Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Cerita Wanita yang Kapok Pencet Jerawat, Wajahnya Tiba-tiba Lumpuh

Kiki Oktaviani - wolipop
Minggu, 28 Des 2025 17:30 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Lindsay deOliveira
Lindsay deOliveira Foto: dok. TikTok
Jakarta -

Sebuah kebiasaan sepele yang sering dilakukan banyak orang, yakni memencet jerawat, berubah menjadi mimpi buruk bagi Lindsay deOliveira. Wanita 32 tahun asal Georgia, AS itu harus dilarikan ke rumah sakit setelah jerawat kecil di dekat hidungnya menyebabkan infeksi serius hingga membuat separuh wajahnya lumpuh sementara.

Kejadian itu bermula pada suatu pagi ketika Lindsay melihat jerawat kecil di area antara hidung dan bibir. Tampak tidak ada yang aneh. Seperti kebanyakan orang, ia memutuskan untuk memencetnya, berharap jerawat tersebut segera mengempis dan hilang.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Area di sekitar jerawat mulai membengkak dan kondisinya memburuk dengan cepat. Keesokan harinya, pembengkakan semakin parah. Ketika wajahnya mulai terlihat turun sebelah, Lindsay segera mendatangi layanan medis darurat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia sempat diberi antibiotik, namun kondisinya terus memburuk hingga ia harus kembali dua kali ke klinik kesehatan dalam sehari. Tiga hari setelahnya, Lindsay akhirnya dilarikan ke ruang gawat darurat rumah sakit.

Lindsay deOliveiraLindsay deOliveira Foto: dok. TikTok

"Saya sama sekali tidak menyangka situasinya akan berkembang sejauh ini. Rasanya itu hanya jerawat biasa. Setelah mandi, saya ingin jerawat itu hilang, jadi saya menanganinya seperti yang dilakukan kebanyakan orang," ungkapnya, seperti dikutip dari Daily Mail.

ADVERTISEMENT

Jerawat tersebut muncul di area wajah yang dikenal secara medis sebagai 'triangle of death' atau segitiga kematian, area yang membentang dari hidung hingga sudut-sudut mulut.

Area ini memiliki hubungan langsung dengan pembuluh darah menuju otak, sehingga infeksi yang masuk dapat berkembang dengan sangat berbahaya.

"Jerawat itu terlihat seperti jerawat biasa, berada di antara bibir dan hidung saya. Tidak ada yang tampak aneh sama sekali, itulah yang membuat kejadian ini terasa begitu tidak masuk akal," ujar Lindsay kepada NeedToKnow.

Di ruang gawat darurat, dokter awalnya mengira ia mengalami reaksi alergi karena pembengkakan pada wajah dan bibirnya sangat parah. Hasil pemeriksaan kemudian menunjukkan bahwa Lindsay mengalami selulitis, infeksi bakteri serius pada lapisan kulit bagian dalam. Kondisi ini dapat menyebabkan kemerahan, nyeri, panas, pembengkakan, dan berisiko menyebar ke aliran darah jika tidak segera ditangani.

Akibat infeksi tersebut, Lindsay tidak bisa menggerakkan separuh wajahnya. Dokter melakukan MRI untuk memastikan infeksi tidak menyebar ke sinus, mata, maupun otak. Para dokter kulit pun menegaskan kembali bahwa jerawat di area hidung dan mulut sebaiknya tidak dipencet, karena risiko infeksi serius, bahkan mengancam nyawa.

"Di IGD saya langsung diberikan dua jenis antibiotik dosis tinggi karena obat sebelumnya tidak bekerja," jelasnya

Dalam waktu dua jam setelah pengobatan, pembengkakan di wajahnya mulai berkurang drastis. Kini, Lindsay mengaku telah pulih sepenuhnya, hanya menyisakan bekas luka kecil di wajahnya.

Dari pengalaman traumatis tersebut, Lindsay menyampaikan peringatan tegas bagi siapa pun yang masih gemar memencet jerawat, terutama di area segitiga kematian.

"Tolong jangan lakukan itu. Saya tidak akan pernah melakukannya lagi," tegasnya.

(kik/kik)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads