Dinda Hauw Nggak Bisa Bikin Mie Instan, Ini Alasan Milenial Tak Bisa Masak

Daniel Ngantung - wolipop Senin, 13 Jul 2020 14:52 WIB
gaya hijab dinda hauw Dinda Hauw mengaku tak bisa masak instan. Ternyata ada alasan kenapa para milenial tak tertarik belajar masak. (Foto: Instagram/@dindahw)
Jakarta -

Sorotan masih tertuju pada pengantin baru Dinda Hauw dan Rey Mbayang. Setelah bikin heboh karena menikah di usia muda, sejoli ini kembali jadi perhatian karena Dinda Hauw mengaku tak bisa masak.

Bintang film Surat Kecil Untuk Tuhan itu sempat mengunggah foto Rey Mbayang yang sedang membuatkannya mie instan di malam pertama pernikahan. Dinda Hauw pun mengungkapkan masak bukalah keahliannya. Bahkan untuk memasak nasi dan mie instan sekalipun perempuan 23 tahun itu tak bisa.

Unggahan tersebut lantas langsung ramai dibahas publik di medsos. Tak sedikit yang mencibir Dinda Hauw dan menuduhnya berbohong demi konten semata.

Crying man with pan on head on gray backgroundIlustrasi milenial malas masak. (Foto: Getty Images/iStockphoto)

Terlepas dari benar atau tidaknya, ketidaktahuan cara memasak masih menjadi masalah klasik bagi banyak orang, khususnya para generasi milenial seperti Dinda.

Seperti halnya yang terjadi di Amerika Serikat. Martha Stewart, presenter acara masak dan pengusaha wanita terkenal asal Negeri Paman Sam, mengatakan ada alasan tersendiri mengapa banyak perusahaan membidik pasar milenial.

"Kenapa milenial? Kami baru mengetahui bahwa mereka masih tinggal dengan orangtua. Mereka tidak punya inisiatif untuk keluar dan mencari apartemen kecil dan menanam tomat di teras," kata perempuan 78 tahun itu pada 2016 seperti dikutip Market Watch.

Crying man with pan on head on gray backgroundIlustrasi milenial malas masak. (Foto: Getty Images/iStockphoto)

Menurut Martha Stewart, milenial masih bergantung penuh pada orangtua. Segala sesuatu sudah disediakan orangtua, termasuk makanan, sehingga mereka tak terbiasa untuk menyiapkannya sendiri.

Kelly Weikel, direktur Technomic, sebuah konsultan pengamat konsumen, mengatakan, sebenarnya milenial memiliki keinginan untuk belajar masak. Hanya saja, mereka tidak memiliki panutan yang dapat mengajar masak.

Orangtua yang bisa masak disebut terlalu sibuk untuk mewarisi ilmunya kepada anak-anak. Menurut Weikel, waktu mereka kini lebih tersita di kantor. Apalagi emansipasi wanita membuat para ibu-ibu yang biasa dianggap lebih handal untuk urusan dapur, berkarya di luar rumah.

Sepasang keskasih di Restoran. Rengga Sancaya/ilustrasi/detikfotoIlustrasi anak milenial makan di Restoran. (Rengga Sancaya/ilustrasi/detikfoto)

Alhasil, milenial lebih tertarik makan di luar rumah, seperti restoran atau kafe. Menurut hasil survey Morgan Stanley terhadap 3.000 responden pada 2015, terungkap 53 persen milenial makan di restoran setidaknya seminggu sekali, dibanding dengan 43 persen generasi X atau baby boomers.

Di Indonesia, situasinya mungkin tak jauh berbeda. Meski tak ada data berapa banyak milenial Indonesia yang suka makan di luar, menjamurnya tempat tongkrongan baru (terutama sebelum pandemi COVID-19) bisa menjadi bukti.

Belum lagi, kehadiran layanan pesan makanan lewat penyedia jasa transportasi daring dengan berbagai penawaran menarik semakin menggiurkan para milenial. Ketimbang repot-repot masak, makanan favorit sudah bisa didapat hanya dengan menyentuh layar ponsel.



Simak Video "Generasi Jaman Now Pentingkan Karier Ketimbang Percintaan"
[Gambas:Video 20detik]
(dtg/dtg)