Senin, 04/01/2016 13:17 WIB

Intimate Interview

Dhyoti Basuki Jatuh Hati pada PR, Profesi yang Sering Dituding Jual Tampang

Daniel Ngantung - wolipop
Dhyoti Basuki Jatuh Hati pada PR, Profesi yang Sering Dituding Jual Tampang Foto: Daniel Ngantung
Jakarta - Dhyoti Basuki-Ramdani telah menggeluti dunia hubungan masyarakat (humas) atau public relations (PR) selama hampir belasan tahun. Wanita yang kini menjabat sebagai Head of Public Relations & Digital Intel Indonesia Corporation itu berbagi cerita tentang suka-dukanya sebagai humas, profesi yang dulunya kerap dipandang sebelah mata orang.

Wolipop berkesempatan bertemu dengan wanita kelahiran Jakarta, 7 Mei 1977, itu beberapa waktu lalu di kantornya di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan. Perawakan Dhyoti memang seperti para wanita PR umumnya: berparas elok dan modis. Siang itu, ia mengenakan dress batik penuh warna bergaya kaftan yang dipadu dengan legging hitam dan velvet heels berwarna biru. Tapi Dhyoti bukan tipikal wanita yang sekedar menjual tampang.

Lulus sebagai Sarjana Ilmu Politik (jurusan Hubungan Internasional) Universitas Parahyangan, Bandung, 1999 silam, sulung dari tiga bersaudara ini sebetulnya bercita-cita menjadi seorang diplomat. Tapi peluang yang menghampirinya selepas tamat kuliah adalah bekerja di bidang komunikasi, yakni di agensi humas multinasional.

"Dulu orang-orang masih meremehkan profesi PR. Mereka bilang, 'ngapain jadi PR, paling jual tampang doang'," kata wanita yang mengidolakan tokoh politik Madeleine Albright dan Benazir Bhutto itu.

Terlepas dari anggapan miring orang banyak, ia tetap menerima tawaran bekerja sebagai humas. Dhyoti pun merasakan sendiri bahwa apa yang selama ini orang pikir tentang profesi humas ternyata salah besar.

Sebagai konsultan, ia bertanggung jawab untuk menyusun strategi dan program kehumasan para kliennya. Di sisi lain, profesinya juga seperti event-organizer, yakni membuat berbagai acara yang berkaitan dengan produk kliennya. "Ini adalah pekerjaan yang menuntut kreativitas tinggi," ujarnya.

Semakin 'kreatif' lagi karena ia juga harus bisa menangani kebutuhan klien dalam situasi darurat. "Misal, susu produksi perusahaan klienku ternyata bermasalah dan meracuni orang hingga jatuh korban, berarti aku harus segera membuat strategi komunikasi bagaimana perusahaan harus berbicara kepada media, publik, sekaligus korban dan keluargannya," terang Dhyoti.

Berprofesi sebagai PR selama belasan tahun, wanita yang gemar memasak ini telah menangani klien dari berbagai bidang usaha. Dari produk makanan dan minuman, perminyakan, hotel, perbankan, hingga teknologi.

Menangani klien lintas industri membuat Dhyoti belajar banyak dan memperluas jaringannya karena berkenalan dengan orang-orang yang ahli di bidangnya. Inilah yang membuat Dhyoti semakin jatuh hati pada profesi PR.

"Selalu ada hal-hal baru yang menarik untuk dipelajari. Saat menangani klien produsen susu, tentunya aku harus belajar soal kesehatan. Aku juga berkesempatan ketemu dokter. Bekerja di bidang humas bisa memperluas pengetahuan," ceritanya.

Dengan riwayat klien yang beragam tersebut tidak mengherankan jika banyak perusahaan yang merekrutnya, tanpa terkecuali perusahaan tempatnya bekerja saat ini.

Ia resmi bergabung dengan perusahaan teknologi yang berbasis di California, AS, itu pada 2008 silam. Sebetulnya, Dhyoti tidak menduga bakal bekerja untuk Intel karena ia memang tidak pernah melamar di perusahaan tersebut. Hingga suatu saat ponselnya berdering di tengah acara yang sedang ia tangani. Di ujung telepon, seseorang dari Malaysia berbicara dalam Bahasa Inggris di ujung telepon, menawarkannya pekerjaan sebagai humas perusahaan tersebut

"Awalnya aku engga tahu itu dari Intel karena dia bilang dari perusahaan semiconductor. Sampai aku tanya maksudnya itu perusahaan lampu," kenangnya sambil tertawa malu.

Mulanya ia sempat bimbang untuk menerima tawaran tersebut karena merasa teknologi microchip dan prosesor bukanlah bidang yang dikuasainya. Karena kurang yakin, Dhyoti bahkan sampai menelepon calon bosnya untuk memastikan perusahaan tersebut benar-benar ingin merekrutnya.

"I don't do technology talks, I don't do over clocking, clock speeds, or whatever. I don't speak that. I do love gadgets. I can talk technology but based on my experience as a user," kata Dhyoti menirukan perkataannya kala itu. Justru itu, lanjutnya, yang mereka cari, yakni pribadi yang kreatif dari sisi konsumen.

Bekerja di perusahaan teknologi memiliki dinamika tersendiri sehingga membuat wanita yang pernah masuk dalam daftar Top 10 Young Woman Future Business Leader versi majalah Swa 2012 silam ini betah.

"Setiap 18 bulan, selalu ada prosesor baru yang dikenalkan. Baru selesai first gen core, eh tiba-tiba mau launching generasi keduanya. Jadi, aku tertantang untuk belajar terus," katanya.


(dng/dng)

Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com,
Telepon 021-7941177