Jumat, 15/09/2017 14:25 WIB

Wawancara 100 Pria Pemerkosa, Inilah Temuan Mengejutkan Mahasiswa India

Eny Kartikawati - wolipop
Wawancara 100 Pria Pemerkosa, Inilah Temuan Mengejutkan Mahasiswa India Foto: Istimewa
Jakarta - Selama ini para pemerkosa dianggap sebagai monster kejam. Namun mahasiswi India yang mewawancarai 100 pria pemerkosa ini menemukan fakta berbeda.

Madhumita Pandey baru berusia 22 tahun saat dia mendatangi penjara Tihar di New Delhi. Dia datang ke sana dalam rangka melakukan riset untuk tesis doktornya di jurusan kriminologi Anglia Ruskin University, Inggris.

Selama tiga tahun melakukan riset, Madhumita mewawancarai 100 responden. Yang menjadi respondennya adalah penghuni penjara dengan status sebagai pemerkosa.

Sebelum melakukan penelitian, yang ada di pikiran Madhumita sama dengan orang pada umumnya. "Semua orang berpikir sama. Kenapa para pria ini melakukan pemerkosaan? Kita berpikir mereka adalah monster. Kita berpikir tidak ada manusia yang bisa melakukan hal keji itu," ujarnya.

Pikiran itu pun dibawa Madhumita saat berminggu-minggu mewawancarai para pemerkosa di penjara. Sebagian besar pemerkosa yang ditemuinya ternyata tidak berpendidikan. Hanya beberapa dari mereka yang lulus sekolah menengah. Dan beberapa pemerkosa berhenti sekolah setelah kelas tiga atau empat.

Wawancara 100 Pria Pemerkosa, Inilah Temuan Mengejutkan Mahasiswa IndiaFoto: Manjunath Kiran/AFP


"Sebelumnya aku diyakinkan bahwa para pria ini adalah monster. Namun saat kita mengobrol dengan mereka, kita jadi menyadari bahwa mereka bukan orang yang berbeda, mereka pria biasa, benar-benar biasa. Mereka bisa melakukan perbuatan itu karena asuhan dan proses," jelas Madhumita.

Dalam penelitiannya Madhumita menulis, di India, termasuk di keluarga yang berpendidikan, wanita terikat pada peran tradisional. Banyak wanita yang takut memanggil suami mereka dengan namanya. "Pria jadi memahami hal yang salah soal maskulinitas dan wanita jadi belajar menjadi orang yang patuh atau penurut," katanya.

Madhumita mengatakan, wawancara mendalam yang dilakukannya dengan para pemerkosa, mengingatkannya pada kepercayaan yang sering digaungkan di kehidupan rumah tangga. Bahwa pria memiliki kekuasaan membuat wanita merasa bersalah.

"Setelah mengobrol dengan mereka, itu mengejutkanku. Para pria ini mempunyai kekuasaan untuk membuatmu merasa kasihan atau bersalah pada mereka. Sebagai wanita, bukan perasaan ini yang aku harapkan. Aku hampir saja dibuat lupa bahwa para pria ini telah dinyatakan bersalah memperkosa wanita," ujarnya.

Yang lebih memprihatinkan lagi, dari hasil riset Madhumita ini diketahui bahwa para pemerkosa itu tidak menyadari bahwa apa yang telah mereka lakukan adalah pemerkosaan. "Mereka juga tidak paham apa itu sebuah persetujuan," tukasnya. "Aku pun jadi bertanya-tanya, apakah ini hanya terjadi pada pria di sini (pemerkosa)? Atau malah sebagian besar para pria," tambahnya.

Madhumita juga menyebutkan, dari risetnya terungkap bahwa para pria ini akan memberikan banyak alasan atau justifikasi pada aksi pemerkosaan yang mereka lakukan. Bahkan ada yang membantah melakukan pemerkosaan. Dan ada juga yang menyalahkan korban.

Salah satu pria yang diwawancara Madhimita misalnya. Pria berusia 49 tahun ini mengaku menyesal telah memerkosa seorang anak perempuan berusia lima tahun. "Dia mengaku salah telah menghancurkan hidup anak itu. Sekarang dia sudah tidak perawan, tidak akan ada yang mau menikahinya," demikian kata si pria. Lalu si pria itu bilang, dia yang akan menikahi anak itu setelah dia keluar penjara.

Jawaban pria pemerkosa itu membuat Madhumita shock. Dia merasa betapa para pemerkosa itu bisa dengan mudahnya menghapus rasa bersalahnya. Dan seolah-olah pria itu menjadi penyelamat dengan menikahi anak yang diperkosanya. (eny/eny)

Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com,
Telepon 021-7941177

Wolipop's Social Media

@ redaksi@wolipop.com