bisa hamil, sementara sang suami ingin memiliki keturunan. Maka memperistri wanita lain pun jadi satu-satunya solusi.

"Masalah ini bisa diselesaikan dengan mencari istri lain yang memang cocok dengan suami dan mau dan sanggup berada dalam hubungan semacam itu," ujar Dr Heba.

Pada intinya, jika seorang pria ingin melakukan praktik poligami, harus dipikirkan dengan sangat matang. Siapkah secara mental? Secara finansial? Dan yang paling penting dari itu, bisakah dia bertindak adil. (hst/hst)

Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com,
Telepon 021-7941177

Wolipop's Social Media

@ redaksi@wolipop.com