Jumat, 21/04/2017 11:57 WIB

Merasa Diejek, Model Plus Size Tess Holiday Tak Mau Lagi Pakai Uber

Hestianingsih - wolipop
Merasa Diejek, Model Plus Size Tess Holiday Tak Mau Lagi Pakai Uber Foto: Getty Images, Instagram
Jakarta - Kejadian tak menyenangkan dialami Tess Holliday, seorang model asal Amerika Serikat saat menumpang taksi online. Tess, yang berprofesi sebagai model plus size mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari seorang driver Uber. Apa pasal?

Rabu (19/4/2017), Tess mem-posting video di akun Instagram yang memperlihatkan driver Uber berkomentar tentang berat badannya. Dalam video tersebut, sang driver menanyakan perihal tingkat kolesterol yang dimiliki model berusia 31 tahun itu.

"Kolesterolku baik. Aku sempurna. Ya, aku sehat," jawab Tess.
Foto: Getty Images, Instagram

Menurut Tess, driver tersebut seharusnya tidak boleh membicarakan hal-hal yang bersifat pribadi kepada pengguna jasanya. Ia menyatakan bahwa dirinya memesan Uber bukan untuk dipertanyakan tentang kesehatan karena tubuhnya gemuk.

"Tidak ada seorangpun yang harus menoleransi level pelayanan yang kamu tawarkan ini. Aku (memang) gemuk. Aku juga punya dompet yang gemuk (uang banyak) dan tidak akan menggunakan jasamu. Tidak akan pernah. Juga setelah aku bilang padanya (driver Uber) kalau aku sehat dia langsung menyalakan radio dan mengganti topik," tulis Tess di caption video.

Video Tess pun menjadi viral dan sampai ke telinga pihak Uber. Tanpa menyebutkan nama Tess secara langsung, aplikasi taksi online ini memberikan tanggapannya atas keluhan model yang pernah membintangi iklan Benefit Cosmetics dan H&M itu.

"Kami mengharapkan semua driver dan pengguna untuk memperlakukan satu sama lain dengan hormat seperti yang sudah menjadi kebijakan Panduan Komunitas kami. Kami menolak perlakuan apapun yang tidak pantas dan tidak terhormat dari siapapun," demikian pernyataan yang dirilis Uber, seperti dikutip dari Refinery 29.

Perilaku fat-shaming, atau mengejek seseorang karena bertubuh gemuk mungkin dianggap sepele bagi sebagian orang. Tapi tahukah Anda, tindakan itu berpotensi menyebabkan kerusakan mental yang parah pada korbannya?

Hasil studi dari Center for Advancing Health menunjukkan bahwa siswa SMA yang mengira dirinya kelebihan berat badan lebih berisiko mengalami depresi dan kecenderungan bunuh diri ketimbang teman-teman sebayanya yang bertubuh 'normal'. Studi tersebut juga menunjukkan perilaku fat-shaming justru membuat orang cenderung lebih mudah naik berat badan.

Ahli syaraf Gariel Gavin dalam tulisannya yang dimuat di Psychology Today menambahkan bahwa fat-shaming dapat meningkatkan risiko gangguan pola makan dan memunculkan masalah kesehatan mental lainnya.


(hst/hst)

Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com,
Telepon 021-7941177

Wolipop's Social Media

@ redaksi@wolipop.com