Kamis, 28/04/2016 12:40 WIB

Memasuki Era MEA, Wanita Indonesia Harus Belajar Investasi. Ini Alasannya!

Daniel Ngantung - wolipop
Memasuki Era MEA, Wanita Indonesia Harus Belajar Investasi. Ini Alasannya! Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Jakarta - Memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), Anda, para pekerja wanita, harus lebih kompetitif mengingat persaingan yang lebih ketat. Mengandalkan keahlian kerja saja tidak cukup, Anda sebaiknya membekali diri dengan investasi sehingga lebih tangguh menghadapi MEA.

Begitulah saran Lisa Thomas, praktisi dan konsultan finansial, dalam diskusi 'Menghadapi MEA, Jadilah Perempuan Profesional Tangguh' yang digelar Soroptimist International Kemang (SIK) di Perpustakaan Kemendikbud, Jakarta, Rabu (27/4/2016) malam. Lisa menjelaskan, wanita harus memiliki jiwa yang tangguh supaya dapat bersaing di era MEA. Ketangguhan itu meliputi hal yang terkait dengan finansial pribadi.

Supaya tangguh secara finansial, maka wanita harus cermat mengelola keuangannya, salah satu caranya dengan berinvestasi. Dengan berinvestasi, menurut Lisa, wanita menjadi lebih mandiri secara finansial sehingga memampukannya bersaing lebih optimal dan tidak mudah goyah saat tantangan datang.

"Kalau kita tidak bisa independen secara  finansial, bagaimana kita bisa independen untuk berkompetisi. Sulit rasanya bersaing bila kita sendiri masih mengkhawatirkan kondisi keuangan kita," kata Senior Manager Client Relationship BNP Paribas Investment Partners itu.

Ia menambahkan, investasi semakin krusial lagi bagi para wanita yang sudah berkeluarga. Suami memang bertanggung jawab menafkahi istri dan anak-anaknya. Tapi para istri, baik ibu rumah tangga maupun berkarier, tidak bisa selamanya mengandalkan suami.

"Saat suami kita meninggal atau di-PHK, siapa yang akan menyokong kebutuhan keluarga kalau bukan kita. Oleh karena itu, para wanita harus siap secara finansial," tegas Lisa.

Sayangnya, lanjut Lisa, masih banyak wanita Indonesia yang belum teredukasi dengan baik tentang pentingnya berinvestasi. Untuk pengetahuan investasi sendiri, wanita Indonesia masih tertinggal dari wanita di negara-negara ASEAN lainnya seperti Singapura, Malaysia, dan Malaysia.

Terkait pemilihan jenis instrumen investasi, Lisa menyarankan berinvestasi dengan instrumen yang sesuai tujuan hidup, entah itu jangka pendek, menengah, dan panjang. Jangka pendek mencakup kebutuhan pokok, sementara yang termasuk tujuan jangka menengah di antaranya mempersiapkan pendidikan anak, dan membayar berbagai cicilan. Adapun jangka panjang terkait persiapan pensiun agar hidup tidak bergantung  pada orang lain. "Maka dari itu, sedini mungkin kita harus bisa disiplin menentukan tujuan hidup kita," katanya.

Bagi pemula, Lisa menyarankan menginvestasikan uangnya di instrumen yang aman seperti ORI atau sukuk yang dikeluarkan pemerintah. "Kalau itu risikonya ditanggung pemerintah, bunganya juga lebih tinggi sedikit dari deposito," katanya.

Jika ingin yang ingin lebih berisiko, ada reksadana dan saham. Agar keuntungan yang didapatkan lebih maksimal, Lisa menyarankan untuk berinvestasi tidak hanya pada satu instrumen saja.  (dng/eny)

Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com,
Telepon 021-7941177

Wolipop's Social Media

@ redaksi@wolipop.com