Kamis, 28/09/2017 13:48 WIB

Pernah Ditentang Ortu, Ini Kisah Inspiratif Atlet Panahan Berhijab

Arina Yulistara - wolipop
Pernah Ditentang Ortu, Ini Kisah Inspiratif Atlet Panahan Berhijab Foto: Dok. Instagram @dianandach
Jakarta - Diananda Choirunisa merupakan salah satu atlet wanita yang berhasil mengharumkan nama Indonesia di kompetisi olahraga internasional. Tahun ini, Diananda berhasil mendapatkan medali emas untuk cabang olahraga panahan di SEA Games 2017.

Diana berhasil mengalahkan Filipina saat final dengan sekor 6:2. Ini membuktikan kalau hijab tak menghalanginya untuk tetap berprestasi. Atlet dengan sapaan akrab Diana itu sudah memutuskan berhijab sejak 2015. Menjadi atlet yang aktif di bidangnya, Diana mengaku sempat merasa kesulitan setelah berhijab. Bahkan ia pernah terluka karena pemakaian jilbabnya.

Saat berbincang dengan Wolipop usai acara Hijab Fresh Hand & Body Lotion, Diana bercerita kalau menjadi atlet panahan dan berhijab tidaklah mudah. Belum lagi, dikatakan wanita 20 tahun ini, saat memanah seharusnya tidak ada penghalang di bagian leher baik busana maupun aksesori. Sementara setelah berhijab leher harus tertutup karena bagian dari aurat wanita.
Foto: Dok. Arina Yulistara/Wolipop

Ketika baru berhijab di 2015, Diana pun harus latihan ekstra agar alat panahnya tidak tersangkut pada jilbabnya. Namun tak dipungkirinya, ia mengalami beberapakali kejadian panah tersangkut hingga melukai lehernya.

"Sebenarnya kalau jadi atlet panahan bagian leher nggak boleh ada hambatan, jadi perlu latihan lebih sih buat panahan. Pernah waktu pertandingan sempat nggak dapat nilai gara-gara nyangkut ke jilbab. Pernah juga sampai berdarah di bagian leher karena nyangkut di jilbab," cerita Diana saat ditemui di Lucy in The Sky, SCBD, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (27/9/2017).




Diana melanjutkan, berhijab juga memiliki tantangan tersendiri baginya terutama saat cuaca sedang panas. Dalam sehari, wanita yang mulai belajar menjadi atlet panahan sejak kelas 2 SD itu bisa mandi sehari tiga kali atau berganti busana sampai empat kali. Sedangkan dulu sebelum berhijab paling tidak hanya dua kali ganti.

Selain itu, Diana mengaku sang ibunda sempat tidak menyetujui keputusannya berhijab. Ibu Diana yang juga berprofesi sebagai atlet panahan takut kalau prestasi putrinya turun setelah memakai jilbab melihat teman-temannya mendapat kendala karena hal tersebut. Untuk itu, Diana berusaha meyakinkan ibunya kalau hijab bukan menjadi penghalang agar tetap berprestasi.

"Awalnya sama mama nggak boleh karena banyak atlet panahan yang setelah pakai hijab dia nembak turun prestasinya. Mama takut aku turun prestasinya. Aku berusaha meyakinkannya, waktu itu juga ada tanding ISG, Islamic Solidarity Games, terus aku bilang sama mama, 'Kalau menang aku akan pakai hijab terus ya'. Alhamdulillah menang dan mama bolehin," papar Diana.




Meski sibuk menuai prestasi di berbagai pertandingan olahraga panahan, mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Airlangga itu tak melupakan tugasnya sebagai seorang pelajar. Ia tetap berusaha membagi waktunya untuk pendidikan. Diana tak ingin hanya karena ia seorang atlet maka meninggalkan pendidikan.

Belajar psikologi menurutnya juga sangat mempengaruhi aktivitas sebagai atlet panahan. Mulai dari persiapan mental sampai menahan emosi kini Diana bisa melakukannya dengan baik. Tak heran bila ia sudah beberapakali menyabet medali emas.

Wanita asal Surabaya itu pernah mendapatkan medali emas saat Pekan Olahraga Nasional (PON) Jabar 2016. Tak hanya itu, Diana juga mendapatkan medali emas pada SEA Games 2013 di Myanmar. Ada pula prestasi ketika Diana mengikuti Youth Olympic Games (YOG) 2014 dengan menduduki peringkat enam. (ays/ays)

Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com,
Telepon 021-7941177

Wolipop's Social Media

@ redaksi@wolipop.com