Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Viral Verificator

Viral Dari Iuran Rp 2.000/Hari, Warga Kampung di Yogya Ini Renovasi 165 Rumah

Gresnia Arela Febriani - wolipop
Jumat, 26 Jun 2026 07:00 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Aksi warga viral di Yogyakarta iuran Rp 2.000/hari untuk renovasi 165 rumah kumuh bantaran sungai. Kini gerakan mandiri ini sukses raih aset koperasi Rp 1,1 M.
Foto: Dok. Paguyuban Kalijawi
Yogyakarta -

Viral di media sosial, sebuah kisah inspiratif datang dari warga di Yogyakarta. Berawal dari iuran sukarela sebesar Rp2.000 per hari, warga yang bermukim di bantaran Sungai Winongo dan Gajahwong berhasil membedah dan merenovasi rumah-rumah mereka yang tidak layak huni.

Tanpa mengandalkan bantuan pemerintah sepenuhnya, mereka menginisiasi sebuah sistem arisan tabungan bergulir. Semangat kemandirian dan solidaritas ini terekam dalam sebuah unggahan di media sosial.

"Berawal dari iuran Rp 2.000 per hari, warga di bantaran Sungai Winongo dan Gajahwong, Yogyakarta, membangun sistem gotong royong untuk merenovasi rumah tidak layak huni di kampung-kampung padat penduduk. Program ini dijalankan Paguyuban Kalijawi sejak 2012, setelah warga kesulitan mengakses bantuan pemerintah karena tidak memiliki alas hak tanah," tulis keterangan akun Instagram @pandanganjogja dan @paguyuban.kalijawi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Inisiatif ini merupakan motor penggerak Paguyuban Kalijawi sejak 2012. Gerakan ini lahir dari keterbatasan, di mana banyak warga kesulitan mengakses program bantuan pemerintah karena alasan status kepemilikan tanah.

Awal mula gerakan ini mendapat dorongan dana hibah dari Asian Coalition for Housing Rights melalui Arkom Indonesia senilai Rp 300 Juta. Namun, disadari sepenuhnya bahwa dana tersebut tidak akan cukup untuk mengatasi masalah permukiman di belasan kampung tanpa kreativitas.

"Kami sepakati uang hibah itu tidak langsung dihabiskan untuk satu atau dua lokasi, melainkan digulirkan," ungkap Ainun Murwani, salah satu tokoh inisiator, seperti dikutip dari rekaman perjalanannya.

"Warga kami itu sangat menyukai sistem arisan. Maka, kami adopsi sistem arisan tabungan untuk tujuan pembangunan rumah," jelasnya.

Aksi warga viral di Yogyakarta iuran Rp 2.000/hari untuk renovasi 165 rumah kumuh bantaran sungai. Kini gerakan mandiri ini sukses raih aset koperasi Rp 1,1 M.Aksi warga viral di Yogyakarta iuran Rp 2.000/hari untuk renovasi 165 rumah kumuh bantaran sungai. Kini gerakan mandiri ini sukses raih aset koperasi Rp 1,1 M. Foto: Dok. Paguyuban Kalijawi

Secara teknis, warga diidentifikasi dan dikelompokkan ke dalam 16 kelompok di 14 kampung di bantaran Winongo, Gadjah Wong dan Code. Setiap dua bulan, dana tabungan kolektif warga yang dipadukan dengan subsidi dari dana hibah bergulir tersebut dicairkan. Dana tersebut diberikan sebagai modal stimulan senilai Rp3 juta per unit, yang cukup untuk memulai renovasi dasar.

Kekuatan gotong royong warga, membuat dana stimulan tersebut menjadi lebih efektif. Dengan sistem ini, Paguyuban Kalijawi tercatat sukses merenovasi 165 rumah dalam kurun waktu 20 bulan, dari tahun 2012 hingga 2014.

Aksi warga viral di Yogyakarta iuran Rp 2.000/hari untuk renovasi 165 rumah kumuh bantaran sungai. Kini gerakan mandiri ini sukses raih aset koperasi Rp 1,1 M.Aksi warga viral di Yogyakarta iuran Rp 2.000/hari untuk renovasi 165 rumah kumuh bantaran sungai. Kini gerakan mandiri ini sukses raih aset koperasi Rp 1,1 M. Foto: Dok. Paguyuban Kalijawi

Keberhasilan ini tidak lepas dari keyakinan warga yang terekam dalam materi kampanye: bahwa rumah itu tempat istirahat yang harusnya nyaman setelah lelah bekerja keras seharian, dan bahwa "menyelesaikan masalah permukiman itu dimulai dari rumah".

Meskipun berdampak positif secara nyata, inisiatif mandiri warga ini sempat mendapatkan tantangan administrasi dan dilaporkan ke Dinas Sosial karena dianggap sebagai penggalangan dana ilegal.

Namun, berkat proses diskusi, audiensi, dan fakta di lapangan yang kredibel, inisiatif ini justru berbalik mendapatkan dukungan penuh dan malah dinilai sebagai satu-satunya inovasi model ini di Yogyakarta. Untuk melegalkannya, warga kemudian sepakat bertransformasi menjadi Koperasi Simpan Pinjam Koperasi Jasa Kalijawi Mangayu Bagya.

Aksi warga viral di Yogyakarta iuran Rp 2.000/hari untuk renovasi 165 rumah kumuh bantaran sungai. Kini gerakan mandiri ini sukses raih aset koperasi Rp 1,1 M.Aksi warga viral di Yogyakarta iuran Rp 2.000/hari untuk renovasi 165 rumah kumuh bantaran sungai. Kini gerakan mandiri ini sukses raih aset koperasi Rp 1,1 M. Foto: Dok. Paguyuban Kalijawi

Lebih dari sekadar perbaikan rumah, transformasi organisasi ini juga melahirkan keberlanjutan ekonomi. Sisa dana operasional dari renovasi rumah terus diputar dan dikelola koperasi. Berkat manajemen yang baik, koperasi ini kini telah tumbuh menjadi institusi keuangan yang mengelola aset senilai Rp1,1 miliar, yang sepenuhnya dapat dimanfaatkan kembali oleh warga.

"Jadi Kalijawi itu bisa merenovasi 165 rumah dalam waktu 20 bulan dari 2012 sampai 2014. Namun, di tengah pelaksanaannya, kegiatan ini sempat dilaporkan ke dinas sosial karena dianggap melakukan penggalangan dana ilegal. Setelah dilakukan audiensi, kegiatan Kalijawi ternyata justru mendapat dukungan dan kemudian dilegalkan sebagai koperasi dengan Ainun sebagai ketuanya. Kami percaya bahwa menyelesaikan masalah permukiman itu dimulai dari rumah," pungkas Ainun, dikutip dari Instagram @pandanganjogja dan @paguyuban.kalijawi.

Unggahan gerakan warga yang bisa memberikan inspirasi tersebut sudah ditonton lebih dari 59,2 ribu kali dan mendapatkan sambutan positif dari warganet.

"Mba ainun dan tim koperasi..kalian keren sekalih 👏👏," kagum akun @weddewi.

"Saya sebagai warga jogja sangat bangga," salut akun @pl4t4b.

"Keren koperasinya tumbuh dari real problem dan mengakar di akar rumput, beda sama koperasi yang dipaksakan beediri dengan modal dari pusat itu.. Jogja istimewa memang 👏," takjub akun @_yulindradwi.

"🔥🔥koperasi yg lahir atas kebutuhan bersama dibangun oleh komunitas masy itu sdr yg paham betul apa yg menjadi kebutuhannya...kereeen❤️," timpal akun @desty_roosdiana.

