Ramai Klinik Kecantikan Korea di Indonesia, Dokter Ungkap Hal yang Wajib Dicek
Tren bedah plastik dan prosedur estetika di Indonesia terus berkembang. Belakangan, makin banyak klinik kecantikan asal Korea Selatan hadir di Tanah Air, termasuk dokter asing yang sesekali membuka praktik di Indonesia.
Fenomena ini dinilai sebagai tanda bahwa industri estetika Indonesia semakin besar dan mulai menarik perhatian internasional. Namun di tengah tren tersebut, ahli bedah plastik dan estetik Jakarta, Dr. Enrina Diah, Sp.B.P.R.E (K), mengingatkan pentingnya pasien memahami aspek keamanan, legalitas, hingga layanan aftercare sebelum memilih dokter maupun klinik.
"Pertanyaan yang lebih tepat bukan 'klinik mana yang paling bagus', tetapi 'siapa yang akan memegang skalpel (pisau bedah) di tubuh saya, dan akan ada di mana ia dua tahun dari sekarang?'," ujar Dr. Enrina kepada Wolipop di klinik kecantikan Ultimo, Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat (5/6/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut pendiri dan Direktur Ultimo Clinic itu, masih banyak pasien memilih klinik bedah plastik berdasarkan popularitas atau hasil yang terlihat di media sosial. Padahal, keputusan menjalani operasi estetik seharusnya dipertimbangkan lebih matang karena berkaitan dengan kesehatan, proses pemulihan, hingga hasil jangka panjang.
Dr. Enrina menilai hubungan antara pasien dan dokter bedah plastik tidak bisa dipandang seperti layanan kecantikan sekali datang. Sebab, operasi estetik membutuhkan proses pendampingan dan evaluasi yang dapat berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Ia pun membagikan beberapa hal penting yang wajib dicek pasien sebelum memilih klinik kecantikan Korea maupun menjalani prosedur bedah plastik di Indonesia.
1. Cek Legalitas Dokter Asing yang Praktik di Indonesia
Menurut Dr. Enrina, masuknya klinik asing, termasuk klinik kecantikan Korea di Indonesia, sebenarnya merupakan perkembangan yang sehat bagi industri estetika. Meski begitu, pasien tetap perlu kritis dan aktif mencari informasi sebelum menjalani prosedur. Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah status legal dokter asing yang praktik di Indonesia.
"Calon pasien perlu memverifikasi: apakah dokter tersebut memiliki STR Indonesia? Jika tidak, di yurisdiksi mana ia bertanggung jawab jika terjadi komplikasi?" ujarnya.
Menurutnya, pertanyaan tersebut wajar diajukan demi keamanan dan kenyamanan jangka panjang pasien.
, Dr. Enrina Diah, Sp.B.P.R.E (kiri) Foto: Foto: Kiki Oktaviani/Wolipop |
2. Pastikan Dokter Memiliki Kualifikasi yang Tepat
Dr. Enrina menegaskan dokter yang menangani pasien harus memiliki gelar spesialis bedah plastik Sp.B.P.R.E, terdaftar di Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik Indonesia (Perapi), serta memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) aktif yang bisa diverifikasi melalui KKI.
"Ini bukan keunggulan klinik, ini batas bawah yang seharusnya tidak bisa ditawar," ujarnya.
Selain legalitas, pengalaman dokter dalam prosedur tertentu juga perlu diperhatikan. Dokter yang berpengalaman secara umum belum tentu memiliki jam terbang tinggi pada tindakan spesifik yang dibutuhkan pasien.
Karena itu, pasien disarankan bertanya langsung mengenai jumlah prosedur yang pernah dilakukan dokter dalam beberapa tahun terakhir, termasuk meminta melihat hasil pasien dengan karakteristik serupa.
3 Pahami Standar Kecantikan Korea Belum Tentu Cocok untuk Semua Orang
Foto: Thinkstock
Selain legalitas, Dr. Enrina juga menyoroti pentingnya pemahaman dokter terhadap karakter wajah dan kebutuhan pasien Indonesia. Menurutnya, pasien perlu memastikan dokter memahami karakter wajah Asia Tenggara dan tidak sekadar mengikuti tren estetika yang sedang populer di negara lain.
"Konsep 'hasil yang baik' tidak universal. Apa yang dianggap sebagai jawline ideal di Seoul belum tentu sama dengan apa yang dicari pasien Indonesia," katanya.
4. Harapan Harus Realistis
Dalam konsultasi dengan pasien, Dr. Enrina mengaku cukup sering menemukan pasien yang datang membawa referensi foto selebriti Korea maupun Hollywood. Namun menurutnya, tujuan bedah plastik bukan mengubah seseorang menjadi orang lain.
Ia menjelaskan bahwa wajah manusia merupakan sistem yang terintegrasi. Karena itu, bentuk hidung, rahang, atau dagu yang terlihat cocok pada satu orang belum tentu akan harmonis jika diterapkan pada wajah orang lain.
"Tujuan kami bukan membuat Anda terlihat seperti orang lain. Tujuan kami adalah mengembalikan Anda ke versi terbaik dari diri Anda sendiri," tuturnya.
Selain ekspektasi soal bentuk wajah, pasien juga perlu memahami bahwa hasil operasi estetik tidak bisa terlihat instan. Dr. Enrina mencontohkan prosedur facelift yang umumnya masih mengalami edema atau pembengkakan dalam dua minggu pertama setelah operasi.
"Hasil sebenarnya muncul di bulan ketiga sampai keenam, dan terus matang sampai satu tahun," jelasnya.
5. Jangan Abaikan Aftercare dan Proses Pemulihan
Hal lain yang menurut Dr. Enrina masih sering luput diperhatikan pasien adalah kontinuitas perawatan pascaoperasi, terutama bagi mereka yang melakukan bedah plastik di luar negeri atau memilih dokter yang tidak menetap di Indonesia.
"Bedah plastik bukan prosedur sekali jadi," katanya.
Ia menjelaskan, prosedur seperti facelift bisa membutuhkan pemantauan hingga enam sampai 12 bulan. Sementara tummy tuck memerlukan kontrol rutin pada beberapa minggu pertama masa pemulihan.
Karena itu, pasien perlu mengetahui apakah dokter yang melakukan operasi tetap tersedia jika suatu hari dibutuhkan revisi atau konsultasi lanjutan.
"Operasi yang sempurna dengan aftercare yang lemah akan memberikan hasil yang dikompromikan. Sebaliknya, aftercare yang teliti dapat menyelamatkan hasil yang awalnya tidak ideal," ujar Dr. Enrina.
Dr. Enrina juga mengingatkan bahwa proses pemulihan operasi estetik di negara tropis seperti Indonesia memiliki tantangan tersendiri. Paparan matahari dan kelembapan tinggi dapat memengaruhi kualitas penyembuhan luka, terutama pada pasien dengan kulit yang lebih rentan mengalami pigmentasi.
"Enam bulan pertama, bekas luka harus dilindungi seperti emas. Sunscreen SPF 50, pakaian tertutup pada area operasi, dan menghindari paparan matahari berlebih sangat penting," katanya.
Ia menegaskan, hal tersebut bukan sekadar saran kosmetik, melainkan bagian penting yang menentukan kualitas hasil akhir operasi plastik.













































