Jumat, 02/12/2016 08:43 WIB

Victoria's Secret Fashion Show 2016

Cerita Rinaldy A. Yunardi, Desainer Lokal Buat Sayap di Victoria's Secret 2016

Alissa Safiera - wolipop
Cerita Rinaldy A. Yunardi, Desainer Lokal Buat Sayap di Victorias Secret 2016 Foto: Daniel Ngantung
Jakarta - Karya desainer lokal sudah mulai dipandang dunia. Pernyataan ini tentu tak berlebihan dengan semakin banyak desainer yang menyita perhatian di industri mode dunia.

Sehari lalu netizen ramai membicarakan salah satu sayap yang dipakai saat fashion show Victoria's Secret yang ternyata buatan dua desainer Indonesia. Model Izabel Goudart memakai sayap hitam yang dibuat dari 3D printing hasil karya Tex Saverio. Sementara Devon Windsor memakai karya Rinaldy A. Yunardi. Kedua model tampil dalam tema koleksi 'Dark Angel' yang bernuansa serba hitam.

Lalu, bagaimana proses di baliknya? Wolipop berbincang dengan desainer Rinaldy A. Yunardi untuk mendengar ceritanya. Dari desainer yang akrab disapa Yung Yung ini, terungkap jika proyek Victoria's Secret telah dikerjakan selama tiga bulan lalu.

"Awalnya sekitar tiga bulan lalu, Tex Saverio yang menghubungi aku untuk proyek VS ini. So, aku jawab 'Ok, yuk!'" terang Yung Yung kepada Wolipop, Kamis (1/11/2016) lalu.
Cerita Rinaldy A. Yunardi, Desainer Lokal Buat Sayap di Victoria's Secret 2016Foto: Getty Images


Dari sebuah ajakan, muncullah ide untuk membuat sayap dengan nuansa hitam yang misterius. Inspirasinya tak lain dari tema Dark Angel sendiri. Menurutnya desain ini sangat menggambarkan karakter rancangan Yung Yung dan Tex yang memang sering mengangkat dominasi warna hitam.
Pagi hari kemarin, foto-foto fashion show Victoria's Secret rilis dan menjadi banyak pemberitaan. Foto model yang memakai karya dua desainer pun ramai di repost netizen yang bangga atas karya lokal. Akun Instagram sekaligus ponsel Yung Yung pun ramai mendapat notifikasi.

"Semalam habis banyak kegiatan, badan kecapekan. Kaget aja dari pagi hp bunyi terus. Ya kaget dan happy banget, karena kan kirim sayapnya sudah lumayan lama," lanjut desainer aksesori yang sudah berkarya sejak 1996 ini.

Proses pengerjaan sayap langsung dikerjakan Yung Yung setelah mendapat ajakan dari Tex. Ia membuat desain dan mengirimkannya kepada Victoria's Secret. Desainnya pun ternyata tak mendapat revisi, sehingga bisa langsung dieksekusi dalam bentuk nyata.

"Tidak ada gonta-ganti desain. Ya mungkin gini ya cara mereka menghargai karya seorang desainer," tambahnya.

Sayap yang dipakai Devon Windsor menggunakan bahan kawat atau wire. Tekniknya diambil dari teknik tradisional Indonesia bernama filigree, yaitu membuat ornamen dari metal atau kawat sebagai perhiasan. Desain dan bentuk pun sengaja dibuat tajam dan struktural. "Untuk kesan misterius," tutupnya.

Rinaldy A. Yunardi telah menjadi desainer aksesori sejak tahun 1996. Iapun menjadi yang pertama di Indonesia dan Asia, yang dilabeli sebagai desainer aksesori couture oleh Asian Couture Federation.
(asf/asf)

Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com,
Telepon 021-7941177

Photo Gallery

Wolipop's Social Media

@ redaksi@wolipop.com