Minggu, 16/04/2017 16:23 WIB

Ini Alasan Wanita Dipakaikan Cincin Berlian Saat Bertunangan

Rahmi Anjani - wolipop
Ini Alasan Wanita Dipakaikan Cincin Berlian Saat Bertunangan Foto: Domino
Jakarta - Meski bukan budaya asli Indonesia, cukup banyak pasangan yang menggelar pertunangan setelah si wanita setuju dipersunting si pria. Tak jarang, di momen tersebut wanita dipakaikan cincin sebagai pertanda sudah hampir jadi 'milik orang'. Di Eropa atau Amerika, tak jarang cincin pertunangan dihiasi berlian berkilauan yang lebih mewah dari cincin pernikahan. Sering pula, cincin itu diwariskan pada anak lelaki untuk dipakaikan pada calon istrinya.

Pernah penasaran mengapa ini dilakukan? Sayangnya, alasan mengapa wanita dipakaikan cincin berlian saat tunangan tidak terlalu romantis bahkan lebih menjurus pada bisnis.

Prosesi pertunangan dikabarkan sudah muncul di tahun 1800-an. Kala itu, di Amerika, para pria belum terpikir memberikan cincin sebagai tanda cinta kepada calon istri. Alih-alih, mereka memberikan bidal atau penutup agar jari tidak tertusuk saat menjahit. Ketika pasangan akhirnya menikah, bagian atas bidal akan dibuang sehingga benda itu bisa dijadikan cincin untuk dipakai di jari mempelai.

Berbeda lagi dengan di Inggris. Saat prosesi pertunangan, pasangan akan memotong sebuah emas atau perak menjadi dua. Mereka kemudian akan menyimpan bagian masing-masing. Lalu calon mempelai dan para tamu akan meminum segelas wine untuk meresmikan pertunangan.

Cincin pertunangan pun mulai populer di abad ke-13. Ketika itu, Pope Innocent III mendeklasarikan kewajiban waktu tunggu antara pertunangan dan pernikahan. Lalu digunakanlah cincin untuk mengikat janji yang kala itu dibuat dari besi kemduian emas. Lalu tercipta ide pemakaiannya di jari kanan berdasarkan kepercayaan Yunani dan Rowami bahwa vena dari jari itu langsung berhubungan ke jantung.

Berlian dipakai untuk cincin pertungan pertamakali oleh Archduke Macimillian dari Austria pada 1477. Awalnya hanya dipakai oleh bangsawan, cincin berlian mulai digunakan orang biasa karena strategi marketing dari DeBerrs di tahun 1930an.

Dilansir Atlantic, perusahaan tersebut memanipulasi ketersediaan dan permintaan berlian yang ditemukan di Afrika Selatan. DeBeers bahkan mempekerjakan agensi untuk mendukung penanaman ide bahwa berlian bisa dijadikan status sosial. "Dengan mempertahankan fiksi bahwa berlian adalah barang langka dan bisa diturunkan membuat mereka melindungi investasi mereka dan melambungkan harga berlian," kata Uri Friedman.

Ditambah lagi di tahun 1940-an, seorang copywriter dari agensi iklan N.W. Ayer membuat slogan terkenal, A Diamond is Forever. Sejak saat itu, orang-orang semakin yakin jika berlain pantas dijadikan 'pusaka' keluarga, dipakai untuk cincin pertunangan, bahkan sering diwariskan turun-temurun pada anak tertentu. Kurang romantis, ya?
(ami/asf)

Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com,
Telepon 021-7941177