Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Survei Ungkap Fakta Ironis tentang Gen Z, Takut Berjabat Tangan

Hestianingsih Hestianingsih - wolipop
Jumat, 24 Apr 2026 18:00 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Ilustrasi Prancis
Foto: Thinkstock
Jakarta -

Survei terbaru mengungkap fakta mengejutkan tentang Gen Z. Anak muda masa kini ternyata cenderung takut berjabatan tangan dengan orang lain, sesuatu yang sebelumnya lumrah dilakukan.

Menurut penelitian, sebagian Gen Z merasa canggung untuk melakukan interaksi sosial sederhana, bahkan untuk sekadar berjabat tangan. Sekitar 24 persen remaja yang lahir antara 1997 hingga 2012 mengaku memilih menghindari gesture tersebut.

Lebih dari sepertiga responden juga menyebut bahwa mereka kesulitan melakukan kontak mata saat berbicara, sesuatu yang selama ini dianggap sebagai bentuk komunikasi dasar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kecemasan sosial tampaknya menjadi isu yang semakin umum. Sebanyak 75 persen responden mengatakan mereka merasa interaksi tatap muka cukup menantang.

Hal ini bahkan terlihat dalam situasi sehari-hari, mulai dari rasa enggan membuka pintu saat bel berbunyi, hingga menghindari telepon dari nomor tak dikenal. Basa basi pun menjadi sesuatu yang cenderung dihindari oleh sebagian besar dari mereka.

ADVERTISEMENT

Perubahan ini tidak hanya dirasakan oleh para remaja, tetapi juga disadari para orang tua. Banyak yang menilai generasi saat ini memiliki tingkat kepercayaan diri lebih rendah dibandingkan generasi sebelumnya.

Bahkan, sebagian besar percaya bahwa komunikasi digital seperti pesan teks dan emoji bisa menggantikan interaksi langsung. Tak sedikit pula yang mengaitkan fenomena ini dengan tingginya screen time atau waktu penggunaan layar ponsel.

Businessman shaking female hand above the table. Business agreement and partnership concept. Partners closing a deal, view over the shoulder. Formal greeting gesture, effective negotiationsIlustrasi berjabat tangan. Foto: Thinkstock

Terlalu sering berinteraksi di dunia digital dinilai membuat anak muda menjadi kurang nyaman saat harus berhadapan langsung dengan orang lain. Dr. Robert Harrison dari ACS International Schools -yang melakukan penelitian- menjelaskan bahwa sebenarnya kemampuan komunikasi Gen Z tidak hilang sepenuhnya, tetapi kepercayaan diri mereka yang mulai tergerus.

"Generasi ini tidak kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi. Namun, mereka berisiko kehilangan kepercayaan diri yang dibutuhkan untuk berkomunikasi secara efektif," ujarnya, seperti dilansir Female First.

Dr. Robert menambahkan bahwa peran institusi pendidikan sangat penting dalam membantu membangun kembali kepercayaan diri tersebut.

"Sekolah yang memahami hal ini dan langsung mengambil langkah akan mampu membekali siswa untuk berkembang di dunia nyata," katanya.

Di tengah perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan, kemampuan komunikasi manusia justru menjadi semakin berharga.

"Di saat kemampuan komunikasi manusia semakin penting, kita justru melihat generasi yang cenderung menghindarinya," lanjutnya.

Menariknya, banyak anak muda juga menyadari tantangan ini. Sebagian besar khawatir kecemasan sosial yang mereka alami bisa berdampak pada masa depan, meskipun hanya sedikit yang benar-benar merasa nyaman untuk menyampaikan pendapat secara terbuka.

Fenomena ini menjadi refleksi bahwa di balik kemudahan komunikasi digital, kemampuan untuk terhubung secara langsung tetap menjadi penting. Baik dalam hubungan personal, pertemanan, maupun profesional.

(hst/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads