Rabu, 10/05/2017 18:03 WIB

Pesona Tenun Tanimbar Maluku Tenggara Eksis di Ginza, Tokyo

Daniel Ngantung - wolipop
Pesona Tenun Tanimbar Maluku Tenggara Eksis di Ginza, Tokyo Foto: dok. Tenun Gaya
Jakarta - Wastra Nusantara kembali eksis di kancah internasional. Sekarang giliran tenun ikat tanimbar dari Kepulauan Tanimbar di Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) yang tampil di Tokyo, Jepang.

Bertempat di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo, awal April lalu, kain ikat tanimbar yang menjelma menjadi deretan busana modis karya Wignyo Rahadi dan Chossy Latu ditampilkan di hadapan para tamu diplomatik serta komunitas mode di Jepang.

Mengusung tema 'Metamorphoseast', Wignyo terinspirasi oleh keunikan budaya Asia Timur dan Indonesia Timur. Ia lalu mengawinkan keduanya menjadi 10 set busana berdesain kontemporer dan urban yang diadaptasi dari busana tradisional Jepang seperti kimono, hakama, dan obi.

Sementara itu, Chossy Latu turut menampilkan 10 set busana namun dengan desain yang lebih feminin dan chic dalam palet kecoklatan.

Berselang beberapa hari kemudian, digelarlah sesi pemotretan busana tersebut dengan model lokal di sebuah taman Sakura dan Ginza, pusat belanja tersibuk di Tokyo dengan deretan butik-butik brand fashion dunia.

Rentetan kegiatan tersebut diinisiasi oleh Pemerintah Daerah MTB, dengan dukungan KBRI di Tokyo, perusahaan Migas Jepang INPEX, untuk mengenalkan keindahan tenun tanimbar ke panggung mode dunia.

Seperti diungkapkan Elisabeth Werembinan, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten MTB, tenun tanimbar dengan keunikannya berpotensi untuk dikomersialkan. Dengan begitu, kesejahteraan dan perekonomian masyarakat lokal akan membaik mengingat pendapatan per bulan mereka masih di bawah Rp 1,5 juta (nelayan adalah sumber mata pencaharian mereka mengingat sebagian besar wilayah MTB adalah lautan).

Hanya saja, diakui Elisabeth, tak sedikit kendala yang menghalangi misi tersebut, mulai dari sumber daya manusia hingga infrastruktur. "Masih banyak perajin yang belum memiliki wawasan luas tentang fashion sehingga karya yang dihasilkan tidak sesuai dengan selera pasar," ungkap Elisabeth saat jumpa media di Hotel Ibis Tamarin, Jakarta Pusat, Rabu (10/5/2017).
Pesona Tenun Tanimbar Maluku Tenggara Eksis di Ginza, TokyoFoto: dok. Tenun Gaya

Ia menambahkan, butuh sinergi dari pihak-pihak lain untuk membuat tenun tanimbar lebih dikenal. Sudah tiga tahun terakhir, Pemda setempat mendapat dukungan dari pihak swasta, dalam hal ini INPEX, yang melalui program tanggung jawab sosialnya mengadakan pelatihan bagi para perajin tenun.

Melalui program ini, mereka mendapat bimbingan dari desainer papan atas Indonesia, salah satunya Wignyo sendiri. Sebelum itu, desainer Samuel Wattimena juga pernah terlibat. Karya Samuel pun sempat naik pentas di panggung Indonesia Fashion Week beberapa tahun lalu.

Untuk pelatihan ini, Wignyo tidak memfokuskan materi pada teknik pembuatan karena menurutnya para perajin sudah cukup andal dalam hal teknik.

"Yang saya lakukan adalah mengubah pola pikir mereka dengan memberi wawasan bahwa tenik yg diterapkan sudah benar, tapi harus diubah sedikit supaya lebih efisien, kain menjadi lebih cantik dan mudah diterima oleh pasar," kata desainer yang karyanya pernah dianugerahi penghargaan UPAKARTI dari pemerintah atas upayanya melestarikan tenun.

Biasanya perajin hanya memproduksi kain dalam ukuran yang lebih kecil, sekitar 50 x 60 cm, sehingga kurang memadai untuk diolah menjadi satu pakaian. Setelah dilatih Wignyo, kain yang dihasilkan lebih besar.

Materialnya yang dulu kaku dan berat kini sudah berganti dengan katun sehingga nyaman dipakai. Warna dan motif-motifnya pun mendapat sentuhan baru tanpa meninggalkan karakter asli dari kain tersebut.
Pesona Tenun Tanimbar Maluku Tenggara Eksis di Ginza, TokyoFoto: dok. Tenun Gaya

Program ini sudah menggapai sekitar 35 perajin. Saat ini, penenun Tanimbar berjumlah sekitar 20 persen dari populasi wanita di sana atau sekitar 1.000 orang. Umumnya, para perajin adalah wanita yang sudah berusia lanjut sehingga perlu ada regenerasi.

Tenun Tanimbar mulai dikembangkan sejak abad ke-3 saat pedagang dari China mulai berdatangan sebagai bagian dari perjalanan jalur sutra mereka.

Di daerah asalnya, kain tenun tanimbar dianggap sakral oleh penduduk asli. Seperti diungkapkan Elisabeth, tenun bagi masyarakat lokal adalah amanah dari Tuhan.

"Jadi jika kami diberikan tenun pantang untuk memberinya lagi kepada orang lain karena akan dianggap tidak mampu menjalankan amanah," ungkap dia.

Motif-motifnya sarat akan filosofi dan adat istiadat penduduk setempat. Mulai dari kebiasaan memancing dan berburu, sampai keindahan alam, semuanya tergambar dalam corak-corak di kain tenun.

Salah satu motif yang menjadi primadona adalah motif tulang ikan. Lalu ada motif tunis yang berbentuk anak panah tunggal sebagai simbol kewaspadaan masyarakat Tanimbar terhadap ancaman.

Untuk koleksinya di Jepang, Wignyo mengangkat motif ulerati atau ular kecil yang melambangkan kecintaan masyarakat lokal pada lingkungan hidup serta bentuk apresiasi mereka terhadap metamorfosa ulat sebagai proses alami kehidupan. (dng/ays)

Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com,
Telepon 021-7941177

Wolipop's Social Media

@ redaksi@wolipop.com