Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Viral! Wanita Ini Ubah Pelepah Pisang Kepok Jadi Bulu Mata Palsu

Gresnia Arela Febriani - wolipop
Minggu, 17 Mei 2026 07:00 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Beautiful Woman with long eyelashes in a beauty salon. Eyelash extension procedure. Cosmetology skin care
Ilustrasi bulu mata. Foto: Getty Images/iStockphoto/dimid_86.
Jakarta -

Saat produk kecantikan berbahan sintetis seperti bulu mata mendominasi pasar global, sebuah terobosan lahir dari tangan akademisi Universitas Negeri Padang (UNP). Ialah Dr. Vivi Efrianova, S.ST., M.Pd.T., dosen Departemen Tata Rias dan Kecantikan Fakultas Pariwisata dan Perhotelan UNP, sukses menyulap serat pelepah batang pisang kepok menjadi bulu mata palsu berkualitas tinggi.

Dr. Vivi mengungkapkan bahwa ide ini berawal dari keprihatinannya terhadap limbah plastik dan dampak buruk bahan kimia sintetis bagi kesehatan mata. Ia melihat potensi besar pada pelepah pisang kepok yang selama ini sering dianggap sebagai limbah pertanian tak bernilai.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

[Gambas:Instagram]

ADVERTISEMENT

"Produk bulu mata palsu yang terbuat dari serat pelepah batang pisang kepok dapat memberikan kontribusi yang signifikan pada keberlanjutan dan ramah lingkungan," ujar Dr. Vivi saat menjelaskan visi di balik risetnya dikutip dari situs resminya di Universitas Negeri Padang.

Keunggulan utama dari karya ini terletak pada kemiripan karakteristik serat pisang dengan rambut manusia, baik dari segi tekstur yang halus maupun kilau alaminya. Inovasi ini juga tidak hanya menawarkan estetika, tetapi juga menjawab tantangan keberlanjutan dan aspek kehalalan dalam industri kosmetik.

Dr. Vivi menekankan bahwa kenyamanan pengguna adalah prioritas utama. Karena bobotnya yang jauh lebih ringan dibanding bahan plastik, bulu mata ini diklaim tidak membuat mata lelah meski dipakai dalam waktu lama.

"Serat alami yang lebih ringan dan nyaman membuat pengguna dapat mengenakan bulu mata palsu ini dalam waktu yang lebih lama tanpa merasa tidak nyaman," tambahnya.

Selain faktor kenyamanan, sifatnya yang biodegradable (mudah terurai) menjadikan produk ini solusi nyata bagi para pencinta kecantikan yang ingin beralih ke gaya hidup zero waste. Dengan bahan yang murni berasal dari alam, produk ini juga memberikan rasa aman bagi konsumen Muslim karena terjamin kehalalannya untuk digunakan dalam aktivitas sehari-hari maupun saat beribadah.

Tantangan Produksi Bulu Mata Pelepah Pisang

Proses pembuatan bulu mata palsu dari pelepah pisang tidak sederhana. Serat pelepah pisang harus melalui serangkaian tahapan-mulai dari pemotongan, penyerutan, pencucian, penjemuran, hingga pewarnaan, sebelum akhirnya dirangkai secara manual dengan ketelitian tinggi menjadi bulu mata palsu yang siap digunakan.

Perjalanan inovasi ini juga tidak lepas dari tantangan. Ketersediaan bahan baku berkualitas menjadi kendala awal yang harus dihadapi. Untuk itu, Dr. Vivi menggandeng petani pisang lokal guna memastikan suplai serat terbaik sekaligus memberdayakan masyarakat.

"Salah satu tantangan awal adalah memastikan ketersediaan dan kualitas serat pelepah batang pisang kepok yang memadai. Kami bekerja sama dengan petani lokal untuk mendapatkan bahan terbaik," jelasnya.

Saat ini, produk bulu mata palsu dari pelepah pisang masih dalam tahap pengujian guna memastikan kualitas dan keamanan sebelum dipasarkan secara luas. Di saat yang sama, Dr. Vivi tengah mengajukan hak paten sebagai langkah perlindungan terhadap karya inovatif tersebut.

Lebih dari sekadar inovasi kecantikan, temuan ini membuka peluang ekonomi baru. Pemanfaatan pelepah pisang sebagai bahan baku memberikan nilai tambah bagi petani sekaligus mendorong praktik pertanian yang lebih berkelanjutan.

"Dengan bekerja sama langsung dengan petani lokal, kami tidak hanya mendukung ekonomi masyarakat tetapi juga mendorong pemanfaatan sumber daya yang berkelanjutan," ujarnya.

Ke depan, inovasi ini diharapkan tidak hanya menjadi alternatif produk kecantikan yang aman dan ramah lingkungan, tetapi juga menginspirasi lahirnya lebih banyak karya berbasis bahan alami yang berdampak luas bagi masyarakat.

(gaf/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads