Senin, 30/01/2017 18:59 WIB

Rotan Sampai Boneka, Ini Produk Rumah dari Indonesia yang Mendunia

Daniel Ngantung - wolipop
Rotan Sampai Boneka, Ini Produk Rumah dari Indonesia yang Mendunia Foto: Daniel Ngantung/Wolipop
Jakarta - Jauh sebelum membuka toko pertamanya di Indonesia pada Oktober 2014 silam, IKEA sudah memasarkan produk Tanah Air ke seluruh penjuru dunia. Sebuah pencapaian yang membuktikan bahwa produk dalam negeri juga mampu bersaing di pasar dunia.

Indonesia sudah menjadi pemasok raksasa perabotan rumah asal Swedia itu sejak 20 tahun silam. Sampai saat ini, sudah ada 11 produsen yang karya-karyanya diekspor ke hampir 389 toko IKEA di 48 negara. Tercatat 8 persen dari total produk IKEA di seluruh penjuru dunia adalah buatan tangan-tangan Indonesia.

Rotan Sampai Boneka, Ini Produk Rumah dari Indonesia yang MenduniaFoto: Daniel Ngantung/Wolipop

Diungkapkan General Manager IKEA Indonesia Mark Magee, Indonesia terkenal dengan bahan-bahan berserat alami, seperti rotan dan tekstil. Karena itu, Indonesia menjadi penyumbang terbesar produk-produk yang terbuat dari bahan tersebut. Adapun rancangan merupakan tanggung jawab tim desain IKEA pusat.

Salah satu produk Indonesia yang mendominasi pasar IKEA adalah mainan anak, termasuk soft toy dengan desain buatan Naurazka Salsabila, usia 9 tahun, pemenang IKEA Drawing Competition 2015 silam.

"Hampir semua produk soft toys di IKEA datang dari Indonesia. Setelah itu ada gorden dan kursi taman yang terbuat dari rotan," ungkap Mark di IKEA Alam Sutera, Tangerang Selatan, Senin (30/1/2017). Selain itu ada pula papan tulis, meja anak, rak kayu untuk kamar mandi.

Rotan Sampai Boneka, Ini Produk Rumah dari Indonesia yang MenduniaFoto: Daniel Ngantung/Wolipop

Produk tersebut, lanjut Mark, cukup mendapat respons positif dari pasar dunia terbukti dari volume ekspornya yang masih terjaga. Namun ia tidak dapat mengungkapkan data pasti tren produk Indonesia yang diekspor.

Untuk menjadi pemasok produk IKEA, para produsen, termasuk di Indonesia, harus memenuhi beberapa kriteria. "Tentunya mereka harus punya pemahaman yang sama dengan kami, mulai dari kualitas, harga, volume, dan ketersediaan barang," kata Mark.

Di samping itu, produsen juga harus menjalankan usaha yang beretika. Misal mereka tidak boleh memperkerjakan anak di bawah umur dan membayar pekerja sesuai upah minimum regional (UMR). (dtg/dtg)

Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com,
Telepon 021-7941177

Photo Gallery

Wolipop's Social Media

@ redaksi@wolipop.com