Kisah Pendiri Brand Kecantikan Tinggalkan Harta Triliunan untuk Jadi Pastor
Dalam industri kecantikan, nama Scott-Vincent Borba dikenal sebagai salah satu beauty entrepreneur sukses di balik lahirnya e.l.f. Cosmetics. Brand makeup yang ia dirikan pada 2004 itu berkembang menjadi salah satu merek kecantikan populer dengan nilai bisnis diperkirakan mencapai US$3 miliar atau sekitar Rp 49 triliun.
Sukses jadi pengusaha, Scott justru mengambil arah yang sangat berbeda, 15 tahun kemudian. Ia memilih meninggalkan industri yang telah membesarkan namanya demi menjalani hidup sederhana sebagai calon pastor Katolik.
Pria 52 tahun tersebut diketahui telah melepas seluruh kekayaannya, mulai dari uang tunai, mobil mewah, hingga rumah pantai di California untuk disumbangkan ke badan amal. Keputusan besar itu datang setelah ia merasa hidupnya kosong meski berada di puncak kesuksesan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya seperti poster boy untuk kehidupan mewah," ujar Scott kepada ABC7, mengenang kehidupannya dulu saat menjadi petinggi e.l.f Cosmetics.
Brand yang merupakan singkatan dari 'Eyes Lips Face' itu ia dirikan bersama Alan dan Joseph Shamah. Dalam waktu singkat, e.l.f berkembang menjadi salah satu merek makeup populer dengan penjualan mencapai US$100 juta atau sekitar Rp 1,6 triliun pada 2014, menurut Forbes.
Scott sendiri sempat dikenal sebagai ahli kecantikan langganan selebriti Hollywood, termasuk Mila Kunis yang pernah mendapatkan perawatan wajah berlian senilai US$7,000 atau sekitar Rp 122 juta. Dia juga lekat dengan kehidupan pesta bersama figur publik seperti Paris Hilton dan Kim Kardashian.
e.l.f. Cosmetics. Foto: Dok. e.l.f. Cosmetics |
Namun di balik kehidupan glamor tersebut, Scott mengaku perlahan merasa lelah secara emosional.
"Saya berada di sebuah pesta dan merasa sangat, sangat tidak bahagia. Saya merasa kosong, benar-benar kosong. Saya lelah. Hidup seperti membakar lilin dari dua sisi," ungkapnya, seperti dilansir New York Post.
Titik Balik Hidup Scott-Vincent Borba
Scott-Vincent Borba. Foto: Instagram/@stpatrickssem |
Perasaan itu membuatnya mulai berdoa dan mempertanyakan arah hidupnya sendiri.
"Saya berkata, 'Tuhan, jika hidup hanya tentang bekerja, berpesta, lalu mengulanginya lagi sampai mati, maka ini bukan hidup yang Engkau siapkan untuk saya. Tapi saya hanya bisa berubah jika Engkau membantu saya,'" tuturnya.
Momen tersebut menjadi titik balik besar dalam hidupnya. Scott merasa terpanggil untuk meninggalkan seluruh kemewahan yang selama ini dimilikinya.
Awalnya ia mengira cukup dengan menjual mobil Aston Martin miliknya dan menyumbangkan hasilnya. Namun dirinya merasa panggilan spiritual itu meminta lebih dari sekadar sebagian kecil hartanya.
"Tuhan meminta saya melepaskan semuanya," ucapnya.
Kini, Scott menjalani hidup jauh lebih sederhana sebagai diakon dan seminaris di St. Patrick's Seminary, California. Tinggal di kamar kecil dengan dekorasi minim, hanya sebuah salib yang tergantung di dinding.
"Hidup saya sekarang benar-benar sederhana. Tapi saya belum pernah sebahagia ini sepanjang hidup saya," curhatnya.
Menariknya, panggilan untuk menjadi pastor ternyata sudah ia rasakan sejak kecil. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, ibunya pernah bertanya apakah ia ingin menjadi sosok berjubah di altar gereja.
"Saya melihat jubah pastor itu berkilau seperti glitter," kenangnya.
"Dan saat itu saya tahu Tuhan menaruh panggilan di hati saya untuk menjadi pastor."
Namun kala itu, ia memilih mengejar karier di dunia kecantikan dan pindah ke Los Angeles untuk membangun bisnisnya. Meski demikian, Scott percaya bahwa hidup akhirnya membawanya kembali pada jalan spiritual yang sejak lama menunggunya.
(hst/hst)












































