Selasa, 22/08/2017 17:47 WIB

Wow, Ternyata Kulit Asli Tas Hermes Ada yang Ekspor dari Indonesia

Arina Yulistara - wolipop
Wow, Ternyata Kulit Asli Tas Hermes Ada yang Ekspor dari Indonesia Foto: Dok. Arina Yulistara/Wolipop
Jakarta - Tas Hermes favorit para fashionista senilai ratusan juta hingga miliaran rupiah ternyata bahan bakunya ada yang ekspor dari Indonesia. Bagaimana bisa demikian?

Cerita datang dari pasangan suami-istri pendiri brand tas kulit exotic, Doris Dorothea, Fara Shahab dan Riza Assegaf. Keduanya merupakan generasi penerus dari perusahaan tannery kulit reptil milik keluarga Riza yang berdiri sejak 1985. Perusahaan dengan nama Cardina itu termasuk salah satu perusahaan kulit reptil besar di Indonesia.

Cardina sering mengekspor berbagai jenis kulit reptil seperti python, lizard, hingga crocodile ke pasar Eropa hingga Amerika. Bahkan bahan baku kulit dari Cardina juga diekspor ke salah satu perusahaan kulit di Italia. Perusahaan tersebut memiliki klien-klien yang merupakan brand ternama seperti Bvlgari hingga Hermes. Karena alasan itulah, keduanya mengklaim kalau brand besar seperti Hermes salah satu bahan baku kulitnya pasti ada yang berasal dari Indonesia.

"Jadi sebenarnya gini, kalau brand-brand besar gitu mereka sudah punya perusahaan sendiri untuk ambil bahan baku. Nah kita suplai ke perusahaan tersebut. Perusahaan yang ngambil dari kita itu perusahaan kulit raksasa dari Italia dan mereka suplai ke banyak brand, nggak cuma Hermes. Dari segi kualitas, kulit dari Indonesia memang paling bagus dibanding negara lain, terutama python. Jadi nggak mugkin bahan baku mereka nggak ada yang nggak dari Indonesia," jelas Fara saat berbincang dengan Wolipop di Hotel Grand Mahakam, Kebayoran, Jakarta Selatan, Senin (22/8/2017).

Riza menambahkan, untuk ekspor bahan baku kulit dari Indonesia diakuinya memang paling besar dibanding negara di Asia lainnya. Setiap tahun diekspor lebih dari 150 ribu lembar bahan baku kulit dari berbagai jenis reptil mulai dari python, lizard, hingga crocodile ke banyak negara terutama Italia.

"Untuk tannery ini, Indonesia punya community masing-masing. Indonesia ini memiliki kuota ekspor paling besar dibanding Asia lainnya seperti pesaing kita Thailand, Vietnam, Kamboja. Total quota ekspor mencapai 150 ribu lembar setahunnya. Paling banyak pengiriman memang dari Indonesia. Alam kita banyak sekali sumber dayanya. Kualitas dari negara kita dibanding negera lain paling bagus," tambah pria berusia 30 tahun itu.

Riza juga turut menjelaskan proses pembuatan bahan baku kulit. Proses dimulai dari pengiriman bahan mentah berupa kulit reptil kering yang berasal dari Kalimantan, Sumatera, dan Jawa. Kulit tersebut kemudian diolah lagi agar berwarna hingga siap dibuat menjadi tas atau item mode lainnya. Proses pembuatan kulit sendiri memakan waktu kurang lebih satu minggu hingga mulai diekspor ke luar negeri.

Untuk satu lembar kulit harga ekspornya bervariasi tergantung ukuran dan jenisnya. Seperti jenis kulit python dijual mulai dari US$ 35 per meter. Sedangkan standar ukuran lembar bahan baku kulit ke luar negeri kurang lebih 3,5 meter. Riza pun memberikan contoh kulit asli Indonesia yang pernah dipakai brand high end, misalnya Bvlgari.

Bapak dua anak ini bercerita kalau dua tahun lalu Bvlgari mengeluarkan koleksi dengan kulit Ular Karung. Kulit tersebut diklaim hasil ekspor dari Indonesia.

"Bvlgari dua tahun lalu mengeluarkan koleksi dengan jenis kulit ular namanya ular karung. Di Italia pun namanya Karung Snake, itu asli Indonesia. Jadi brand yang pakai kulit exotic itu nggak mungkin nggak pernah ngambil di Indonesia, pasti ada yang ngambil di Indonesia," ujarnya lagi. (ays/ays)

Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com,
Telepon 021-7941177

Wolipop's Social Media

@ redaksi@wolipop.com