Jangan Asal Layering! 5 Kombinasi Skincare yang Tidak Boleh Dicampur
Merawat kulit tidak cukup hanya dengan memilih produk yang tepat, tetapi juga memahami cara mengombinasikan setiap kandungan di dalamnya. Tren layering skincare memang semakin populer karena dianggap mampu memberikan hasil yang lebih maksimal. Namun, tanpa pengetahuan yang cukup, mencampur berbagai bahan aktif justru bisa menimbulkan masalah baru pada kulit.
Alih-alih mendapatkan kulit sehat dan glowing, kombinasi yang tidak tepat dapat memicu iritasi, membuat kulit kering, hingga merusak skin barrier. Kandungan bahan dalam skincare memang ada yang baik digunakan dalam satu rangkaian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, ada pula bahan yang sebaiknya dipakai secara terpisah karena berisiko menimbulkan iritasi. Selain itu, kombinasi skincare yang tidak tepat juga dapat menghambat efektivitasnya. Karena itu, penting untuk selalu memperhatikan komposisi pada setiap produk sebelum melakukan layering skincare. Dengan memahami cara penggunaan yang tepat, kamu bisa memaksimalkan manfaat skincare tanpa khawatir efek samping.
Berikut lima contoh kombinasi bahan yang sebaiknya dihindari:
Retinol Foto: Getty Images/ayo888 |
1. Retinoid dengan Glycolic Acid (AHA)
Kombinasi retinoid (turunan vitamin A) dengan AHA dapat membuat kulit mengelupas. Elizabeth Bahar Houshmand, dokter kulit dari Dallas, menyatakan bahwa keduanya memiliki efek samping yang sama-sama berpotensi mengiritasi sehingga tidak cocok dikombinasikan.
Meski demikian, dengan penggunaan yang tepat dan tidak digunakan bersamaan, keduanya dapat menjadi andalan untuk mencegah penuaan dini. Gunakan retinoid dan AHA pada hari yang berbeda, khususnya di malam hari, agar kulit tampak lebih bercahaya dan bebas garis halus.
2. Retinoid dengan Benzoyl Peroxide
Fungsi retinoid sebagai anti-aging dapat terhambat jika digunakan bersama benzoyl peroxide. Brooke Sikora, dokter kulit di SkinCare Physicians, Massachusetts, menjelaskan bahwa benzoyl peroxide dapat menonaktifkan molekul retinoid.
Benzoyl peroxide sendiri berfungsi sebagai antiinflamasi untuk mengatasi peradangan dan jerawat ringan. Saat ini, terdapat formulasi retinoid baru seperti tretinoin yang dapat digunakan bersama benzoyl peroxide secara lebih aman. Namun, untuk pilihan yang lebih aman, gunakan benzoyl peroxide pada pagi hari dan retinoid pada malam hari.
3. Retinoid dengan Vitamin C
Vitamin C merupakan bahan yang sulit diformulasikan karena memiliki pH asam, sedangkan retinoid bekerja optimal dalam kondisi lebih basa. Oleh karena itu, keduanya tidak akan bekerja maksimal jika digunakan bersamaan.
Sebagai solusi, gunakan vitamin C pada pagi hari untuk melindungi kulit dari radikal bebas, dan retinoid pada malam hari karena dapat membuat kulit lebih sensitif terhadap sinar matahari.
4. Retinoid dengan Salicylic Acid (BHA)
Perbedaan Serum AHA dan BHA Foto: Getty Images/petrroudny |
Seperti halnya AHA, retinoid tidak disarankan digunakan bersamaan dengan salicylic acid (BHA) karena dapat membuat kulit menjadi lebih kering dan mudah iritasi. Meskipun keduanya memiliki manfaat anti-aging, penggunaan bersamaan justru berisiko merusak skin barrier dan membuat kulit tampak lebih tua.
5. Cleansing Soap dengan Vitamin C
Vitamin C atau ascorbic acid membutuhkan lingkungan yang asam dengan pH sekitar 3,5 agar dapat bekerja optimal pada kulit. Sementara itu, sabun pembersih umumnya memiliki pH lebih tinggi (basa). Karena itu, keduanya tidak cocok digunakan dalam satu rangkaian secara bersamaan.
Alih-alih melindungi kulit dari radikal bebas, kombinasi yang tidak tepat justru dapat mempercepat penuaan kulit. Selain itu, penggunaan bahan aktif yang sama atau tidak kompatibel juga berpotensi menimbulkan iritasi.
Sebaiknya, gunakan skincare secara terpisah sesuai kebutuhan kulit. Jika ragu, kamu bisa berkonsultasi dengan dokter kulit sebelum memasukkan produk tertentu ke dalam rutinitas skincare agar tetap aman dan efektif.
(eny/eny)














































