Kamis, 05/05/2016 09:06 WIB

7 Desainer Tampilkan Keindahan Kain Indonesia Barat di JFFF 2016

Alissa Safiera - wolipop
7 Desainer Tampilkan Keindahan Kain Indonesia Barat di JFFF 2016 Foto: Muhammad Abduh
Jakarta - Keindahan kain Nusantara menandai dibukanya perhelatan mode Jakarta Food and Fashion Festival (JFFF) di tahun ini. Eloknya kain Indonesia bagian barat pun dikemas cantik oleh tujuh desainer lokal sebagai pembuka yang memukau di JFFF, yaitu kreasi Didi Budiardjo, Priyo Oktaviano, Chossy Latu, Ghea Panggabean, Itang Yunasz, dan desainer muda Hian Tjen.

Setelah berbagai sambutan, yang menarik adalah pihak penyelenggara selalu total mempresentasikan tema Indonesia sebagai konsep utamanya. Panggung runway dihiasi tari-tarian khas Indonesia, kemudian dilanjutkan dengan transisi tampilan busana modern dari wastra Indonesia rancangan para perancang mode.

Chossy Latu dengan segala ciri khasnya memulai presentasinya di hadapan para pengamat mode. Dress-dress mini dihadirkan bersama outer boxy panjang berpotongan tegas dan struktural. Sebagai pesan jika karyanya juga bersahabat bagi kaum muda, thigh high boots dipilih sebagai padanan dari busana berbahan kain Sumatra Barat itu.



Selain itu dihadirkan pula gaun-gaun panjang yang diberi dimensi dengan kain bertekstur sequin sebagai padanannya. Potongan gaun dibuat lurus dan ditampilkan bersama jaket crop yang khas gaya Chossy sejak lama

Diikuti oleh Ghea Panggabean, senantiasa berkreasi memakai kain dan potongan yang loose. Gaya etnik ditampilkan antara kain dililit sebagai rok, kamisol dan outer berbahan ringan. Sentuhan Indonesia pun dihadirkan lewat teknik pewarnaan jumputan yang khas.



"Jumputan adalah salah satu pemberian motif yang terlama, sebelum batik. Saya beri nama Pelangi yang artinya harapan, karena saya punya harapan agar kain Indonesia bisa senantiasa dilestarikan bersama dan dikenal dunia," pungkas Ghea sebelum presentasi karya.

Lilitan kain membentuk aksen draperi yang memberi dimensi pada koleksi Ghea. Potongan loose serta teknik mengikat kain tadi dapat pula dijadikan contoh untuk memanfaatkan kain wastra Indonesia secara maksimal, tanpa perlu menyiakannya dengan cara memotong.



Gaya yang jauh berbeda dari Hian Then dengan kain khas Baduy luar pilihannya. Nuansa pastel rasanya cocok dengan target pasar yang memang ditujukan bagi generasi Millennial. Crop top menjadi caranya menggambarkan kain wastra dalam cara yang muda.

Dikreasi perdananya dengan kain tradisional, perancang gaun malam dan bridal itu atasan crop dipadukan bersama rok lebar atau celana pendek yang tampak kasual. Namun tetap ada ciri Hian Tjen yang glamour, yakni tatanan payet di atas tenun Baduy yang terkenal dengan motif kotaknya.

Itang Yunasz kemudian menghadirkan nuansa yang lebih ceria dan hangat pada modestwear rancangannya. Kain-kain bermotif garis lurus berwarna-warni dipercantik bordir bunga yang diletakkan di beberapa sisi. Selain menghadirkan gamis potongan longgar, Itang juga memberi variasi dengan tunik yang dihiasi detail potongan asimteris.

Lurik yang cantik kemudian mendominasi panggung catwalk milik Priyo Oktaviano. Lewat label Spous, Priyo yang dalam karya lalu mengambil inspirasi dari kerajaan Prancis yang sarat dengan potongan feminin, kali ini menawarkan karya yang lebih edgy.



"Saya ambil dari kota kelahiran saya, Kediri. Banyak bermain grafis dan agar tampil urban, modern dan bisa dipadupadankan. Terinspirasi juga dari kuda lumping," ujarnya.

Sapuan warna berbeda dari kain lurik bergaris ditata berdampingan dengan teknik patchwork. Dihadirkan lewat atasan peplum berdetail cutout dan juga terusan-terusan berpotongan asimetris yang dinamis.

Terakhir adalah Didi Budiardjo. Lewat 7 karya bernuansa biru indigo, kain dari daerah Tuban, yakni Gedog dikemas kekinian bersama material denim. Potongan longgar dan loose dihadirkan dengan proporsi fit and flare. Misalnya atasan crop bermotif disandingkan bersama celana kulot melebar. Jaket-jaket boxy juga dihadirkan dan outer berlapel lebar. Beberapa dikemas secara unik, yang bagian depannya tampak klasik, namun ketika model menghadap belakang, bagian gaun dihiasi kantung layaknya celana jeans.

Ketujuh desainer menafsirkan kain khas Indonesia Barat dalam cara berbeda. Namun tujuannya sama, yakni mengangkat kekayaan bangsa dalam balutan modern dan siap diterima publik.

"Tiap desainer memiliki preferensi sendiri. Itu kewajiban desainer untuk memperkenalkan budaya agar roda ekonomi dapat bergerak baik dan menyejahterakan orang banyak," tutup Didi Budiardjo.

(asf/eny)

Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com,
Telepon 021-7941177

Wolipop's Social Media

@ redaksi@wolipop.com