Ada Pria Tembak Mantan Pacar, Ini yang Terjadi pada Otak saat Cemburu

Hestianingsih - wolipop Senin, 12 Agu 2019 12:35 WIB
Ilustrasi penembakan mantan kekasih. Foto: Edi Wahyono Ilustrasi penembakan mantan kekasih. Foto: Edi Wahyono

Jakarta - Sepasang kekasih jadi korban penembakan di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, Minggu (11/8/2019). Seorang pria yang diketahui sebagai mantan kekasih sang wanita pun ditetapkan sebagai tersangka.

Seperti dilansir detikNews, penembakan yang membuat M Ramli Abdul Muis dan Widya Lestari terluka di area paha juga perut, dilatarbelakangi rasa cemburu. Tersangka Eki Yunianto disebut masih memendam rasa cemburu pada Widya dan sengaja memancing keributan.

Cemburu memang bisa membuat seseorang gelap mata dan berbuat nekat, seperti yang dilakukan Eki. Dalam dunia psikologi, cemburu didefinisikan dengan rasa takut dan marah, sebagai respons manusia untuk mempertahankan hubungan romantisnya dengan pasangan.


Psikoterapis William Berry, seperti dikutip dari Psychology Today menjelaskan lebih lanjut bahwa cemburu juga dipicu oleh rasa terancam, ketakutan akan kehilangan seseorang atau sesuatu. Pada pria, rasa cemburu berlebihan cenderung timbul lebih kuat ketika seseorang yang dia cintai sudah (atau terancam) dimiliki orang lain.

Menariknya, rasa cemburu yang timbul pada pria lebih disebabkan alasan biologis. Termotivasi oleh keinginan mereka untuk reproduksi alias memiliki keturunan. Saat pasangannya beralih ke orang lain, maka secara naluriah, ia merasa terancam proses reproduksinya terganggu.

Di samping itu rasa cemburu juga memicu peningkatan aktivitas syaraf pada bagian otak manusia yang berkaitan dengan ikatan pasangan dan sakit hati, bersamaan dengan naiknya level testosteron dan kortisol. Hal tersebut ditemukan lewat penelitian yang dilakukan University of California dan telah diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Ecology and Evolution.

Seperti diketahui, testosteron merupakan hormon seks pada pria, sementata kortisol adalah hormon stres. Rasa cemburu yang berlebihan akan membuat hormon-hormon tersebut melonjak dan akhirnya memicu seseorang berbuat nekat di luar batas nalar.


Dalam penelitian tersebut, para ilmuan melakukan eksperimen terhadap Coppery titi, spesies dari keluarga monyet. Tak seperti spesies mamalia lainnya, monyet Coppery titi hanya setia pada satu pasangan, alias monogami.

Monyet Coppery titi yang menjalani perkawinan monogami inilah yang kemudian dianggap peneliti memiliki korelasi terhadap rasa cemburu pada manusia, khususnya pria. Sebagai contoh, monyet jantan akan menjadi gelisah ketika berpisah dengan pasangannya.

Peneliti juga memperhatikan, ketika ada kesempatan, monyet titi jantan akan menggunakan fisiknya untuk menahan atau menghalangi pasangannya agar tidak berinteraksi dengan monyet jantan lainnya. Rasa cemburu ini juga diikuti dengan meningkatnya aktivitas pada cingulate cortex, pusat bagian otak yang beperan besar menimbulkan rasa malu.

Simak Video "Hati-hati dengan Rasa Cemburu!"
[Gambas:Video 20detik]
(hst/hst)