Senin, 13/03/2017 17:43 WIB

Pengalaman Napak Tilas di Memorial 9/11, New York City yang Bikin Merinding

Hestianingsih - wolipop
Pengalaman Napak Tilas di Memorial 9/11, New York City yang Bikin Merinding Foto: Hestianingsih
New York City - Tragedi bom 11 September (biasa disebut 9/11) yang meluluhlantahkan World Trade Center (WTC) di New York City, tidak bisa dilupakan begitu saja oleh warga The Big Apple. 11 September 2001, WTC, atau yang juga dikenal dengan Menara Kembar, hancur akibat serangan bom. Sekitar 2.977 jiwa tewas dalam serangan ini, menyisakan pedih yang mendalam bagi warga Amerika pada umumnya dan terutama anggota keluarga korban.

Alih-alih membiarkan kompleks WTC terbengkalai, pemerintah Kota New York berhasil mengubah area yang menyisakan peristiwa mengerikan dan traumatis itu menjadi salah satu destinasi wisata yang dikunjungi banyak wisatawan. Pada Agustus 2006, dibangunlah National September 11 Memorial & Museum oleh World Trade Center Memorial Foundation, bekerjasama dengan Port Authority of New York and New Jersey.
Foto: Hestianingsih

Kawasan ini pun diubah menjadi memorial, di mana pengunjung bisa melakukan napak tilas ataupun sekadar berjalan-jalan menyusuri area taman di sekitarnya. Jika ingin tahu lebih banyak lagi tentang informasi terkait serangan 11 September, bisa mengunjungi museum dengan membeli tiket masuk seharga USD 26 atau sekitar Rp 347 ribu. Anda juga bisa mengikuti tur sekaligus memasuki museum dengan biaya tambahan, menjadi total USD 35 atau sekitar Rp 467 ribu.

Museum yang dibuka pada 21 Mei 2014 ini merupakan ruang pamer dari 23 ribu foto, 10.300 artifak, dan hampir 2 ribu sejarah lisan dari para korban yang terbunuh dalam serangan 11 September, yang disumbangkan oleh para teman maupun kerabat korban. Ada pula video berdurasi lebih dari 500 jam terkait peristiwa tersebut.
Foto: Hestianingsih

Wolipop sempat mendatangi kawasan ini saat kunjungan ke New York, AS, beberapa waktu lalu. Kala itu Jumat pagi, sekitar pukul 10.00 waktu New York. Kawasan National September 11 Memorial & Museum di Greenwich Street, cukup ramai namun tidak sampai membuat berdesakan.

Tampak beberapa orang berfoto di sekitar memorial atau mengabadikan pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang saling memantulkan refleksi gedung di depannya bak sebuah cermin. Suhu kala itu sekitar 1-2 derajat Celcius, dan langit tampak biru jernih.
Foto: Hestianingsih

Terlihat antrean kecil pengunjung yang akan masuk ke dalam museum, yang tampak rapi dan teratur. Wolipop sendiri memilih untuk hanya menyusuri area luar memorial dan menyaksikan sendiri kolam dan air terjun buatan, yang sebenarnya merupakan lubang berukuran kotak besar, bekas dua dari tujuh menara kembar berdiri. Kolam ini diberi nama South Pool dan North Pool.

Baca Juga: 30 Perubahan Drastis Selebriti Dulu dan Sekarang

Di pinggiran kolam terdapat keramik yang berisi panel nama-nama korban serangan bom 11 September 2001 (korban hampir 3.000 orang), dan pengeboman di 1993 yang menewaskan enam orang. Nama-nama mereka tergrafir dengan warna emas di sepanjang keramik berwarna hitam. Tampak sejumlah orang memotret kolam memorial ini, ataupun berfoto di depannya.

Bulu kuduk sempat berdiri saat Wolipop menyaksikan kolam dan kawasan memorial ini. Bukan karena hal mistis, tapi lebih kepada tragedi massal yang pernah terjadi di tempat ini. Sulit membayangkan bahwa tempat yang kini tertata sangat rapi, terstruktur, indah dan tampak damai, dulunya adalah saksi bisu serangan teroris yang terjadi di masa pemerintahan George W. Bush Jr.
Foto: Hestianingsih

Selain memorial dan museum, ada satu tempat lagi yang menjadi daya tarik dari kawasan yang dioperasikan oleh lembaga non-profit ini. Sebuah bangunan berwarna putih dengan desain unik, berdiri di tengah-tengah memorial. Bangunan yang diberi nama Oculus ini sebenarnya adalah penghubung transportasi di stasiun World Trade Center.

Oculus merupakan bangunan baru yang didirikan pada 4 Maret 2016. Bangunan ini cukup menarik perhatian karena bentuknya yang unik, seperti susunan tulang berwarna putih. Dirancang oleh arsitek kelahiran Spanyol, Santiago Calatrava, desain menyerupai tulang yang tidak simetris ini sebenarnya merefleksikan seekor burung yang baru dilepaskan dari tangan seorang anak kecil. Atap sengaja dibuat berkisi-kisi agar bagian dalam bangunan mendapatkan pencahayaan alami yang cukup sekaligus sebagai ventilasi udara.
Foto: Hestianingsih

Bukan sekadar penghubung transportasi yang langsung terkoneksi dengan stasiun, Oculus juga difungsikan sebagai mal. Masuk ke dalam, Anda akan dibuat takjub dengan interiornya yang serba putih. Penataan ruang dibuat sangat minimalis dengan hanya beberapa toko dan butik di dalamnya. Hanya ada satu hingga dua kafe di sini yang menyediakan minuman dan makanan kecil seperti roti-rotian, sehingga bukan pilihan tepat jika Anda ke sini untuk menghilangkan rasa lapar.

Oculus banyak didatangi orang untuk berfoto, karena bagian dalamnya memang cukup Instagrammable. Jika ingin berbelanja camilan, di bagian tengah bangunan juga terdapat beberapa pop-up store yang menjual cake, cookies hingga cokelat.
Foto: Hestianingsih

Jika turun dua lantai, Anda akan langsung terhubung dengan stasiun juga West Concourse, area bagi para pejalan kaki yang dibangun dengan konsep underpass. Bagi Anda yang menyukai sejarah dan seni arsitektur kontemporer, National September 11 Memorial & Museum dan Oculus patut dikunjungi kala bertandang ke New York City. Melihat salah satu memorial bekas terjadinya sebuah peristiwa besar yang mengubah dunia, bisa jadi pengalaman berharga bagi diri sendiri maupun untuk diceritakan ke anak-cucu. (hst/hst)

Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com,
Telepon 021-7941177

Photo Gallery

Wolipop's Social Media

@ redaksi@wolipop.com