Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Kenikmatan Tanpa Makan: Mengapa Produk Kecantikan Aroma Dessert Jadi Tren?

Kiki Oktaviani - wolipop
Senin, 26 Jan 2026 05:30 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Produk kecantikan dessert
Produk kecantikan dessert Foto: Image generated by AI
Jakarta -

Produk kecantikan beraroma dessert tengah naik daun. Wangi vanila, karamel, susu, hingga pistachio kini hadir di parfum, body care, lilin aromaterapi, bahkan makeup. Menariknya, tren ini muncul bersamaan dengan kembalinya budaya diet dan obsesi tubuh kurus ala awal 2000-an.

Dua dekade lalu, aroma manis juga mendominasi industri kecantikan di tengah maraknya diet ekstrem. Setelah sempat mereda berkat gerakan body positivity di 2010-an, standar tubuh tersebut kembali menguat, didorong popularitas obat penurun berat badan seperti Ozempic dan Wegovy serta tren #Y2KSkinny di media sosial. Di tengah pembatasan makanan, industri kecantikan menawarkan kenikmatan alternatif lewat aroma.

Fenomena ini dikenal sebagai treat beauty, sensasi memanjakan layaknya dessert, tanpa dikonsumsi. Data Mintel mencatat peluncuran parfum bertema dessert naik 24 persen dibanding tahun sebelumnya. Aroma gourmand seperti vanila, madu, susu, dan pistachio kini merambah berbagai kategori dan segmen harga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


"Dari parfum hingga lilin, aroma ini membangkitkan memori makanan favorit," ujar Presiden Fragrance Foundation, Linda G. Levy.

Berbagai merek ikut meramaikan tren, dari lip tint rasa tiramisu hingga body care beraroma kue. Ahli nutrisi Jim LaValle menyebut tren ini berkaitan dengan kebutuhan mencari kepuasan saat asupan dibatasi.

ADVERTISEMENT

"Kini muncul 'kenikmatan terkontrol', boleh menikmati sesuatu selama tak memengaruhi tubuh," jelasnya.

Fenomena ini disebut hedonic substitution, saat otak mencari sumber kesenangan pengganti. Profesor Charles Spence dari University of Oxford menjelaskan, penciuman memicu respons dopamin kuat, bahkan sebelum makanan dikonsumsi.

Dokter Lauren Hartman, spesialis gangguan makan dan citra tubuh, menegaskan bahwa menyukai aroma makanan tidak serta-merta berbahaya.

"Yang penting konteksnya, apakah disertai pembatasan ekstrem atau rasa bersalah," ujarnya.

Namun, bahasa pemasaran berperan besar. Istilah seperti indulgent atau decadent membentuk asosiasi emosional tertentu.

"Label dan visual sangat memengaruhi cara otak merespons," kata neurosaintis Rachel Herz.

Psikoterapis Alegra Torel menambahkan bahwa produk bodycare beraroma kue bisa menggantikan keinginan makan kue. "Ini menciptakan ilusi kenikmatan tanpa kehilangan kontrol," jelasnya.

(kik/kik)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads