Kamis, 11/08/2016 18:18 WIB

Kisah Haru Ibu Donorkan 131 Galon ASI Setelah Kehilangan Bayinya

Daniel Ngantung - wolipop
Kisah Haru Ibu Donorkan 131 Galon ASI Setelah Kehilangan Bayinya Foto: Today/Keluarga Fransen
Jakarta -
Duka tidak menghentikan seorang Demi Frandsen untuk beramal. Meski harus kehilangan putranya yang masih bayi, ia tetap mendonasikan air susu ibu (ASI) untuk mereka yang membutuhkan. Dengan donasi 131 galon ASI, ia menoreh rekor sebagai pendonor ASI terbanyak dalam sejarah AS.

Wanita asal Omaha, AS, ini harus menghadapi kenyataan pahit ketika putra keduanya, Leo, lahir secara prematur, sekitar dua bulan lebih dari perkiraan. Terlahir dengan bobot 1,1 kg, bayi mungil tersebut mengalami gastroschisis. Kondisi ini menyebabkan kulit tidak terbentuk secara sempurna sehingga mengekspos organ vital bayi.

Prosedur operasi penempatan ulang bisa menjadi solusi. Namun ukuran tubuh Leo yang terlalu mungil serta paru-parunya yang belum terbentuk sempurna tidak memungkinkan prosedur tersebut.



Mengingat kondisi tubuhnya yang ringkih, Leo harus 'diasingkan' di ruang ICU Omaha Children's Hospital & Medical Center. Demi sendiri baru diijinkan untuk menggendong bayinya kali pertama setelah sebulan melahirkan.

"Aku tidak pernah melupakan tatapan matanya saat pertama aku menimangnya. Itu adalah momen terindah dalam hidupku," kenang Demi seperti dikutip Today.

Demi selalu berada di sisi anaknya. Begitu pula sang suami, Jeff, yang ketika itu sedang menamatkan kuliah kedokterannya. "Jeff belajar sambil menemani Leo tidur," kata Demi yang telah dikaruniai seorang putra bernama Sawyer.



Hari-hari Leo penuh dengan perawatan yang intens. Selang-selang medis tampak terpasang di tubuhnya yang mungil.

Dengan kondisinya yang kritis, Leo tidak dapat menyusu. Tapi nalurinya sebagai ibu, Demi tetap memompa ASI sebagai stok dengan harapan bisa Leo konsumsi kelak saat sudah pulih. Waktu memompanya sudah terjadwal. Ia mendedikasikan tiga jam setiap hari selama enam bulan demi memompa ASI. "Untuk menstimulasi ASI, aku menimang sekantong nasi panas agar menyerupai hangatnya tubuh seorang bayi sambil menatapi foto malaikat kecilku, Leo," cerita Demi.

Jeff dan Demi berharap kondisi Leo berangsur pulih seiring berjalannya waktu. Namun kenyataan berkata lain. Setelah 'berjuang' selama 10 bulan, malaikat kecil Jeff dan Demi mengembuskan napas terakhirnya pada 22 Oktober 2015.



Meski Leo telah tiada, dorongan untuk memompa ASI tetap ada. "Menyuruh tubuhku berhenti memproduksi ASI untuk anak yang sudah tidak ada lebih menyakitkan ketimbang tidak dapat menyusuinya saat dia masih ada. Tapi itu naluri seorang ibu untuk memenuhi kebutuhan anaknya," kata Demi.

Awalnya Demi tidak tahu apa yang harus diperbuat dengan stok ASI tersebut hingga akhirnya bertemu Tammi Martin, seorang konsultan ASI. Tammi menyarankan Demi untuk mendonorkan ASI-nya bagi bayi-bayi yang sakit. "Demi paham betapa bernilai ASI-nya dan ingin berbagi dengan mereka yang membutuhkan," ujar Tammi.

Berkat komitmen tersebut, Demi sudah berhasil mendonasikan sekitar 496 kg ASI dalam 131 galon untuk sejumlah rumah sakit anak. "Aku paham betapa depresinya menginginkan bayi kita sembuh. Aku pun ingin menolong para ibu yang mungkin merasakan hal yang sama denganku. JIka mereka membutuhkan ASI-ku untuk bayi mereka, Aku merasa terhormat bisa berkontribusi kecil dalam perjuangan si bayi," katanya.
(dng/dng)

Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com,
Telepon 021-7941177