Senin, 20/03/2017 16:31 WIB

Kisah Nyata Pria Berbulu yang Jadi Inspirasi 'Beauty And The Beast'

Hestianingsih - wolipop
Kisah Nyata Pria Berbulu yang Jadi Inspirasi Beauty And The Beast Foto: Gramedia Pustaka Utama
Jakarta - Film live-action 'Beauty And The Beast' merajai box office, hanya beberapa hari sejak tayang global di berbagai negara, pada Jumat (17/3/2017). Film yang dibintangi Emma Watson dan Dan Stevens itu telah meraup penghasilan USD 170 juta di Amerika Serikat, dan USD 350 juta secara global.

Siapa sangka, film yang meraih popularitas besar di kalangan anak-anak hingga dewasa ini, ternyata terinspirasi dari kisah nyata. Petrus Gonsalvus, disebut-sebut sebagai manusia nyata yang menjadi inspirasi dari karakter rekaan The Beast dalam cerita romansa 'si cantik dan si buruk rupa' itu.
Kisah Nyata Pria Berbulu yang Jadi Inspirasi 'Beauty And The Beast'Foto: Dok. National Gallery of Art

Petrus adalah seorang pria yang seluruh tubuhnya dipenuhi rambut tebal. Sekilas, ia tampak seperti manusia serigala dalam dongeng. Pria yang hidup di abad 16 ini menikah dengan Catherine, seorang wanita berparas 'normal'. Pernikahan mereka menghasilkan tujuh anak dan meskipun berbeda penampilan, Petrus dan Catherine mampu mempertahankan biduk rumah tangga selama 45 tahun.

Kisah cinta mereka kemudian menjadi inspirasi bagi penulis asal Prancis, Gabrielle-Suzanne de Villeneuve. Pada 1740, Gabrielle menulis novel fantasi bertajuk 'La Belle et la Bete', mengisahkan seorang gadis cantik yang jatuh cinta kepada makhluk buruk rupa.

Novel dan kisah cinta ini kemudian menjadi cerita legendaris yang memiliki pesan moral cukup dalam. Bahwa kecantikan maupun ketampanan tidak selalu tampak dari luar, melainkan terpancar dari kebaikan hati.

Kembali ke cerita nyata, Petrus, terlahir dengan nama Pedro Gonzales di Tenerife, Canary Island, Spanyol, pada 1537. Saat lahir tubuh Petrus dipenuhi rambut lebat sehingga membuat ia terlihat seperti manusian serigala. Kondisi Petrus bukan karena sihir atau hal-hal gaib. Petrus mengalami kondisi yang disebut hypertrichosis atau sindrom Ambras.

Sindrom ini menyebabkan ketidakseimbangan hormon sehingga memicu pertumbuhan rambut yang tak terkontrol di selutuh tubuh. Hypertrichosis terbilang langka, tercatat hanya ada 50 kasus yang terjadi di Abad Pertengahan dan Petrus merupakan orang pertama yang mengalami kondisi ini.

Sebelum menikahi Catherine, kondisi Petrus kerap dikait-kaitkan dengan hal-hal mistis. Penampilannya yang penuh rambut juga menimbulkan kengerian sekaligus keingintahuan warga sekitar. Ia pun dipandang sebagai monster atau iblis yang mengincar bayi-bayi untuk dimakan hidup-hidup.

Seperti dikutip dari Mirror, kisah Petrus memang menyedihkan. Saat usianya 10 tahun, ia pernah ditangkap dan dibawa ke Prancis untuk dipersembahkan sebagai hadiah bagi Raja Henry II dan Ratu Catherine de Medici.

Alih-alih menjadikannya tontonan, Raja Henry justru memberi Petrus berbagai fasilitas bak anak raja. Mulai dari pakaian mahal, makanan hingga pendidikan di sekolah elit. Seorang seniman juga didatangkan untuk melukis sosoknya.

"Dia seorang pria bangsawan. Dia berpakaian seperti kaum bangsawan dan memegang posisi di mahkamah," ujar Roberto Zapperi, sejarawan Italia.

Setelah Raja Henry II tewas akibat pertempuran pada 1559, ia digantikan oleh Sang Ratu, yang kemudian memutuskan untuk mencarikan Petrus seorang istri. Pernikahan harus dilakukan sebagai bagian dari eksperimen raja terdahulu, untuk melihat apakah Petrus akan melahirkan anak yang juga sama dengan kondisinya.

Ratu Catherine pun mencari calon pengantin dan ia menginginkan wanita yang mentalnya cukup kuat untuk menahan keterkejutannya saat melihat sosok Petrus, manusia berbulu yang akan menjadi suaminya. Tak hanya itu, sang pengantin juga harus mampu membuat Petrus bergairah layaknya laki-laki normal.

Mempelai wanita akhirnya terpilih, dan dia merupakan putri dari seorang pelayan di pengadilan. Tidak ada tahu nama asli dari wanita tersebut, karena hingga kini ia hanya dikenal dengan nama Catherine. Aoa yang terjadi di hari pernikahan mereka masih menjadi misteri sampa saat ini. Namun diketahui mereka menjalani pernikahan yang bahagia selama 45 tahun dan menghasilkan tujuh orang anak. Lima diantaranya memiliki kondisi yang sama seperti ayahnya.

Petrus dan Catherine menghabiskan masa tua di Lake Bolsena, Capodimonte, Italia. Petrus meninggal pada 1618 di usia 81 tahun, dan menyusul Catherine, pada 1623. (hst/ays)

Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com,
Telepon 021-7941177