Senin, 18/09/2017 13:07 WIB

Intimate Interview

Lebih Dekat dengan Monica Oudang, Bos HRD Go-Jek yang Inspiratif

Daniel Ngantung - wolipop
Lebih Dekat dengan Monica Oudang, Bos HRD Go-Jek yang Inspiratif Foto: Daniel Ngantung/Wolipop
Jakarta - Bermula dari sebuah start-up penyedia jasa ojek daring (online), Go-Jek sukses menjadi perusahaan besar yang disegani. Di balik prestasinya, ada campur tangan seorang ibu muda yang inspiratif. Mari berkenalan dengan Monica Oudang.

Menjabat sebagai Chief Human Resource Officer Go-Jek, Monica Oudang bergelut dengan segala urusan perekrutan dan sumber daya manusia, dalam hal ini karyawan Go-Jek yang dijuluki Go-Troops dan para mitra Go-Jek atau driver.

Namun berkarier di dunia personalia sejatinya tidak pernah menjadi impian wanita Jawa Timur ini. Mengantongi gelar bisnis dan hukum internasional dari Boston University, Amerika Serikat, Monica memulai kariernya di dunia perbankan.

Monica Oudang, Chief Human Resource Officer Go-Jek di Markas Go-Jek.Monica Oudang, Chief Human Resource Officer Go-Jek di Markas Go-Jek. (Foto: Daniel Ngantung/Wolipop)


Dalam perjalanan kariernya, Monica justru tersadar bahwa dirinya tidak menyukai dunia finansial. "Betul, gajinya lumayan besar. Tapi kok saya merasa tidak bahagia karena itu bukan passion saya. Rasanya, pekerjaan saya seperti sebuah beban besar," cerita Monica saat ditemui Wolipop di Markas Go-Jek di kawasan Blok-M, baru-baru ini.

Senang bersosialiasi dengan banyak kalangan, Monica merasa marketing adalah passion-nya. Ia pun memutuskan untuk mengambil gelar master di bidang marketing.

Usai merampungkan pendidikannya, Monica yang telah menetap di AS selama 10 tahun kembali ke Tanah Air dan bekerja sebagai Marketing & Communication Manager untuk sebuah stasiun TV swasta baru.

Singkat cerita, ia berhenti bekerja agar dapat fokus merawat kedua anaknya. Tapi Monica rupanya tak betah berlama-lama menganggur. Ia ingin tetap bekerja dengan catatan tanpa mengobarkan banyak waktunya bersama keluarga.

Maka, pilihannya adalah mendirikan perusahaan sendiri. Lantas bersama rekannya, ia membuka jasa perekrutan bagi perusahaan-perusahaan yang ingin mencari karyawan baru.

"Ada kepuasan tersendiri. Dari situ, saya jadi tahu seluk-beluk dunia bisnis dan polemiknya serta permasalahan calon karyawan," ungkap wanita yang senang mengisi waktu luangnya dengan membaca buku self-improvement itu.
Lebih Dekat dengan Monica Oudang, Bos HRD Go-Jek yang InspiratifFoto: Daniel Ngantung/Wolipop


Profesi tersebut yang akhirnya mempertemukan Monica dengan Nadiem Makarim, pendiri Go-Jek. Ketika itu, Nadiem masih bekerja untuk sebuah perusahaan retailer digital multinasional yang menggunakan jasa perusahaan Monica untuk merekrut karyawan di Indonesia.

Pada 2014, Nadiem mengajak Monica untuk bergabung dengan Go-Jek. Ragu dengan reputasi Go-Jek sebagai perusahaan start-up, Monica sempat menolak beberapa kali tawaran Nadiem.

"Takutnya bakal hectic banget karena ini kan start-up. Tapi satu hal yang membuat saya tertarik adalah terobosan Go-Jek dalam memberikan solusi kepada masalah yang selama ini dihadapi oleh masyarakat Indonesia. Cuma Go-Jek yang berani melakukan inovasi tersebut," ujar Monica.

Setelah setahun membantu Nadiem secara informal dalam merekrut para Go-Troops, ia resmi bergabung dengan Go-Jek pada 2015 saat aplikasiya diluncurkan.

Sebagai seorang 'bos' HRD, Monica ingin memastikan para Go-Troops merasa 'fullfilled'. "Saya mau mereka melihat pekerjaan lebih dari sekadar pekerjaan sebagai sebuah motivasi," kata wanita yang menggemari yoga ini.

Menurutnya, banyak orang yang bekerja demi mendapatkan gaji saja. Namun di Go-Jek, para karyawan dibuat merasa seperti berada di sebuah playground. "Di mana mereka bisa bereksperimen dan bermain. Karena saya merasa di situ lah motivasi terbesar untuk mengkontribusikan pengetahuan mereka," kata Monica.

Oleh karena itu, Monica sebisa mungkin membuat Go-Jek senyaman mungkin bagi para karyawannya untuk berkarya. Semuanya dimulai dari budaya kerja.

"Fasilitas yang nyaman tentu penting tapi itu hanya bonus. Tapi yang utama adalah kultur kerja di sini. Bagaimana kultur tersebut dapat membangun karakter para karyawan agar dapat nyaman satu sama lain sehingga dapat saling bersinergi," kata Monica.

Di Go-Jek, Monica menerapkan 10 value untuk membangun kultur tersebut. Beberapa di antaranya adalah 'kritikan adalah sebuah hadiah', 'segala sesuatu bukan hanya untuk satu pribadi saja', dan 'berkomunikasi dengan tujuan yang jelas'. Selain itu, Go-Jek juga memberlakukan cuti sepuasnya bagi karyawan yang berkinerja baik.

Di samping para Go-Troops, Monica juga harus menaungi para mitra Go-Jek yang jumlahnya kini mencapai 300.000 di 50 kota. Go-Jek memfasilitasi para mitranya agar untuk mendapatkan fasilitas asuransi dan cicilan rumah.

"Misi kami tidak hanya menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan dari sisi ekonomi, tapi what can we do more," pungkas Monica. (dtg/dtg)

Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com,
Telepon 021-7941177

Wolipop's Social Media

@ redaksi@wolipop.com