Selasa, 14/02/2017 13:07 WIB

Intimate Interview

Hijabers Aisyah Punya Cerita Gaib dan Bertaruh Nyawa Saat Naik Gunung

Arina Yulistara - wolipop
Hijabers Aisyah Punya Cerita Gaib dan Bertaruh Nyawa Saat Naik Gunung Foto: Aisyah Haerani
Jakarta - Tak hanya pria, beberapa wanita suka naik gunung. Salah satunya hijabers muda Aisyah Haerani yang mengaku hobi naik gunung. Bahkan Juara 1 Hijab Hunt 2013 itu meluangkan waktunya setahun tiga kali untuk memuaskan hobinya mendaki gunung di Indonesia.

Hingga saat ini, hijabers dengan sapaan akrab Icha itu sudah berhasil menaklukkan sepuluh gunung di Indonesia sejak 2011. Gunung Rinjani, Gunung Gede, Gunung Pangrango, Gunung Salak, Gunung Prau, Gunung Lawu, Gunung Papandayan, Gunung Sikunir, Gunung merapi, dan Gunung Ceremai, sudah pernah didakinya hingga puncak. Dari sepuluh gunung tersebut, ada beberapa gunung yang didaki lebih dari satu kali.

Selama menaklukkan gunung di Indonesia, Icha memiliki berbagai pengalaman yang tak terlupakan. Terluka saat naik gunung diakui wanita berparas manis berusia 24 tahun itu menjadi pengalaman yang sering dialaminya.

"Sering luka dan itu karena aku kurang latihan fisik kayaknya. Waktu itu pernah tumit kaki robek di Gunung Gede dan pernah bengkak besar banget di kaki kanan karena terkilir dan dipaksa jalan pas di Rinjani. Sisanya sih paling luka-luka gores karena terbentur batu atau kepleset kena ranting," cerita Icha saat dihubungi Wolipop pekan lalu melalui Whatsapp.
Hijabers Aisyah Punya Cerita Gaib dan Bertaruh Nyawa Saat Naik GunungFoto: Aisyah Haerani
Hijabers Aisyah Punya Cerita Gaib dan Bertaruh Nyawa Saat Naik GunungFoto: Aisyah Haerani

Tidak hanya luka, Icha juga punya cerita gaib saat mendaki gunung. Yang paling diingat adalah pengalaman saat mendaki Gunung Rinjani. Wanita lulusan Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma itu menuturkan kalau ia bersama timnya disasari saat berada di kawasan Gunung Rinjani.

Icha sempat kehilangan arah dan berputar-putar di tempat yang sama selama hampir 12 jam. Padahal ia sudah berusaha mengikuti jalur yang diberikan tanda. Bahkan persediaan makanan dan minuman sampai habis, ia masih tersasar.

"Waktu itu setelah selesai muncak di Rinjani rombonganku mau pindah ke Segara Anak dan akhirnya kita turun dari Sembalun ke Segara Anak sekitar jam 3 dengan asumsi dari orang sekitar akan tiba paling lambat setelah maghrib jam 7. Nah aku sama dua orang temanku itu berangkat terakhir kita bertiga jadi tim sweeping dan dua orang lagi tim advance sudah jalan duluan dari jam setengah 3. Padahal di sepanjang jalan mereka sudah kasih tanda di pohon sama batu tapi selama dijalur itu kita nggak sampai juga. Kita selalu lewat jalur yang sama berkali-kali dan kita sama sekali nggak lihat pendaki lain dijalur itu. Sampai jam 12 malam kita masih di tengah trek. Lumayan frustasi saat itu karena kehabisan air dan makanan. Akhirnya temanku bikin SOS lewat lampu headlamp sekitar jam 1 dan baru ada balasan dari bukit sebelah. Begitu sampai sekitar jam 2-an di sana orang-orang bilang kalau mereka masih banyak dijalur pendakian sekitar jam 8 sampai 9 tapi kita sama sekali nggak lihat pendaki lainnya. Ada yang bilang sih itu lagi dikerjain sama penghuni di situ," kisah Icha kemudian.
Hijabers Aisyah Punya Cerita Gaib dan Bertaruh Nyawa Saat Naik GunungFoto: Aisyah Haerani
Hijabers Aisyah Punya Cerita Gaib dan Bertaruh Nyawa Saat Naik GunungFoto: Aisyah Haerani

Selain pengalaman gaib, Icha juga pernah hampir membahayakan nyawanya ketika mendaki gunung. Ia terserang hipotermia saat berada di Gunung Prau. Kondisi wanita yang kini bekerja di Bandung tersebut sudah terbilang kritis. Cuaca yang hujan terus-menerus semakin membuat tubuhnya drop hingga tidak sadarkan diri.

Icha mengaku pasrah kala itu. Ia sudah tak kuat untuk bertahan karena kondisinya sangat buruk sampai pingsan dan tubuhnya dingin. Namun pertolongan teman-teman perempuan dengan memeluknya tanpa busana agar tubuh Icha tetap hangat membuat ia pulih kembali.

"Bisa dibilang kritis. Aku sudah pasrah saja hari itu tuh untung Allah masih sayang. Cuaca lagi kurang bagus jadi kehujanan terus dari awal sampai tempat camp dan ditambah fisik aku juga lagi nggak fit karena nggak banyak makan atau ngemil selama di trek untuk isi energi. Untungnya teman-temanku langsung sigap untuk meredakan hipo aku saat itu, mereka langsung paksa aku minum air gula merah hangat dan dibalurin minyak kayu putih sekujur badan. Yang perempuan harus meluk bersentuhan kulit supaya suhu badan aku bisa normal lagi. Di saat itu aku sudah nggak sadar sama sekali jadi mereka yang panik dan berusaha supaya aku sadar lagi, tapi setelah sadar dan tahu gimana kejadiannya aku jadi salut banget sama mereka dan nggak akan pernah lupa," tambahnya.
Hijabers Aisyah Punya Cerita Gaib dan Bertaruh Nyawa Saat Naik GunungFoto: Aisyah Haerani
Hijabers Aisyah Punya Cerita Gaib dan Bertaruh Nyawa Saat Naik GunungFoto: Aisyah Haerani

Meskipun memiliki ragam pengalaman yang berisiko selama naik gunung, Icha mengaku tidak kapok. Bahkan dalam waktu dekat ia berencana ingin menaklukkan satu gunung lagi di Indonesia yang disebut-sebut paling sulit yakni Gunung Kerinci. Bukan hanya itu, Icha juga punya nazar untuk mengakhiri perjalanan mendakinya di Nepal dengan naik Gunung Everest.

Di akhir kata, Icha mengatakan kalau naik gunung memang butuh perjuangan tapi pengalaman dan pemandangan yang didapatkan saat di puncak seolah membayar semuanya. Ia pun semakin mencintai alam sejak hobi naik gunung.

"Aku suka traveling dan keindahan alam jadi puas banget kalau naik gunung itu pemandangannya bagus, bagus banget. Ditambah karena semakin sering aku naik gunung dan semakin sering melalui peristiwa-peristiwa yang kadang nggak masuk akal jadi aku semakin merasa kalau Allah itu dekat bahkan lebih dekat dari urat nadi yang berdetak. Jadi lebih merasa dekat saja sama pencipta alam semesta," tutupnya. (ays/ays)

Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com,
Telepon 021-7941177

Photo Gallery

Wolipop's Social Media

@ redaksi@wolipop.com