Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Tren 'Looksmaxxing' Pada Cowok Gen Z, Ketika Pria Mengejar Standar Kecantikan

Kiki Oktaviani - wolipop
Rabu, 08 Apr 2026 13:30 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Tren ‘Looksmaxxing’ Pada Cowok Gen Z
Foto: dok. TikTok
Jakarta -

Fenomena baru sedang ramai di kalangan cowok Gen Z yang kini semakin peduli dengan penampilan. Istilah looksmaxxing pun makin sering muncul di media sosial, merujuk pada berbagai usaha untuk meningkatkan penampilan fisik, mulai dari yang sederhana hingga ekstrem.

Dalam tren ini, para remaja laki-laki saling berbagi tips, memperhatikan detail wajah di depan cermin, dan mencoba berbagai cara agar terlihat lebih menarik. Sekilas terlihat seperti bagian dari self-improvement, tapi di balik itu, ada sisi lain yang mulai memicu kekhawatiran.

Dampaknya pun sudah terlihat. Data internal Meta menunjukkan bahwa Instagram dapat memperburuk citra tubuh pada 1 dari 3 remaja perempuan. Kini, efek serupa mulai dirasakan oleh laki-laki, hanya saja datang lebih belakangan. Laki-laki juga mulai menyerap pesan yang sama, bahwa penampilan sangat menentukan, baik dari influencer kebugaran maupun komunitas online yang membahas maskulinitas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal-hal yang dulu dianggap berlebihan kini mulai terasa biasa. Praktiknya beragam, dari yang ringan seperti merawat rambut, menggunakan facial wash eksfoliasi, atau menjaga pola makan, hingga yang lebih intens seperti pijat limfatik dan rutinitas skincare anti-aging sejak usia muda.

Namun di sisi lain, ada juga yang menempuh cara ekstrem demi mengejar penampilan ideal. Mulai dari penggunaan steroid dan testosteron, konsumsi beta karoten berlebihan hingga mengubah warna kulit, penggunaan obat penumbuh rambut terlalu dini, hingga menyuntikkan zat tertentu tanpa pengawasan medis. Bahkan, ada yang mencoba metode berbahaya seperti mengetuk wajah dengan benda keras agar rahang terlihat lebih tegas.

ADVERTISEMENT
Tren 'Looksmaxxing' Pada Cowok Gen ZClavicular, cowok yang disebut mempopulerkan tren ini di kalangan pria Foto: dok. TikTok

Fenomena ini juga melahirkan figur populer di internet, salah satunya Clavicular, influencer berusia 20 tahun yang dijuluki "ketua looksmaxxing". Ia memiliki ratusan ribu pengikut, pernah dibahas media besar, bahkan tampil di New York Fashion Week.

Pada akhirnya, tren ini mengarah pada masalah psikologis, di mana media sosial perlahan mengikis rasa percaya diri banyak orang, tanpa memandang gender atau usia. Ketika terus-menerus melihat standar kesempurnaan, sulit untuk tidak membandingkan diri sendiri.

"Hal ini benar-benar merusak harga diri pria dan anak laki-laki," kata Michael Halpin, profesor sosiologi di Dalhousie dan penulis utama studi yang diterbitkan dalam jurnal Sociology of Health and Wellness, seperti dikutip dari CBC.

"Mereka mengatakan hal-hal yang mengerikan, seperti: 'Tubuhmu menjijikkan.' 'Tidak akan ada yang mencintaimu.' 'Kamu tidak akan pernah mendapatkan pekerjaan.' 'Kamu akan menjadi orang gagal kecuali kamu melakukan perubahan besar pada penampilanmu,'" tambahnya.

Menurut Paul Davis, seorang pendidik tentang media sosial dan keamanan daring, orang tua dapat memainkan peran penting dalam mencegah anak-anak mereka terjerumus ke dalam ruang daring yang berbahaya seperti komunitas looksmaxxing. Salah satunya adalah jangan izinkan anak menggunakan media sosial sendiri, jangan izinkan anak punya telepon, tablet, komputer atau smart TV di kamar tidur mereka, dan bangun hubungan serta komunikasi yang baik dengan anak.

(kik/kik)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads