Liputan Khusus Hidup Minim Sampah

Inspiratif, Wanita Ini Olah Sampah Sayur dan Buah Jadi Pembersih Rumah

Gresnia Arela Febriani - wolipop Senin, 14 Sep 2020 17:00 WIB
Mae Rahayu Microgreens dan Toge (Sprout) yang ditanam Mae Rahayu. Foto: Dok. Instagram @the.punkvironment.
Jakarta -

Wanita bernama lengkap Mayang Mangri Rahayu atau biasa disapa Mae mulai hidup bebas sampah atau zero waste sejak 2017. Ia juga membuat eco enzyme yang bisa menjadi cairan multiguna mulai dari untuk rumah tangga, pertanian dan peternakan.

"Kita punya pembersih serba guna atau eco enzyme. Manfaatnya banyak. Itu jalan panjang manfaat kita bisa rasakan dari zero waste," ungkap Mae saat berbincang dengan Wolipop, Sabtu (12/9/2020).

Dikutip dari zerowaste.id, eco enzyme ini pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong yang merupakan pendiri Asosiasi Pertanian Organik Thailand. Gagasan proyek ini adalah untuk mengolah enzim dari sampah organik yang biasanya kita buang ke dalam tong sampah, menjadi pembersih organik. Eco enzyme adalah hasil dari fermentasi limbah dapur organik seperti ampas buah dan sayuran, gula (gula coklat, gula merah atau gula tebu), dan air. Warnanya coklat gelap dan memiliki aroma fermentasi asam manis yang kuat.

mae rahayuEco enzyme di rumah Mae Rahayu. Foto: Dok. Instagram @the.punkvironment

Pada dasarnya, eco enzyme mempercepat reaksi bio-kimia di alam untuk menghasilkan enzim yang berguna, menggunakan sampah buah atau sayuran. Enzim dari 'sampah' ini adalah salah satu cara manajemen sampah yang memanfaatkan sisa-sisa dapur untuk sesuatu yang sangat bermanfaat. Cairan ini bisa menjadi pembersih rumah, maupun sebagai pupuk alami dan pestisidia yang efektif.

Karena kandungan dari sampah organik, eco enzyme memiliki banyak cara untuk membantu siklus alam seperti memudahkan pertumbuhan tanaman (sebagai fertilizer), mengobati tanah dan juga membersihkan air yang tercemar. Selain itu eco enzyme bisa juga ditambahkan ke produk pembersih rumah tangga seperti shampo, pencuci piring, deterjen, dan lain-lain

Pembersih enzim ini 100% natural dan bebas dari bahan kimia, mudah terurai dan lembut di tangan dan lingkungan. Cairan ini juga bisa menjadi penolak serangga alami, sehingga semut, nyamuk dan lainnya menjauh. Saking alaminya, setelah digunakan untuk pel, cairan ini juga bisa dipakai untuk menyiram tanaman. Eco Enzyme juga dapat digunakan untuk merangsang hormon tanaman untuk meningkatkan kualitas buah dan sayuran dan untuk meningkatkan hasil panen.

Alasan Menjalani Gaya Hidup Zero Waste

Mae memilih menjalani gaya hidup zero waste dengan mengolah sampah sayur dan buah menjadi eco enzym dan meminilasiri penggunaan plastik bukan tanpa sebab. Pada 2017, wanita yang tengah menempuh pendidikan S-3 di jurusan teknik lingkungan ITB itu mengerjakan suatu kebijakan terkait sampah di Jawa Barat.

"Ketika aku mengerjakan satu project itu langsung sadar kita harus bergerak dari rumah. Karena ini masih jauh sekali. Ini harus di mulai dari kita. Bukan serta merta menyerahkan pemerintah melulu," katanya.

Mae juga menjelaskan kenapa dia begitu peduli dengan masalah sampah organik dan plastik. Karena berdasarkan apa yang dia ketahui, pengelolaan sampah yang belum benar di Indonesia membuat sampah semakin bertambah.

Mae Rahayu terapkan food wasteMae Rahayu membuat madu fermentasi. Foto: Dok. pribadi Mae Rahayu.

"Kenapa sampah organik dan plastik aku soroti? Karena background aku teknik lingkungan. Kalau ada reaksi kimia si plastik ini gawat dan plastik tidak larut kan? Nah reaksi kimia ini banyak membangkitkan reaksi lain yang ada di sistem TPS-nya. Penanganan sampah belum benar. Inilah yang mendorong aku untuk menjalani hidup mimim sampah," ucapnya.

