Jumat, 16/06/2017 14:26 WIB

White Wednesday, Kampanye Anti Paksaan Berhijab yang Booming di Iran

Arina Yulistara - wolipop
White Wednesday, Kampanye Anti Paksaan Berhijab yang Booming di Iran Salah satu wanita yang ikut White Wednesday. Foto: Instagram @masih.alinejad
Jakarta - Sejak revolusi Islam yang terjadi pada 1979, Iran menjadi negara yang berlandaskan hukum Islam. Oleh karena itu, para wanita Iran diwajibkan mengenakan jilbab sesuai ajaran agama. Peraturan tersebut tidak diterima dengan baik oleh masyarakatnya.

Banyak wanita Iran yang melakukan perlawanan akan peraturan kewajiban berhijab. Menurut sejumlah wanita muslim di Iran, hijab adalah pilihan setiap orang untuk memakainya. Sebagai gerakan menentang kewajiban berhijab di Iran ada kampanye bernama White Wednesday, di mana para muslimah Iran bebas memilih untuk berhijab atau tidak setiap Rabu.

Kampanye tersebut digalakkan oleh jurnalis Masih Alinejad. Pendiri My Stealthy Freedom (gerakan online terkait kebebasan dalam memilih pakaian) itu menggelar kampanye ini dengan tujuan agar tidak ada pemaksaan menggunakan hijab untuk para wanita Iran.

A post shared by Masih Alinejad (@masih.alinejad) on Jun 14, 2017 at 11:18am PDT







Kampanye sudah berjalan selama empat minggu dengan mengajak wanita juga pria memakai jilbab, syal, gelang, yang semuanya warna putih di hari Rabu. Warna tersebut dianggap lambang perdamaian untuk menunjukkan penolakan terhadap peraturan kewajiban berhijab.
Masih AlinajedMasih Alinajed Foto: Instagram @masih.alinejad

"Kampanye ini tujuan utamanya kepada wanita yang memang sudah memilih untuk berhijab tapi menolak ide pemaksaan berjilbab terhadap wanita lainnya. Banyak wanita yang dipaksa berjilbab di Iran," ujar Alinejad dalam postingan di halaman Facebook My Stealthy Freedom.




Tradisi di Iran wanita memakai jilbab hitam, chador, dan niqab. Alinejab mengatakan tak masalah bila itu hanya tradisi atau budaya Iran namun seharusnya tidak menjadi peraturan wajib bagi semua wanita Iran. Setiap wanita memiliki kebebasan dalam melakukannya.

Alihejad yang sudah mengampanyekan penolakan kewajiban berhijab selama kurang lebih dua tahun itu mengatakan kalau puluhan wanita serta pria saat ini telah bergabung dalam kampanye White Wednesday sejak bulan lalu. Mereka juga mendorong orang lain untuk mengikuti kampanye tersebut.
White Wednesday, Kampanye Anti Paksaan Berhijab yang Booming di IranFoto: Instagram @masih.alinejad

Iran memang memiliki peraturan meminta wanita menutupi rambut mereka sesuai ajaran agama Islam. Wanita Iran yang tertangkap tidak mengenakan hijab maka polisi moral akan menjatuhkan hukuman mulai dari membayar denda hingga penjara.

Banyak juga iklan yang dibiayai negara muncul di publik mengatakan bahwa wanita yang tidak berhijab dianggap sudah ternoda. Selain hijab, baru-baru ini muncul larangan tarian populer sebagai bentuk latihan fisik di gym untuk kaum perempuan seperti zumba. Peraturan itu telah menimbulkan kontroversi minggu lalu.

Peraturan larangan zumba dikeluarkan oleh lembaga pemerintah bidang olahraga di Iran. "Tolong untuk melarang beberapa kegiatan seperti zumba yang mencakup gerakan dan tarian berirama dalam bentuk apa pun," begitu pernyataan dari Iran's Sport untuk Kementerian Urusan Pemuda dan Olahraga pada 7 Juni lalu.

Peraturan tersebut tentu mendapat beragam respon terutama dari wanita Iran. Ini artinya semakin banyak yang membatasi kebebasan wanita Iran untuk berekspresi. Sebelumnya pada September tahun lalu, pernah juga ada larangan wanita bersepeda di depan umum.





(ays/ays)

Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com,
Telepon 021-7941177

Wolipop's Social Media

@ redaksi@wolipop.com