Liputan Khusus Foto Selfie

Selfie dan Narsis, Serupa Tapi Tak Sama

- wolipop Jumat, 07 Feb 2014 09:06 WIB
dok. Thinkstock dok. Thinkstock

Jakarta - Selfie diklaim sebagai kata yang paling banyak dipakai selama 2013 oleh kamus bahasa Inggris Oxford. Kepopuleran selfie tidak lepas dari para selebriti yang hobi memamerkan foto diri mereka di jejaring sosial seperti Instagram dan Twitter. Sebelum tren selfie booming, beberapa orang yang suka potret diri sendiri atau memamerkan barang-barangnya ke jejaring sosial disebut narsis. Lalu apa beda selfie dan narsis?

Menurut psikolog klinis dan forensik, Kasandra Putranto, selfie merupakan bagian dari narsis. Sedangkan narsis atau narsistik adalah prilaku mencintai diri sendiri yang berlebihan. Narsis tidak hanya pamer di jejaring sosial tapi juga ingin selalu menang sendiri, baik dengan orang lain maupun pasangannya.

"Selfie mewakili satu elemen narsistik, selfie kan prilaku memotret. Narsis adalah lebih kepada mencintai diri sendiri. Pamernya nggak cuma wajah, bahkan berhadapan dengan orang maunya menang sendiri, yang penting diri sendiri daripada orang lain. Itu kan narsis," jelas Kasandra kepada Wolipop di kantornya 'Kasandra & Associates', Jl. Kramat Pela, Jakarta Selatan, Selasa (4/1/2014).

Jadi tidak selamanya selfie berarti narsis. Bisa saja dia hanya selfie hanya untuk kesenangan sesaat. Sementara mereka yang narsis bisa menjadi seorang narsistik atau mengalami gangguan kepribadian. Penderita narsistik percaya bahwa mereka lebih unggul dan kurang memperhatikan perasaan orang lain. Namun di balik itu semua sebenarnya dia memiliki harga diri yang rapuh dan rentan terhadap kritik.

Sedangkan selfie bukan merupakan tandanya ada gangguan jiwa atau kepribadian. Psikolog yang meniti karier sejak 1997 itu menuturkan, belum ada penelitian bahwa orang-orang yang suka selfie juga memiliki gangguan kejiwaan.

"Sampai saat ini belum ada klasifikasi gangguan kejiwaan untuk masalah selfie. Tapi yang jelas ada karakteristik kepribadian, dimana orang-orang yang pendiam, tertutup, pemalu, tentu tidak akan melakukan itu," tambah psikolog lulusan Universitas Indonesia itu.

(aln/eny)