Jadi Kontroversi, Ada Tes Keperawanan & Memperbaiki Selaput Dara di Inggris

Kiki Oktaviani - wolipop Senin, 30 Nov 2020 10:09 WIB
young woman with pregnancy test kit Foto: thinkstock
Jakarta -

Sejumlah klinik di Inggris menawarkan tes keperawanan. Tes tersebut menuai kontroversi karena menurut World Health Organization (WHO), memeriksakan keperawanan melanggar hak asasi manusia.

Dalam tes tersebut, seorang praktisi kesehatan memeriksa alat kelamin wanita apakah selaput dara masih utuh dan menentukan apakah dia telah melakukan hubungan seksual lewat vagina. Meski tes tersebut legal di Inggris, namun organisasi kesehatan dunia WHO dan PBB berjuang agar tes tersebut dilarang.

Tidak mungkin mengetahui apakah seorang wanita telah melakukan hubungan seksual dengan melihat selaput dara-nya, kata WHO. Tes tersebut pun dapat membahayakan kesehatan mental dan fisik wanita.

Menurut laporan BBC, ditemukan 21 klinik swasta di Inggris yang menawarkan layanan 'perbaikan keperawanan'. Ketika BBC bertanya, tujuh di antaranya membenarkan bahwa mereka menawarkan tes keperawanan yang dihargai antara 150 (Rp 2,8 juta) poundsterling hingga 300 poundsterling (Rp 5,6 juta).

Tes keperawanan ini kemudian jadi kontroversi karena di banyak kasus wanita dipaksa untuk melakukan pemeriksaan tersebut. Hal tersebut bisa dipaksa oleh orangtua, perusahaan tempat bekerja atau calon pasangan.

WHO menjelaskan bahwa bukti keperawanan terkadang diperlukan untuk pernikahan. Dalam beberapa budaya, konsep keperawanan menentukan kebajikan, kehormatan dan nilai sosial wanita.

"Praktik tersebut secara medis tidak diperlukan, dan seringkali menyakitkan, memalukan hingga membuat trauma," kata juru bicara dari WHO.



Simak Video "Arnold Schwarzenegger: Trump Presiden Terburuk yang Pernah Ada"
[Gambas:Video 20detik]
(kik/kik)