Rabu, 12/04/2017 11:46 WIB

Potret Korban Serangan Air Keras Pemenang Sony World Photography Awards

Hestianingsih - wolipop
Potret Korban Serangan Air Keras Pemenang Sony World Photography Awards Foto: Dok. Asghar Khamseh
Tehran - Menyiram seseorang dengan air keras merupakan tindak kriminal yang sangat keji. Tidak hanya bisa membuat cacat permanen, tapi juga berpotensi menghancurkan karier, masa depan dan kondisi psikis sang korban.

Kasus penyiraman air keras saat ini banyak terjadi di India, Bangladesh juga Iran yang sebagian besar menimpa kaum wanita. Untuk meningkatkan kewaspadaan tentang penyerangan dengan air keras yang makin marak di Iran, Asghar Khamseh, seorang fotografer, memotret para korban penyiraman air keras yang kemudian dirangkum dalam pameran bertajuk 'Fire of Hatred'.

Beberapa korban penyiraman air keras yang bersedia menjadi modelnya pun membagikan kisah mereka yang menyayat hati. Kehilangan anggota keluarga, juga kehilangan masa depan.

1. Shirin
Foto: Dok. Asghar Khamseh

Shirin asal Tehran, Iran, baru berusia 14 tahun saat ia disiram air keras pada 2012 karena menolak lamaran seorang pria. Ia kehilangan mata kanan, sebagian hidung, telinga dan mulutnya juga rusak berat. Beberapa bagian tubuh lainnya mengalami luka bakar parah sehingga Shirin memerlukan banyak operasi untuk memperbaiki kondisinya. Hingga saat ini Shirin harus meneruskan prosedur operasi agar hidupnya bisa kembali normal.

2. Mahnaz Lazemi
Foto: Dok. Asghar Khamseh

Wanita 39 tahun ini mengalami kekerasan dalam rumah tangga selama menikah dengan suaminya. Mahnaz sering kali dipukuli, diserang dan disakiti. Saat ia meminta cerai, sang suaminya malah menyiramnya dengan air keras. Tindakan keji itu membuatnya kehilangan mata kiri dan salah satu telinga, hampir seluruh kulitnya juga rusak parah.

3. Masoumeh Atai
Foto: Dok. Asghar Khamseh

Pada 2008, Masoumeh menceraikan suaminya dan akhirnya hidup dengan tenang selama dua tahun. Tapi semua itu tak bertahan lama karena setelah dua tahun bercerai, wanita 33 tahun ini diserang dengan air keras oleh mantan mertuanya. Tindakan itu dilakukan mantan ayah mertua karena Masoumeh menolak rujuk dengan mantan suaminya. Masoumeh mengalami luka bakar parah dan harus kehilangan kedua penglihatannya.

4. Maryam Zamani dan Arezo Hashemi Nezhad
Foto: Dok. Asghar Khamseh

Pasangan ibu dan anak ini menjadi korban penyerangan dengan air keras pada 2010. Kala itu Maryam dan ketiga putrinya sedang tidur, ketika tiba-tiba adik iparnya menyiramkan air keras ke arahnya dan anak-anaknya. Aksi ini disinyalir karena istri dari adik laki-lakinya itu cemburu. Maryam dan Arezo yang menderita paling parah akibat penyerangan itu. Mereka telah menjalani beberapa operasi namun masih perlu melakukan beberapa kali prosedur lagi.

Maraknya Penyerangan dengan Air Keras di Iran
Seperti dikutip dari Metro.co.uk, setiap tahunnya ribuan pria maupun wanita jadi korban penyiraman air keras di Iran. Berdasarkan data statistik resmi di Iran, kasus kekerasan yang teramat keji ini makin meningkat saja dari tahun ke tahun.

Ironisnya, tak sedikit korban penyiraman air keras ini mendapat stigma dari lingkungan sosialnya dan justru disalahkan atas penyerangan itu. Bukannya mendapat dukungan materi maupun mental dari keluarga maupun masyarakat, para korban sering kali hanya dirawat di tempat pengobatan umum atau yayasan yang bergantung pada donasi.

Penyiraman air keras di Iran umumnya terjadi karena dipicu konflik keluarga, kecemburuan dan rasa sakit hati. Misalnya saja lamaran ditolak, meminta cerai atau motif balas dendam.

Asghar sendiri merupakan fotografer yang memang fokus pada isu-isu kemanusiaan. Karya fotografinya telah digunakan oleh berbagai organisasi dan surat kabar Iran sejak 2005. Atas dedikasinya itu, Asghar diganjar penghargaan L'Iris d'Or Photographer of The Year dari Sony World Photography Awards pada 2016. (hst/hst)

Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com,
Telepon 021-7941177