Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Para Ahli Ungkap 5 Bahan Skincare Paling Menjanjikan di 2026

Kiki Oktaviani - wolipop
Senin, 12 Jan 2026 10:30 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Ilustrasi kulit, skincare, sunscreen
Ilustrasi Foto: Getty Images/Jun
Jakarta -

Industri skincare terus bergerak cepat, dan 2026 diprediksi akan menjadi tahun di mana inovasi ilmiah semakin terasa nyata di di dunia perawatan kulit. Dari turunan mikrobioma hingga filter sunscreen generasi baru, para ahli dermatologi dan ilmuwan kosmetik mulai melihat pola bahan aktif yang akan banyak dibicarakan. Berikut lima bahan skincare yang disebut-sebut paling menjanjikan untuk 2026, berdasarkan pandangan para pakar.

1. Postbiotics

Setelah tren probiotik dan prebiotik, kini giliran postbiotics mencuri perhatian. Postbiotics adalah senyawa bermanfaat, seperti peptida, enzim, dan organic hyaluronic acid yang dihasilkan oleh bakteri baik setelah memakan prebiotik.

"Postbiotik memberikan manfaat yang dapat diukur tanpa masalah ketidakstabilan seperti pada probiotik hidup," ujar Dr. Dara Spearman, dokter kulit bersertifikat sekaligus pendiri Radiant Dermatology Associates di Indiana, seperti dikutip dari Forbes.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan bahwa postbiotik membantu memperkuat skin barrier, meningkatkan hidrasi, serta meredakan peradangan.
Senada, Dr. Erum Ilyas, dokter kulit bersertifikat dan profesor asosiasi di Drexel University College of Medicine, menambahkan bahwa postbiotik juga berpotensi meningkatkan elastisitas kulit dan membantu mengatasi jerawat dengan mengontrol produksi minyak.

2. Bemotrizinol Sunscreen

Bemotrizinol menjadi salah satu bahan sunscreen yang paling dinantikan. Filter UV spektrum luas ini sudah lama digunakan di Eropa dan Asia, dan diprediksi akan masuk pasar Amerika Serikat sebagai filter sunscreen baru pertama yang disetujui FDA dalam lebih dari 20 tahun.

ADVERTISEMENT

"Sebagian besar filter kimia fokus pada perlindungan UVB, sementara tidak semuanya efektif melawan UVA. Di sinilah bemotrizinol menonjol karena mampu bekerja sebagai multitasker," kata Valerie Aparovich, ahli biokimia dan kosmetolog bersertifikat di OnSkin.

Dr. Spearman menambahkan bahwa bemotrizinol sangat photostable, artinya tidak mudah rusak saat terpapar sinar UV. "Bahan ini juga dapat meningkatkan kinerja filter UV lain ketika diformulasikan bersama," jelasnya.

Ilustrasi skincareIlustrasi skincare Foto: Getty Images/heckmannoleg

3. Bioretinol

Bagi pemilik kulit sensitif yang kesulitan menggunakan retinol, bioretinol berbasis alga laut bisa menjadi alternatif menarik. Senyawa aktif ini meniru cara kerja retinol dalam merangsang kolagen dan mempercepat regenerasi sel, tetapi dengan risiko iritasi yang jauh lebih rendah.

"Bioretinol dari alga memiliki potensi besar," ujar Dr. Spearman.

Ia menyebutkan bahwa studi perbandingan awal menunjukkan bahan ini cocok untuk kulit sensitif atau rosacea yang tidak toleran terhadap retinoid konvensional. Aparovich juga menambahkan bahwa bahan ini dapat membantu meratakan warna kulit dengan mengurangi hiperpigmentasi dan menghambat produksi melanin.

4. Next Level Exosome

Exosomes sempat mendominasi dunia skincare dalam beberapa waktu terakhir, dan tren ini tampaknya belum akan mereda. Meski bukti klinisnya masih terbatas, exosome dinilai menjanjikan untuk efek anti-aging, anti-inflamasi, hingga potensi pertumbuhan rambut.

"Ke depannya, kita akan melihat formulasi exosome yang lebih canggih dan stabil untuk meningkatkan efektivitas," kata Dr. Ilyas.

Ia juga memprediksi pergeseran menuju exosome sintetis dan berbasis tanaman sebagai alternatif yang lebih aman dan berkelanjutan dibandingkan exosome yang berasal dari manusia.

5. Malachite

Malachite merupakan mineral alami yang kaya akan tembaga dan dikenal memiliki sifat antioksidan. Bahan ini mulai dilirik dalam dunia skincare karena potensinya dalam melindungi kulit dari berbagai agresor lingkungan.

"Studi in vitro menunjukkan bahwa malachite mampu melindungi kulit dari stres oksidatif yang dipicu oleh polusi dan paparan sinar UV," jelas Dr. Dara Spearman.

Stres oksidatif sendiri menjadi salah satu faktor utama di balik penuaan dini, hiperpigmentasi, kulit tampak kusam, hingga munculnya jerawat. Mengingat tembaga berperan penting dalam proses pembentukan kolagen, kandungan mineral ini pada malachite dinilai berpotensi mendukung produksi kolagen sekaligus membantu proses perbaikan jaringan kulit.

Meski menjanjikan, Dr. Spearman menekankan bahwa pemanfaatan malachite masih memerlukan dukungan data klinis yang lebih kuat.

"Apabila ke depannya tersedia formulasi yang lebih terstandarisasi dan telah melalui uji keamanan yang memadai, malachite berpeluang bertransformasi dari bahan niche menjadi ingredient arus utama dalam skincare," ujarnya.

(kik/kik)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads