Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Beauty Influencer Hellua Alami Resistensi Botox, Dokter Ungkap Faktanya

Kiki Oktaviani - wolipop
Senin, 24 Nov 2025 08:35 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hellua
Hellua Foto: Dok. Instagram @thelipstickmafiaaa
Jakarta -

Botox dikenal sebagai salah satu prosedur estetika paling populer untuk menghaluskan garis halus dan menjaga wajah terlihat segar. Meski prosedur kecantikan ini terbilang aman, namun ada kondisi yang dikenal dengan istilah resitensi botox atau hasil botox yang cepat hilang dan tidak lagi memberikan efek optimal.

Fenomena tersebut telah menjadi topik hangat di kalangan pecinta perawatan estetika. Termasuk beauty influencer Hellua (@lipstickmafiaaa), membagikan pengalaman pribadinya yang mengalami resistensi botox.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengungkap bahwa efek botox yang biasanya bertahan lama, kini hanya bertahan sekitar dua bulan. Dokter kecantikan dr. Arini Widodo, dokter estetika dan pendiri Dermalogia Clinic menjelaskan tentang fakta di balik resistensi botox.

Resistensi botox adalah kondisi ketika tubuh mulai membentuk antibodi terhadap botulinum toxin type A, zat utama yang membuat otot wajah rileks saat disuntikkan. Ketika antibodi terbentuk, efek botox melemah atau bahkan tidak bekerja sama sekali, meskipun dosisnya tetap diberikan.

ADVERTISEMENT

Beberapa faktor pemicu resistensi antara lain injeksi terlalu sering, terutama jika jaraknya kurang dari tiga bulan, dosis tinggi yang diberikan berulang-ulang dan respons imun tubuh yang berbeda pada tiap individu. Resistensi tidak muncul tiba-tiba. Biasanya efek botox mulai berkurang sedikit demi sedikit sebelum akhirnya kehilangan kekuatan sepenuhnya.

Ilustrasi Suntik BotoxIlustrasi Suntik Botox Foto: Getty Images/iStockphoto/Rat0007

Untuk mencegah resistensi botox, para ahli estetika menyarankan untuk memberikan jeda lebih panjang. Dokter biasanya menyarankan jarak setidaknya tiga bulan atau lebih untuk memberi tubuh waktu 'beristirahat'. Dengan interval yang cukup, risiko resistensi menurun dan efek botox dapat bertahan lebih lama.

Solusi lain dr. Arini adalah dengan melakukan prosedur Emface, yang merupakan perawatan noninvasif yang tidak menggunakan jarum ataupun toksin. Metode ini tidak hanya fokus pada kulit, tetapi juga pada otot wajah yang berperan dalam menopang bentuk wajah.

"Otot wajah adalah fondasi utama struktur wajah. Seiring bertambahnya usia, otot-otot ini melemah dan hal itu bisa membuat wajah tampak turun. Pendekatan non-invasif membantu mengaktifkan kembali otot dan jaringan kulit secara alami," jelas dr. Arini dalam rilis yang diterima Wolipop.

Meski hasilnya tidak secepat botox, namun Emface memiliki efek yang lebih stabil dan mendukung kesehatan kulit jangka panjang.

"Prosedur non-invasif menawarkan hasil yang bertahap tetapi konsisten, tanpa risiko efek samping dari toksin ataupun bahan asing," tambahnya.

Emface adalah teknologi perawatan wajah non-invasif yang menggabungkan Synchronized Radiofrequency (RF) dan HIFESTM dalam satu perangkat untuk mengatasi tanda penuaan tanpa jarum atau bahan asing.

Synchronized RF bertugas memanaskan dermis secara terkontrol untuk merangsang kolagen dan elastin, sehingga kulit lebih kencang dan elastis. Sementara itu, HIFESTM menstimulasi otot-otot wajah agar tonus, kekuatan, dan definisinya meningkat, mengimbangi pelemahan alami akibat usia. Hasilnya, kulit tampak lebih kencang, terangkat, dan wajah terlihat lebih segar secara menyeluruh.

(kik/kik)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Wolipop Signature
Detiknetwork
Hide Ads