Love Expert
Anna Surti Ariani

Psikolog Anak dan Keluarga
Psikolog di Klinik Terpadu Universitas Indonesia, Pendiri Situs Pranikah, Twitter: @AnnaSurtiNina
Senin, 16/01/2017 18:45 WIB

Kelebihan Mantan Kekasih Selalu Diungkit, Bagaimana Harus Bersikap?

Anna Surti Ariani - Wolipop
Kelebihan Mantan Kekasih Selalu Diungkit, Bagaimana Harus Bersikap? Foto: Thinkstock
Jakarta - Saya tahu kalo istri saya masih mencintai mantannya saat kami menikah. Dulu dia sering sekali mengungkit kelebihan dan kehebatan mantannya di depan saya. Adalah kesalahan saya sendiri saat mulai berselingkuh, walau sikap istri termasuk salah satu pendorongnya. Sekarang saya masih bimbang, walau sebenarnya saya ingin kembali ke keluarga demi kedua anak kami yang masih kecil. Apakah istri saya sudah melepaskan mantannya? Dia selalu ngotot dia mencintai saya, karena dia nggak akan mau menerima saya kembali kalau tidak. Saya meragukannya, karena saya tidak merasakan kalo istri menghormati dan menghargai saya sebagai suaminya. Apakah lebih baik kami rujuk atau malah bercerai saja?

(John Ang, 41 Tahun)

Jawab:

Hai John Ang,

Saya setuju bahwa perilaku istri untuk mengungkit kelebihan dan kehebatan mantannya di depan Anda adalah perilaku yang salah. Tak heran Anda jadi merasa kurang dihormati dan dihargai. Di sisi lain, saya juga setuju bahwa saat Anda berselingkuh, walaupun terasa 'didorong' sikap istri, itu adalah keputusan salah yang Anda ambil.

Kalau Anda dan istri sama-sama bersikeras mempertahankan kesalahan masing-masing, maka Anda berdua akan jadi tidak bahagia, baik sebagai diri sendiri maupun sebagai pasangan. Justru saat ini adalah kesempatan yang baik untuk memperbaiki kesalahan Anda masing-masing. Istri sudah memulainya dengan menyatakan kesediaan menerima Anda kembali.

Jika Anda berdua sekadar bersatu kembali tanpa menyelesaikan masalah-masalah yang kemarin mengganggu, maka Anda berdua rentan melakukan kesalahan yang sama lagi. Oleh karena itu Anda berdua perlu membahas secara tuntas apa yang hendaknya tidak diulang lagi, dan apa yang diharapkan.

Lakukan pembahasan secara kongkrit. Jangan hanya mengatakan, "Saya ingin menjadi suami yang lebih baik," karena 'baik' itu sangat relatif, bisa berbeda definisi pada setiap orang. Anda berdua bisa menyepakati apa yang disebut 'baik' itu. Misalnya kalimat apa yang sebaiknya sering diulang oleh satu sama lain dan mana yang dihindari. Perilaku apa yang sebaiknya dilakukan, dan mana yang sebaiknya tidak. Lakukan juga evaluasi apakah perubahan yang telah dilakukan sudah dirasakan oleh satu sama lain, dan apakah hubungan dirasa membaik. Hal apa lagi yang perlu ditambahi atau dikurangi.

Jika itu semua sulit dilakukan, maka ada baiknya Anda berdua datang ke psikolog perkawinan / keluarga untuk berkonsultasi. Apapun keputusan yang akan diambil kelak harus ditelaah secermat mungkin agar dapat menghindar dari masalah besar di kemudian hari. (hst/hst)

Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com,
Telepon 021-7941177

Wolipop's Social Media

@ redaksi@wolipop.com