Senin, 24/07/2017 16:46 WIB

Intimate Interview

Mengenal Desainer Berniqab Diana Nurliana, Awali Karier Sebagai Pedagang ITC

Arina Yulistara - wolipop
Mengenal Desainer Berniqab Diana Nurliana, Awali Karier Sebagai Pedagang ITC Foto: Dok. Arina Yulistara/Wolipop
Jakarta - Sudah kenal dengan desainer yang penampilannya selalu mengenakan niqab, Diana Nurliana? Diana sukses dikenal sebagai desainer hijab dengan labelnya Kara Indonesia. Namanya sudah bergema di panggung mode Indonesia mulai dari ajang Indonesia Fashion Week hingga Jakarta Fashion Week sejak 2015 lalu.

Ibu tiga anak ini pun berhasil menyedot perhatian ketika menyuguhkan pagelaran busana dengan model-model yang memakai topeng serta cadar pada JFW 2016. Seperti apa perjalanan karier Diana sebagai desainer? Yuk mengenal lebih dekat dengan Diana Nurliana.

Saat berbincang dengan Wolipop, Diana Nurliana bercerita kalau ia mulai bisnis hijab karena mulanya merasa sulit mendapatkan kerudung dengan harga murah setelah menikah dan pindah ke Jakarta Selatan. Wanita lulusan Jurusan Psikologi Pendidikan Universitas Islam As-Syafiiyah itu biasa tinggal di Jakarta Timur dan merasa harga jilbab di Jakarta Selatan jauh lebih mahal. Diana pun berpikiran untuk membuat jilbab sendiri dan mencoba berbisnis.
Mengenal Desainer Berniqab Diana Nurliana, Awali Karier Sebagai Pedagang ITCFoto: Dok. Instagram @diananurliana

Belum lagi ia dilanda kebingungan karena sang suami memintanya berhenti kerja. Ya, Diana mengaku sempat bekerja sebagai asisten dosen (asdos) setelah lulus dan mengajar di daerah Jakarta Timur dan Jakarta Utara. Aktivitasnya sebagai asdos membuat Diana harus berangkat pagi pulang malam sehingga sang suami merasa keberatan.

Baca juga: Indra Bekti Minta Maaf Terkait Video Tebak-tebakan Niqab yang Viral

Diana memutuskan untuk berhenti kerja dan membuat usaha sendiri dengan modal dari suami. Ia ingin bisnis hijab dengan label pertama Ambu Design. Diana pun mengawali langkah dengan berjualan di ITC Fatmawati, Jakarta Selatan. Ternyata tak semudah yang dibayangkan. Wanita 32 tahun ini mengaku kalau dagangannya di ITC Fatmawati tidak laku setelah berjualan selama kurang lebih satu tahun.

"Aku nikah muda umur 23 tahun. Karena aku merasa harga kerudung di Jaksel kurang masuk akal, dari situ ada keinginan mau jual. Pertamakali aku jual di ITC Fatmawati ambil barang dari orang. Aku juga coba bikin baju sendiri yang simpel dan ternyata nggak laku. Aku dulu kan suka pakai outerwear yang bahannya kaos, jilbab kaos. Aku bikin sendiri ke penjahit tapi dijual di ITC itu nggak laku padahal harganya sudah murah banget," jelas Diana saat berbincang dengan Wolipop di store District 12, Mall f(X) Lifestyle, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (20/7/2017).
Mengenal Desainer Berniqab Diana Nurliana, Awali Karier Sebagai Pedagang ITCFoto: Dok. Instagram @diananurliana

Setelah bisnis hijab di ITC Fatmawati tak berjalan lancar, Diana memutuskan berhenti. Di 2010, ia pun mencoba bergabung dengan komunitas Hijabers Community. Banyak desainer hijab yang juga tergabung di dalamnya termasuk Dian Pelangi dan Ria Miranda.

Pada saat acara launching pertama komunitas Hijabers Community, Diana kembali mencoba peruntungannya. Ia membuka booth saat launching komunitas para wanita berhijab tersebut. Tak disangka seluruh dagangannya yang tidak laku dijual di ITC Fatmawati habis tak tersisa saat dijual ketika acara launching Hijabers Community.

Dari situlah peluang bisnis hijabnya baru terbuka. Diana lalu mendapat tawaran dari brand yang membawahi banyak label lokal hijab lainnya, Moshaict, untuk bekerjasama. Dengan senang hati, wanita yang hobi olahraga itu menyetujuinya.

Setelah bergabung dengan Moshaict, bisnis hijabnya diakui terus meningkat. Bahkan setiapkali bazaar ia bisa mengantongi keuntungan puluhan juta rupiah. Bahkan ketika harga jualnya ditinggikan, karya Diana tetap laris terjual. Pembelinya tak hanya dari Indonesia tapi juga luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Australia, hingga Brunei Darussalam.

Baca juga: Foto OOTD Ala Diana Nurliana yang Populer dengan Niqab

Semenjak itu, Diana mulai percaya diri untuk meningkatkan kualitas labelnya. Bahkan ia sempat melanjutkan pendidikan ke sekolah mode ESMOD Jakarta agar lebih serius lagi. Setelah tiga tahun berjalan, Diana Nurliana ingin mematenkan labelnya namun nama Ambu Design sudah dimiliki oleh perusahaan konveksi besar. Akhirnya ia mengalah dan mengganti nama brand-nya menjadi Kara Indonesia.
Mengenal Desainer Berniqab Diana Nurliana, Awali Karier Sebagai Pedagang ITCFoto: Dok. Arina Yulistara/Wolipop

Kara Indonesia sendiri diambil dari nama anak keduanya yakni Khadeeja Amalia Zahra disingkat menjadi Kara. Karena labelnya sudah dikenal hingga ke luar negeri maka Diana ingin menegaskan kalau brand miliknya asal dari Indonesia.

Secara bertahap, wanita asal Cianjur itu berhasil meningkatkan eksistensinya. Setelah memutuskan pakai niqab di 2015, karier Diana semakin menanjak. Ia mungkin bisa disebut sebagai desainer berniqab pertama di Indonesia. Namanya mulai banyak disorot sejak ia mengikuti pekan mode Jakarta Fashion Week 2016 dan menghadirkan model-model memakai topeng serta cadar.

Dari keikutsertaannya dalam ajang tersebut, Diana mengaku mendapat banyak tawaran lain dari pihak luar seperti department store. Kini karya Diana bisa didapatkan di District 12 f(X) Lifestyle atau butiknya di Cilandak. Namun ia juga menjual lewat online bahkan Diana sudah melakukan pengiriman ke luar negeri. Pelanggan Diana pun tak hanya berasal dari seluruh Indonesia dan Asia tapi juga Eropa seperti Prancis.
Mengenal Desainer Berniqab Diana Nurliana, Awali Karier Sebagai Pedagang ITCFoto: Dok. Arina Yulistara/Wolipop

Untuk ke depannya, Diana juga berencana membuat satu label lagi yang khusus menjual niqab berkualitas. Setelah memutuskan memakai niqab di 2015, Diana tetap mendesain baju konvensional. Ia ingin bisa membuat busana untuk muslimah yang sudah berniqab. Maka dari itu, Diana berencana mengeluarkan label yang akan menjual niqab.

"Jadi sebenarnya brand niqab di Indonesia ada, cuma yang aku temui belum sesuai dengan kebutuhannya. Yang penting menutup saja. Aku ingin orang mengenal niqab dan menggunakan niqab dengan nyaman. Kadang brand-brand niqab yang penting ketutup saja. Kayak bahannya tebal kurang breathable. Jadi kalau kamu pakai seruti atau bahannya tebal karena benangnya lebih rapat, kita nggak bisa napas. Bahan-bahan bagus biasanya didapatkan di luar kayak Egypt. Aku pengen Indonesia juga punya brand niqab yang berkualitas setara dengan brand niqab di luar," tambahnya.

(ays/ays)

Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com,
Telepon 021-7941177

Wolipop's Social Media

@ redaksi@wolipop.com