Ada tiga cara yang dijalani Mae untuk mengurangi sampah. Tiga cara itu adalah zero waste, less waste dan circular economi from home.

"Kalau zero waste benar-benar 0 banget sampah ke TPA. Jadi 0 juga dijadikan recycle dan 0 dijadikan benda ekonomik. Kamu ingin mie? Kamu membuat mie sendiri," jelasnya.

Sedangkan less waste adalah cara untuk mengurangi sampah. Misalnya ada kemasan yang tidak dimasukkan ke bank sampah, akan digunakannya sebagai eco brick.

"Pokoknya meminimalisir ke bank sampah. Dalam less waste masih bergantung ke recycle. Kamu juga bisa hidup minimalis tidak bisa terpisahkan dari zero waste dan less waste. Dengan kita sudah menjalani hidup minimalis kita sudah menghindari sampah. Otomatis kita mikir sendiri barang apa yang mau kita gunakan pakai dan beli. Bagaimana cara mengelola sampah dapur dari A-Z. Jadi itu circular. Nggak boleh sampai ada yang terbuang ke TPA," tuturnya lagi.

Mae RahayuFoto: Instagram @the.punkvironment.

Menyebarkan Gaya Hidup Minim Sampah

Mae berbagi gaya hidup inspiratif minim sampah yang dijalaninya melalui akun Instagram @the.punkvironment. Pada akun Instagram tersebut dia berbagi resep olahan sampah.

"Tujuannya sebenarnya aku khusus untuk bagaimana kita memperpanjang usia sampah di dapur. Sehingga kita itu tidak cepat membuang kompos. Karena orang yang baru mulai zero waste itu kayak mikir, kompos aku cepat penuh," ujarnya.

Melalui Instagram tersebut Mae berbagi cara bagaimana mengolah sampah organik menjadi sesuatu yang bermanfaat sehingga tak berakhir di tempat sampah. Misalnya saja kerak nasi yang selama ini dianggap makanan yang pantas dibuang.

Mae Rahayu terapkan food wasteMae Rahayu dan tanaman hasil kompos. Foto: Dok. pribadi Mae Rahayu.

"Kerak nasi dibersihkan kita bisa masak lagi jadi kerupuk. Jadi keripik. Bisa buat burung dan pupuk. Circular tidak ada yang terbuang," katanya.

Contoh lainnya adalah akar bawang yang bisa ditanam lagi. Kemudian kulit sirsak dikatakannya bisa dibuat menjadi pembersih serba guna. Dan biji pepaya dapat dibuat sebagai masker atau sabun.

Buah nanas pun ternyata sesuai penjelasan Mae, bermanfaat mulai dari buah hingga kulitnya. "Kulit nanas bisa dijadikan tepache. Sisa ampasnya difermentasi jadi cuka selama sebulan. Setelah jadi cuka di fermentasi lagi jadi eco enzyme selama tiga bulan," ujarnya.

Mae Rahayu terapkan food wasteMae Rahayu memperlihatkan tepache yang ia buat dari kulit nanas. Foto: Dok. pribadi Mae Rahayu.

Selain sayuran buah, Mae juga berbagi tips cara mengolah udang, daging ayam dan ikan agar tak ada yang terbuang. Untuk daging ayam biasanya dia masak presto agar tulangnya lunak. Sedangkan tulang ikan bisa dibuatnya menjadi kaldu atau campuran makanan kucing.

"Lalu kulit udang, bisa dijadikan kaldu udang sebagai pengganti MSG atau penyedap makanan. Kamu keringin kulitnya masukin oven. Kamu jadikan kaldu untuk masak lain." ucap wanita 24 tahun itu.

Menjalani gaya hidup minim sampah dengan mengolah bahan yang oleh sebagian orang kerap dianggap sebagai sampah, Mae mengaku pernah mendapatkan komentar negatif. Ada orang yang menganggapnya jorok.

"Ada memang orang nge-judge mengumpulkan sampah itu dikira jorok. Tiba-tiba lagi fregmentasi malah dibuang. Tapi aku menyesuaikan itu. Jangan sampai dilihat kotor dan jorok sama orang lain. Jadi kita atur sendiri dengan rapi dan sebaik mungkin. Kalau ada komentar negatif jangan terlalu pedulikan. Atau bisa juga komunikasiin ke orang dengan ramah," pungkas Mae.

Mae RahayuMae Rahayu Foto: Instagram @the.punkvironment


Simak Video "Bulk Store, Toko Grosir yang Ramah Lingkungan"
[Gambas:Video 20detik]
(gaf/eny)