Konfirmasi Wolipop

Di balik keberhasilan yang diraih saat ini, langkah awal Paguyuban Kalijawi tidaklah mulus. Ainun Murwani, selaku Ketua Paguyuban Kalijawi sekaligus Koperasi Jasa Kalijawi Mangayu Bagya, mengungkapkan bahwa mereka sempat menghadapi skeptisisme dan penolakan dari warga sendiri di awal program bergulir.

"Awalnya menolak, karena mereka takut uangnya dibawa lari, padahal sistem yang kami tawarkan tabungan dikelola kelompok. Setelah terkumpul 2 bulan Rp 1,2 Juta disetor ke Kalijawi dan kami cairkan Rp 3 Juta pada saat itu. Akhirnya karena ada contoh kelompok yang melakukan, baru mereka percaya dan tertarik," ungkap Ainun kepada Wolipop.

Mekanisme iuran Rp 2.000 per hari ini dirancang secara terstruktur untuk meringankan beban warga. Anggota tidak bergerak sendiri-sendiri, melainkan dihimpun dalam kelompok-kelompok kecil.

"Rp 2 Ribu per hari dikumpulkan di kelompok-kelompok kecil yang isinya 10 sampai 15 orang. Dua bulan disetor sejumlah Rp 1,2 Juta dan Kalijawi mencairkan Rp 3 Juta, jadi subsidi (hibah) Rp 1,8 Juta," sebut Ainun menjabarkan skema perputaran dana tersebut.

Menariknya, gerakan penataan permukiman ini justru digerakkan dan didominasi oleh kaum ibu. Berdasarkan data proposal kegiatan, sekitar 90% dari total 278 anggota Kalijawi adalah perempuan, dengan hanya 34 orang anggota laki-laki.

Saat ini, kekuatan tersebut tersebar ke dalam 29 kelompok kecil yang mencakup berbagai wilayah padat penduduk di sepanjang Sungai Gajahwong dan Winongo sejak diinisiasi pada 12 Juli 2012 silam.

Alasan utama pembentukan paguyuban ini berakar pada kesamaan nasib. Sebagian besar warga tinggal di kawasan padat dengan kendala rumah tidak layak huni, keterbatasan sanitasi dasar, hingga akses air bersih. Karena status lahan yang tidak memiliki hak (alas hak), mereka otomatis tidak bisa menyentuh program bantuan resmi dari pemerintah.

Tuntutan kebutuhan anggota inilah yang akhirnya mendorong Kalijawi bertransformasi secara legal menjadi Koperasi Jasa Kalijawi Mangayu Bagya demi memperjuangkan keamanan bermukim.

Sebagai koperasi jasa, entitas ekonomi Kalijawi kini tumbuh sangat profesional dan memiliki payung hukum yang luas. Di sektor usaha utama, mereka memegang berbagai lisensi KBLI yang legal untuk bergerak di bidang perdagangan eceran (minimarket tradisional), real estat, aktivitas arsitektur, desain interior, penunjang treatment air, hingga konstruksi gedung hunian serta sipil lainnya. Sektor-sektor ini terintegrasi langsung dengan kebutuhan pembangunan fisik kampung mereka.

Tidak hanya itu, mereka juga merambah sektor pendukung seperti jasa pramuwisata, serta memperkuat lini keuangan lewat Unit Simpan Pinjam (USP) Koperasi Primer. Guna menjaga roda organisasi tetap profesional, program pendidikan berupa diklat serta sertifikasi kompetensi pengurus berkala terus dijalankan.

Melalui kemandirian ekonomi tersebut, Kalijawi gencar melakukan langkah advokasi strategis kepada Pemerintah Daerah. Beberapa capaian penting mereka di antaranya adalah menyodorkan enam model perencanaan wilayah, mempelopori penataan wilayah dengan konsep M3K (Mundur, Munggah, Madhep Kali) di Mrican, melakukan advokasi penataan di Sidomulyo RT 26, hingga menjadi piloting proyek Rumah Deret di Notoyudan.

(gaf/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads