Rabu, 11/01/2017 15:21 WIB

Tak Pernah Puas dengan Penampilan, Waspada Alami Gangguan Psikologis

Kiki Oktaviani - wolipop
Tak Pernah Puas dengan Penampilan, Waspada Alami Gangguan Psikologis Foto: Thinkstock
Jakarta - Obsesif kompulsif merupakan gangguan terhadap suatu hal yang dilakukan berulang karena adanya obsesi. Di dunia kecantikan ternyata ada juga orang yang mengalami gangguan tersebut. Mereka yang terus-menerus tidak merasa cantik dan melakukan prosedur kecantikan seperti operasi plastik atau botox tanpa henti juga masuk ke golongan obsesif kompulsif.

Penjelasan tersebut disampaikan oleh pakar kecantikan dan pendiri Miracle Clinic Group dr. Lanny Juniarti, Dipl. AAAM. Obsesif kompulsif termasuk gangguan psikologis yang harus diwaspadai. Menurut dr. Lanny, wanita yang sudah kecanduan dengan prosedur kecantikan tertentu biasanya bukan lagi karena mereka ingin cantik tapi lebih kesebuah obsesi yang tidak nyata.

"Hati-hati kalau sudah fokus hanya pada satu perawatan saja. Misalnya, terus-terusan melakukan prosedur pemancungan hidung sampai jadi tidak realistis. Itu berarti dia sudah alami disorder (gangguan)," ungkap dr. Lanny.
Tak Pernah Puas dengan Penampilan, Waspada Alami Gangguan PsikologisFoto: Thinkstock

Semakin banyak kasus wanita ataupun pria yang alami gangguan psikologis karena obsesinya yang sudah lagi tidak masuk akal. Seperti wanita yang ingin mirip seperti Barbie atau ingin mirip seperti Kim Kardashian. Atau wanita ini yang bernama Jocelyn Wildenstein yang kecanduan operasi plastik ingin mirip kucing. Tapi apa jadinya? Wajahnya malah tampak seram.

Tak Pernah Puas dengan Penampilan, Waspada Alami Gangguan PsikologisFoto: Jocelyn Wildenstein (dok. Getty Images)


Dr. Lanny sebagai pakar kecantikan sekaligus memiliki klinik kecantikan merasa bertanggung jawab atas hal tersebut. Menurutnya, ahli estetika harus memiliki peran yang bijak ketika klien mereka sudah terlalu banyak permintaan tentang prosedur kecantikan yang mereka inginkan.

"Dokter bisa mengatakan tidak. Miracle Clinic bisa melihat jika pasien sudah di titik tidak bisa melakukan prosedur kecantikan lagi. Kita sebagai dokter juga harus melihat psikologinya juga, itu penting. Jika juga harus mengamati jika melihat ini pasien sudah sampai tahap obsesi. Dia harus berhati-hati," jelas dr. Lanny.

Kalau sudah menangangi klien yang keras kepala karena hanya ingin melakukan prosedur pemancungan hidung saja misalnya, dr. Lanny dan timnya biasanya langsung memberikan edukasi. Menurut dr. Lanny, edukasi kepada klien sangat penting untuk membuat mereka tetap pada batasannya.

"Biasanya kita harus break dulu perawatannya. Lalu memberikan edukasi. Setelah itu biasanya kita tawarkan alternatif perawatan lainnya supaya tidak hanya obsesi pada satu perawatan saja," kata dokter berambut pendek itu. (kik/kik)

Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com,
Telepon 021-7941177

Photo Gallery

Wolipop's Social Media

@ redaksi@wolipop.com