4 Alasan Korban Pelecehan Seksual Tak Mau Lapor Polisi

Gresnia Arela Febriani - wolipop Minggu, 01 Mar 2020 15:21 WIB
ilustrasi wanita malu Foto: Dok. iStock
Jakarta -

Pelecehan seksual bisa dialami siapa saja terlepas dari jenis kelamin, umur, pendidikan, nilai-nilai budaya, nilai-nilai agama, warga negara, latar belakang, maupun status sosial. Namun yang memang sampai saat ini banyak terjadi adalah pelecehan seksual pada wanita.

Komnas Perempuan mengungkapkan ada 3.915 kasus pelecehan seksual di ranah publik atau masyarakat. 64% kekerasan terhadap wanita di Ranah Publik atau Komunitas itu adalah Kekerasan Seksual yaitu Pencabulan (1.136), Perkosaan (762) dan Pelecehan Seksual (394). Sementara itu persetubuhan sebanyak 156 kasus.


Sayangnya dari berbagai kasus pelecehan seksual yang dialami wanita di atas, hanya sedikir korban yang berani melapor dan menindaklanjutinya hingga ke ranah hukum. Korban yang mengalami pelecehan seksual lebih banyak yang memilih untuk diam dan dipendam sendiri pengalaman buruknya tersebut.

Psikolog Meity Arianty STP.,M.Psi., dan perwakilan komunitas perEMPUan, Rika Rosvianti, menjelaskan kenapa korban pelecehan seksual tak mau mengungkapkan kasusnya. Berikut ini berbagai penyebab korban pelecehan seksual cenderung diam alias tak melaporkan kejadian tersebut:

1. Korban Bukan Dilindungi Malah Dipublikasikan
Meity mengatakan korban pelecehan seksual di Indonesia pada umumnya bukannya dilindungi malah disebarluaskan atau disiarkan di mana-mana.

"Belum lagi media yang terus memberitakan dan mencari bahan untuk dikulik padahal psikologis korban sudah sangat rapuh menghadapi trauma pelecehan tersebut di tambah lagi dengan pemberitaan yang sudah ke mana-mana yang sebagian besar menyudutkan korban. Walau sebenarnya korban bisa saja minta ke penegak hukum untuk melindungi privacy-nya agar tidak di publikasikan, namun masyarakat kadang kurang percaya," ungkap Mei saat dihubungi oleh Wolipop, Minggu (1/3/2020).

2. Tidak Siap Menghadapi Proses Hukum
Selain itu, faktor lainnya yang menyebabkan korban enggan melapor karena mereka tidak siap menjalani proses hukum di Indonesia. Apalagi proses hukum ini biasanya berjalan lama.

"Sehingga lebih memilih menyimpan sendiri permasalahannya. Yang terjadi selama ini biasanya korban justru tidak siap menghadapi proses hukumnya karena dianggap belum tentu berpihak pada korban. Memang hukum agak sulit diprediksi namun sebenarnya hukum harus ditegakkan. Namanya mencari kebenaran tentu berbagi kemungkinan dapat terjadi sehingga "mental" korban memang harus dipersiapkan agar kuat menghadapinya," jelas Mei.

3. Korban Pelecehan Seksual Malah Dilaporkan Balik oleh Pelaku
Menurut komunitas perEMPUan, Rika Rosvianti, wanita enggan melaporkan kasus pelecehan seksual yang dialami karena biasanya malah mendapatkan False Accusation atau tuduhan palsu.

"Banyak korban kekerasan seksual yang kemudian malah dilaporkan balik dengan pasal pencemaran nama baik, karena dianggap tidak memiliki bukti yang cukup kuat," ujar Rika kepada Wolipop.


4. Belum Ada Undang-undang Pelecehan Seksual yang Spesifik
Seperti yang dikatakan oleh psikolog Meity, Rika juga menyayangkan proses hukum yang berlaku untuk korban pelecehan seksual. Menurutnya belum ada undang-undang pelecehan seksual yang spesifik mengatur kekerasan seksual terutama secara verbal.

"Belum ada payung hukum yang secara spesifik mengatur mengenai kekerasan seksual. Rujukan hukum yang selama ini digunakan untuk memproses kasus kekerasan seksual hanya bisa mengenali kekerasan seksual bila ada kontak fisik," ucap Rika.

Rika melanjutkan bahkan kekerasan seksual yang paling parah yakni pemerkosaan pun, definisinya hanya terbatas antara kelamin pria dan wanita.



Simak Video "Dinyinyir Kate Upton Soal Pelecehan Seksual, Saham Guess Anjlok"
[Gambas:Video 20detik]
(gaf/eny)